Kontrasepsi apakah dapat berinteraksi dengan obat anti kejang - Diskusi Dokter

general_alomedika

Selamat pagi, TSMohon asupannya, untuk penderita epilepsi yang rutin mengonsumsi obat, apakah metode kontrasepsi yang tepat? Pil KB perlu dipertimbangkan...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Kontrasepsi apakah dapat berinteraksi dengan obat anti kejang

    11 Juni 2020, 09:38
    Anonymous
    Anonymous
    Dokter Umum

    Selamat pagi, TS

    Mohon asupannya, untuk penderita epilepsi yang rutin mengonsumsi obat, apakah metode kontrasepsi yang tepat? 

    Pil KB perlu dipertimbangkan karena dapat berintekasi dengan obat anti kejang.


    Saya mempunyai pasien riwayat epilepsi dalam pengobatan. Pasien juga mempunyai riwayat obstetri kurang baik, P3A0, namun 2 dari anak yang dilahirkan meninggal setelah dilahirkan. Pasien menginginkan melakukan KB, metode KB apa yang sebaiknya diberikan kepada pasien?

11 Juni 2020, 10:27
Selamat pagi, dok.

Saya bantu menjawab ya. Untuk kontrasepsi hormonal memang dapat berinteraksi dengan beberapa obat antiepileptik tertentu sehingga tidak disarankan. Yang disarankan bagi penderita epilepsi adalah kontrasepsi nonhormonal seperti IUD

Untuk panduan lebih lengkapnya bisa dibaca di jurnal berikut ya dok: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5683160/

Terima kasih
11 Juni 2020, 20:57
Trmksh
11 Juni 2020, 12:10
Alo, pertama-tama kita harus mengetahui apa saja obat-obatan anti epilepsi yang akan berinteraksi dengan kontrasepsi berbasis hormon. Obat-obatan tersebut adalah sebagai berikut:
- Carbamazepine
- Clobazam
- Lamotrigin dengan dosis per hari >300 mg
- Oxcarbazepine
- Fenobarbital
- Phenytoin
- Topiramate dengan dosis per hari >200 mg

Bila obat-obatan di atas diberikan kepada penyandang epilepsi, maka metode kontrasepsi yang disarankan adalah sebagai berikut:
- penggunaan metode barrier misal menggunakan kondom
- penggunaan IUD non hormonal
- kontrasepsi mantap: vasektomi & tubektomi

Bila penggunaan kontrasepsi hormonal tidak dapat dihindari, maka: 
- utamakan kontrasepsi hormonal yang bekerja dalam jangka panjang, seperti misalnya IUD hormonal, implan, dan KB suntik 3 bulan. Khusus untuk KB suntik, sebaiknya dipertimbangkan untuk mempersingkat waktu suntik menjadi setiap 2 sampai 2,5 bulan.
- pemberian pil KB dengan dosis yang lebih tinggi
11 Juni 2020, 12:48
Anonymous
Anonymous
Dokter Umum
Terima kasih dokter atas informasinya. Sangat bermanfaat 
13 Juni 2020, 04:57
Terima kasih sharingnya dokter
13 Juni 2020, 06:19
Alo dokter.
Mungkin bisa ditanyakan kepada pasien tujuan untuk kontrasepsi apakah menjarakkan atau tidak ingin hamil lagi.
Apabila menjarakkan, sebaiknya menggunakan IUD, karena kontrasepsi inilah yg minimal efek samping. Namun apabila tujuannya tidak ingin hamil lagi, mungkin bisa dipertimbangkan untuk tubektomi.