Tetracaine Topikal Jangka Pendek Efektif untuk Tata Laksana Nyeri pada Abrasi Kornea – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Utami Noor Syabaniyah SpM

Short-Term Topical Tetracaine Is Highly Efficacious for the Treatment of Pain Caused by Corneal Abrasions: A Double-Blind, Randomized Clinical Trial

Shipman S, Painter K, Keuchel M, Bogie C. Short-Term Topical Tetracaine Is Highly Efficacious for the Treatment of Pain Caused by Corneal Abrasions: A Double-Blind, Randomized Clinical Trial. Ann Emerg Med. 2021. 77(3):338-344. https://doi.org/10.1016/j.annemergmed.2020.08.036 PMID: 33121832.

studiberkelas

Abstrak

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa pasien dengan abrasi kornea memiliki rasa sakit yang lebih rendah setelah mendapatkan tetracaine topikal jangka pendek dibandingkan dengan plasebo

Metode: Uji klinis acak tersamar ganda terhadap penggunaan tetracaine topikal dengan plasebo di unit gawat darurat. Terdapat sebanyak 118 pasien dewasa dengan abrasi kornea yang dirandomisasi untuk diberikan tetracaine topikal atau plasebo, diteteskan setiap 30 menit selama 24 jam. Luaran primer berupa total skor nyeri (numeric rating scale) yang dinilai pada pemeriksaan follow up 24-48 jam.

Hasil: Sebanyak 111 pasien diikutsertakan dalam analisis akhir; 56 pasien masuk dalam kelompok tetracaine dan 55 pasien dalam kelompok plasebo. Pada pemeriksaan follow up 24-48 jam pasca pemberian obat, didapatkan skor nyeri pada kelompok tetracaine (skor :1) lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan kelompok plasebo (skor:8). Pasien pada kelompok tetracaine menggunakan lebih sedikit hidrokodon dibandingkan dengan pasien kelompok plasebo. Kedua kelompok memiliki tingkat komplikasi yang sama.

Kesimpulan: Tetracaine topikal jangka pendek merupakan analgesik yang efektif untuk kasus abrasi kornea akut. Selain itu, penggunaan tetracaine topikal berkaitan dengan lebih sedikit kebutuhan hidrokodon dibandingkan dengan plasebo.

Tetracaine Topikal Jangka Pendek Efektif Untuk Tata Laksana Nyeri Pada Abrasi Kornea-min

Ulasan Alomedika

Abrasi kornea adalah kasus trauma mata yang paling sering didapatkan di unit gawat darurat (UGD). Obat anestesi topikal biasa digunakan pada kasus abrasi kornea untuk mengurangi nyeri saat pemeriksaan.

Saat ini, tata laksana abrasi kornea adalah eye patching, penggunaan lensa kontak terapeutik, pemberian antibiotik tetes, dan analgesik oral bila diperlukan. Penggunaan anestetik topikal untuk terapi abrasi kornea rawat jalan tidak dianjurkan oleh sebagian besar departemen UGD karena alasan keamanan. Penggunaan anestesi topikal jangka panjang telah dikaitkan dengan efek yang tidak diinginkan seperti terhambatnya penyembuhan luka, keratitis toksik, keratopati, abrasi kornea rekuren, dan abrasi kornea yang semakin luas.

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efikasi tetracaine topikal dengan plasebo dalam tata laksana nyeri pasien abrasi kornea di UGD.

Ulasan Metode Penelitian

Studi ini adalah sebuah uji klinis acak terkontrol dengan penyamaran ganda yang dilakukan di UGD komunitas urban di Oklahoma. Pasien yang diikutkan dalam studi adalah pasien abrasi kornea dengan rentang usia 18 hingga 80 tahun. Pasien dieksklusi jika memakai lensa kontak, memiliki riwayat pembedahan kornea, datang lebih dari 36 jam setelah terjadinya cedera, adanya benda asing yang terkontaminasi, atau mata sedang mengalami infeksi. Kriteria eksklusi lain adalah kehamilan, benda asing yang tertahan, cedera mata tembus, imunosupresi, alergi terhadap tetracaine, ketidakmampuan untuk menjalani follow up, ketidakmampuan untuk membaca dan berbicara dengan lancar dalam Bahasa Inggris atau Spanyol, atau cedera apa pun yang membutuhkan evaluasi oftalmologi segera.

Pasien dirandomisasi menggunakan komputer dengan rasio 1:1 untuk mendapat tetracaine atau plasebo. Pasien akan mendapat antibiotik tetes, beserta tetracaine atau plasebo yang diberikan sebanyak 1 tetes setiap 30 menit dalam 24 jam sesuai kebutuhan. Selain itu, pasien juga mendapat hidrokodon/paracetamol 7,5/325 mg dan diinstruksikan untuk mengonsumsi obat tersebut 1-2 tablet sesuai kebutuhan, setiap 6 jam, pada kondisi sangat nyeri.

Luaran primer yang dinilai adalah skala nyeri saat pemantauan. Sementara itu, luaran sekunder adalah kebutuhan analgesik oral.

Ulasan Hasil Penelitian

Pada follow up 24-48 jam, skor nyeri pasca pemberian obat tetes pada kelompok tetracaine lebih rendah dibandingkan dengan kelompok plasebo (skor 1 vs 8; p <0.001). Penggunaan analgesik hidrokodon pada kelompok tetracaine lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok plasebo. Selain itu, komplikasi  terapi didapatkan tidak berbeda bermakna antar kedua kelompok, yaitu 18% di kelompok tetracaine dan 11% di kelompok plasebo.

Luaran primer penelitian ini berupa skor nyeri numerik antara kelompok tetracaine dan plasebo. Hal ini sudah tepat karena salah satu cara untuk menilai efikasi analgesik adalah dengan membandingkan skor nyeri yang dialami pasien.

Penggunaan analgesik sistemik hidrokodon dalam penelitian ini sedikit kurang rasional karena sebenarnya sebagian besar nyeri pada kasus abrasi kornea dapat diatasi dengan pemberian analgesia ringan.

Sejumlah pasien di kelompok plasebo mengalami komplikasi berupa perburukan abrasi kornea dan akhirnya dirujuk ke dokter spesialis mata untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Proses penyembuhan kornea pasca abrasi diawali dengan migrasi epitel yang terjadi 24-36 jam pasca abrasi kornea; dilanjutkan dengan proliferasi epitel dan epitel re-attachment. Pada kasus dengan abrasi yang lebih dalam, penyembuhan bisa memakan waktu 72 jam. Penelitian ini hanya mengambil waktu follow up cukup singkat, yaitu dalam 48 jam. Untuk mengetahui komplikasi yang mungkin terjadi dalam waktu yang lebih lama, sebaiknya dilakukan follow up tambahan dalam 1 minggu dan 1 bulan pasca pemberian obat.

Kelebihan Penelitian

Kelebihan dari penelitian ini adalah metode penelitian yang digunakan yakni uji klinis acak tersamar ganda sehingga dapat meminimalisir bias. Selain itu, penelitian ini melengkapi penelitian sebelumnya mengenai efikasi obat anestesi topikal dalam tata laksana nyeri, serta didapatkan efikasi dan tolerabilitas yang baik dibandingkan dengan plasebo.

Limitasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada kasus abrasi kornea sederhana sehingga hasil tidak dapat diaplikasikan untuk kasus abrasi kornea yang lebih kompleks, seperti kasus yang disertai infeksi, benda asing kornea yang terkontaminasi, atau pada pasien yang datang ke UGD 36 jam setelah kejadian.

Meskipun diterapkan penyamaran (blinding) pada pasien, namun kemasan obat yang berbeda antara tetracaine dan plasebo dan efek obat tetracaine yang menimbulkan rasa seperti terbakar saat diteteskan dapat menimbulkan bias.

Keterbatasan lain adalah waktu follow up yang kurang panjang. Salah satu kekhawatiran yang ditimbulkan dengan penggunaan anestesi topikal dalam kasus abrasi kornea adalah gangguan penyembuhan. Penyembuhan pada abrasi kornea bisa memakan waktu beberapa hari, sehingga sebaiknya pemantauan pada studi ditambah dengan pemantauan setelah 1 minggu dan 1 bulan.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Penelitian ini menunjukkan bahwa anestesi topikal dapat memberi efek antinyeri yang baik dalam kasus abrasi kornea. Selain itu, dalam pemantauan jangka pendek, pemberian tetracaine nampaknya memiliki profil keamanan yang baik dan tidak berhubungan dengan peningkatan risiko komplikasi. Oleh karenanya, hasil penelitian ini berpotensi diterapkan di Indonesia sebagai bagian dari manajemen nyeri dalam kasus abrasi kornea. Meski demikian, dokter umum jaga UGD di Indonesia memiliki kompetensi hanya sampai tahap 2 (diagnosis) untuk kasus abrasi kornea sehingga tata laksana akan dilakukan oleh dokter spesialis mata.

Referensi