ALO Dokter.Pasien laki-laki berusia 44 tahun datang dengan denyut jantung 30 x/menit dan tekanan darah 70/40 mmHg. Pasien diketahui sengaja melakukan...
Pasien Overdosis Bisoprolol, Mana yang BUKAN terapi overdosisnya? - Diskusi Dokter
general_alomedikaDiskusi Dokter
- Kembali ke komunitas
Pasien Overdosis Bisoprolol, Mana yang BUKAN terapi overdosisnya?
Dibalas 24 Juli 2026, 08:11
dr.Elizabeth Anastasya
Dokter Umum
ALO Dokter.
Pasien laki-laki berusia 44 tahun datang dengan denyut jantung 30 x/menit dan tekanan darah 70/40 mmHg. Pasien diketahui sengaja melakukan overdosis bisoprolol dengan ditemukan 30 tablet dosis 5 mg hilang dari kemasan baru. Berikut yang BUKAN terapi overdosis terapi beta bloker?
Stay tuned! Jawaban polling akan tayang Jumat, 24 Juli 2026.
Dibuat 21 Juli 2026, 11:08
24 Juli 2026, 08:11
dr.Elizabeth Anastasya
Dokter Umum
ALO Dokter.
Jawabannya Salbutamol ya ✅
Tata laksana untuk overdosis beta bloker yaitu:
Terapi difokuskan untuk mengembalikan kontraktilitas dan denyut jantung. Karena beta bloker secara kompetitif menginhibisi beta reseptor, standar obat resusitasi (seperti epinefrin) yang sering membutuhkan dosis yang sangat tinggi untuk atasi blokade. Langkah Resusitasi Bertahap
Jika pasien mengalami bradikardi simtomatik atau hipotensi, klinisi melakukan langkah-langkah berikut sesuai urutan eskalasi:
1. Dukungan Awal & Atropin: 5 menit pertama.
Berikan bolus cairan IV standar (1–2 L) untuk mendukung preload. Berikan Atropin 0,5–1 mg secara IV (dapat diulang hingga dosis total 3 mg).
Catatan: Atropin sering kali tidak efektif pada toksisitas beta-blocker berat namun tetap menjadi standar awal.
2. Terapi Kalsium: Eskalasi Segera.
Berikan kalsium untuk memintas reseptor-beta dan meningkatkan kalsium intraseluler, sehingga memperbaiki kontraktilitas. Berikan Kalsium Klorida (10%) 10–20 mL melalui jalur vena sentral, atau Kalsium Glukonat (10%) 30–60 mL melalui jalur perifer.
3. Insulin Dosis Tinggi dengan Euglikemia (HDIE): Gold Standart.
Jangan menunggu hingga penggunaan vasopresor gagal. Insulin dosis tinggi bekerja sebagai inotropik yang kuat dengan mengalihkan metabolisme jantung dari asam lemak ke karbohidrat.
Bolus: 1 U/kg insulin reguler + 0,5 g/kg dekstrosa secara IV.
Infus: 0,5–1 U/kg/jam insulin reguler, disertai infus dekstrosa kontinu (D10% atau D50%) untuk mempertahankan kadar glukosa darah 100–200 mg/dL. Pantau kadar kalium dan glukosa secara ketat.
4. Infus Vasoaktif: Dukungan Simultan.
Mulai pemberian vasopresor untuk mempertahankan tekanan mean arterial pressure (MAP) sembari menunggu efek inotropik insulin mulai bekerja (yang dapat memakan waktu 15–60 menit). Norepinefrin atau Epinefrin lebih diutamakan. Dosis yang sangat tinggi mungkin diperlukan.
5. Terapi Penyelamatan: Syok Refrakter.
Jika pasien mengalami syok refrakter, pertimbangkan terapi Intravenous Lipid Emulsion (ILE)—terutama untuk obat-obatan lipofilik—atau lakukan jembatan terapi menggunakan Extracorporeal Membrane Oxygenation (ECMO) atau alat pacu jantung sementara.Glukagon: Glukagon (bolus IV 5–10 mg) sebelumnya sangat direkomendasikan karena kemampuannya menstimulasi produksi cAMP secara independen dari reseptor beta. Namun, pedoman terkini cenderung tidak lagi memprioritaskan penggunaannya dibandingkan HDIE, mengingat seringnya terjadi kelangkaan pasokan, risiko muntah hebat, serta timbulnya takifilaksis yang cepat (hilangnya efikasi obat dalam waktu singkat).
Mengingat sediaan glukagon dalam paket darurat hipoglikemia hanya berupa bubuk kering 1 mg, dan anda perlu 5–10 paket untuk dosis bolus dan hingga 10 paket per jam untuk infus; secara logistik, hal ini tidak realistis.
Jawabannya Salbutamol ya ✅
Tata laksana untuk overdosis beta bloker yaitu:
Terapi difokuskan untuk mengembalikan kontraktilitas dan denyut jantung. Karena beta bloker secara kompetitif menginhibisi beta reseptor, standar obat resusitasi (seperti epinefrin) yang sering membutuhkan dosis yang sangat tinggi untuk atasi blokade. Langkah Resusitasi Bertahap
Jika pasien mengalami bradikardi simtomatik atau hipotensi, klinisi melakukan langkah-langkah berikut sesuai urutan eskalasi:
1. Dukungan Awal & Atropin: 5 menit pertama.
Berikan bolus cairan IV standar (1–2 L) untuk mendukung preload. Berikan Atropin 0,5–1 mg secara IV (dapat diulang hingga dosis total 3 mg).
Catatan: Atropin sering kali tidak efektif pada toksisitas beta-blocker berat namun tetap menjadi standar awal.
2. Terapi Kalsium: Eskalasi Segera.
Berikan kalsium untuk memintas reseptor-beta dan meningkatkan kalsium intraseluler, sehingga memperbaiki kontraktilitas. Berikan Kalsium Klorida (10%) 10–20 mL melalui jalur vena sentral, atau Kalsium Glukonat (10%) 30–60 mL melalui jalur perifer.
3. Insulin Dosis Tinggi dengan Euglikemia (HDIE): Gold Standart.
Jangan menunggu hingga penggunaan vasopresor gagal. Insulin dosis tinggi bekerja sebagai inotropik yang kuat dengan mengalihkan metabolisme jantung dari asam lemak ke karbohidrat.
Bolus: 1 U/kg insulin reguler + 0,5 g/kg dekstrosa secara IV.
Infus: 0,5–1 U/kg/jam insulin reguler, disertai infus dekstrosa kontinu (D10% atau D50%) untuk mempertahankan kadar glukosa darah 100–200 mg/dL. Pantau kadar kalium dan glukosa secara ketat.
4. Infus Vasoaktif: Dukungan Simultan.
Mulai pemberian vasopresor untuk mempertahankan tekanan mean arterial pressure (MAP) sembari menunggu efek inotropik insulin mulai bekerja (yang dapat memakan waktu 15–60 menit). Norepinefrin atau Epinefrin lebih diutamakan. Dosis yang sangat tinggi mungkin diperlukan.
5. Terapi Penyelamatan: Syok Refrakter.
Jika pasien mengalami syok refrakter, pertimbangkan terapi Intravenous Lipid Emulsion (ILE)—terutama untuk obat-obatan lipofilik—atau lakukan jembatan terapi menggunakan Extracorporeal Membrane Oxygenation (ECMO) atau alat pacu jantung sementara.Glukagon: Glukagon (bolus IV 5–10 mg) sebelumnya sangat direkomendasikan karena kemampuannya menstimulasi produksi cAMP secara independen dari reseptor beta. Namun, pedoman terkini cenderung tidak lagi memprioritaskan penggunaannya dibandingkan HDIE, mengingat seringnya terjadi kelangkaan pasokan, risiko muntah hebat, serta timbulnya takifilaksis yang cepat (hilangnya efikasi obat dalam waktu singkat).
Mengingat sediaan glukagon dalam paket darurat hipoglikemia hanya berupa bubuk kering 1 mg, dan anda perlu 5–10 paket untuk dosis bolus dan hingga 10 paket per jam untuk infus; secara logistik, hal ini tidak realistis.
23 Juli 2026, 05:01
dr.Elizabeth Anastasya
Dokter Umum
Boleh nih dok diskusi di kolom komentar