Mencegah infeksi menular seksual dengan mengedukasi pasien berisiko - Diskusi Dokter

general_alomedika

Saat ini ilmu kedokteran selain mengobati juga mencegah, namun kenapa sulit sekali untuk pasien ims merubah perilakunya?1. Banyak pasien yang tertular ims...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Mencegah infeksi menular seksual dengan mengedukasi pasien berisiko

    25 Desember 2019, 08:04

    Saat ini ilmu kedokteran selain mengobati juga mencegah, namun kenapa sulit sekali untuk pasien ims merubah perilakunya?


    1. Banyak pasien yang tertular ims seperti go, sìfilis, trichomonas, chlamydia dan keputihan terus menerus tapi sulit merubah perilaku berisiko gonta ganti pasangan baik laki laki maupun perempuan bolak balik terkena.


    2. Apakah boleh menyuntik antibiotik sebagai profilaksis seperti ceftriaxon, untuk pasien berisiko seperti wp?


    3. Yang parah pasien hiv juga masih banyak yang berhubungan tanpa pengaman, meskipun mungkin saat ini obat arv dapat menyebabkan penurunan risiko jika viral load rendah, undetected-untransmitable.


    Bagaimana pengalaman TS dalam mengedukasi pasien berisiko?


    Terimakasih.

26 Desember 2019, 09:21

Alo dokter..untuk memberantas IMS memang sulit ya dok karena berkaitan dengan pola hidup (seksual) masing-masing individu. Edukasi dan promosi kesehatan tentang IMS perlu dilakukan bukan hanya kepada pasien IMS tetapi juga ke berbagai kelompok masyarakat, bahkan semua kelompok agar masyarakat lebih aware akan bahaya IMS. 

Profilaksis antibiotik, yaitu benzathine penicillin G 2,4 juta unit dapat diberikan secara IM untuk semua pasien yang mempunyai kontak seksual dengan individu yang mempunyai kontak seksual dengan pasangan yang positif sifilis pada stadium primer, sekunder, atau latent awal dalam 90 hari pertama dengan regimen benzil benzatin penicillin G 2,4 juta IU intramuskular dosis tunggal.

Dokter dapat melihat link berikut sebagai referensi:

https://www.alomedika.com/penyakit/dermatovenereologi/sifilis/edukasi-dan-promosi-kesehatan

https://emedicine.medscape.com/article/229461-treatment#d9

26 Desember 2019, 10:07
dr. Fitri Utami SpDV
dr. Fitri Utami SpDV
Dokter Spesialis Kulit
Alo dokter.....pendapat saya yg terpenting adalah edukasi edukasi dan edukasi selalu pasien....baik penyakit sampai komplikasi....kemudian edukasi pola hub seksual dengan pelindung dan tidak berganti pasangan atau pencegahan dr sisi lain.

Sejauh ini saya blm pernah menggunakan profilaksis untuk kasus IMS...tp lebih dilakukan screening pada seluruh pasien resiko tinggi dan diobati sesuai hasil...begitu juga dengan pasangannya.

Pola masyarakat saat ini akan merasa aman dan tidak apa2 tidak pola sehat atau aman kl ada profilaksis....tetap kita tidak boleh mengedepankan profilaksis saja...tp lebih kearah edukasi pasien tentang bahayanya penyakit2 ini...
Terimakasih
28 Desember 2019, 00:36
Terimakasih dok
26 Desember 2019, 09:45
Untuk perilaku seksual memangbdibutuhkan support lebih dari sisi perilaku. Maka dari itu biasanya dalam lingkungan Panti Sosial, atau pusat rehab diberikan berbagai macam kegiatan yang bisa membantu mengurangi perilaku2 tersebut. Ada baiknya pasien seperti ini apabila konsultasi di faskes bisa dirujuk juva ke psikolog untuk mengurangi perilaku seks beresikonya muncul kembali 
26 Desember 2019, 18:18

Setuju dengan Pak Eduardus. M. Psi. Perilaku IMS sangat perlu menjadi concern dan dicari dasar dari behaviour hubungan beresiko yang menjurus ke pola pikir dan perlu kerjasama dengan psikolog.

28 Desember 2019, 00:40
Baik, terimakasih
28 Desember 2019, 00:41
Terimakasih Pak
26 Desember 2019, 18:18
26 Desember 2019, 10:07
Alo dokter.....pendapat saya yg terpenting adalah edukasi edukasi dan edukasi selalu pasien....baik penyakit sampai komplikasi....kemudian edukasi pola hub seksual dengan pelindung dan tidak berganti pasangan atau pencegahan dr sisi lain.

Sejauh ini saya blm pernah menggunakan profilaksis untuk kasus IMS...tp lebih dilakukan screening pada seluruh pasien resiko tinggi dan diobati sesuai hasil...begitu juga dengan pasangannya.

Pola masyarakat saat ini akan merasa aman dan tidak apa2 tidak pola sehat atau aman kl ada profilaksis....tetap kita tidak boleh mengedepankan profilaksis saja...tp lebih kearah edukasi pasien tentang bahayanya penyakit2 ini...
Terimakasih

Sepakat Dokter. Edukasi nomer satu.

26 Desember 2019, 23:25
Setuju dok.. beberapa pasien yang teredukasi dengan baik, mereka jadi ikut mengedukasi dan mengingatkan teman2 mereka dengan perilaku beresiko. Beberapa dengan gejala awal HIV jadi jera dan membatasi perilaku berisiko mereka. 
28 Desember 2019, 00:37
Terimakasih
28 Desember 2019, 09:31
Iya dok saya setuju,
Melalui aplikasi Alodokter saya juga sering mendapatkan pertanyaan mneegnai IMS, terutama kekhawatiran HIV, mereka cukup tau bahwa hubungan seksual yang beresiko bisa menyebabkan HIV, tapi tetap juga diulangi, terkadang user mengatakan ini bukan yang pertama kali dan sudah dengan orang yang berbeda, 
31 Desember 2019, 05:03
Terimakasih atas sharingnya ya dok
31 Desember 2019, 14:57

Alo Dok,

Izin sharing ya dok, mengubah perilaku apalagi yang sudah menjadi 'kebiasaan' tentu sulit ya dok, terutama jika terkait dengan kebutuhan materiil dan immateriil. Pencegahan tidak dilakukan dengan menyuntikkan antibiotik dokter, tapi dengan edukasi, pemakaian kondok atau abstinensia.

Mengenai HIV, setuju bahwa dengan ARV rutin maka viral load bisa rendah/sangat rendah namun juga tetap tidak disarankan untuk bergonta ganti pasangan. Penderita yang memiliki hubungan serodiskodan harus diedukasi dengan benar agar tidak menularkan pada pasangan dan pada anak (jika berencana memiliki anak). 

03 Januari 2020, 08:42
dr. Soeklola SpKJ MSi
dr. Soeklola SpKJ MSi
Dokter Spesialis Psikiater
Alo Dok,

Saya sepakat dengan TS lain mengenai dukungan sekitar juga memengaruhi perubahan kebiasaan.
Namun, tidak ada salahnya untuk menggali lebih jauh alasan, faktor yang mendasari sikap tersebut. Ingat setiap individu unik, sehingga memerlukan psikoedukasi yang berbeda dan lebih personal. Beberpa kali setelah saya melakukan psikoedukasi personal juga menemukan bahwa psikoedukasi sebelumnya dinilai kurang sesuai dengan dirinya, beberapa pasien juga merasa seperti dijadikan objek dan tidak didengarkan keluhan sesungguhnya.
Beberapa pasien juga nyatanya mengalami gangguan kejiwaan yang mendasari perilakunya seperti depresi, manik, anxietas, psikotik, bahkan demensia HIV. Maka penting untuk mencari faktor yang menjadi latar belakang pasien tersebut, termasuk memberikan penanganan lanjutan jika terdapat kondisi lain yang mendasari.

Semoga membantu.