Point-of-Care Ultrasonography untuk Diagnosis Ablatio Retina

Oleh :
dr. Utami Noor Syabaniyah SpM

Beberapa tahun terakhir, point-of-care ultrasonography (POCUS) mulai digunakan untuk diagnosis ablatio retina di unit gawat darurat (UGD). Ablatio retina merupakan kegawatdaruratan yang memerlukan tata laksana segera karena penundaannya dapat menyebabkan kebutaan permanen.

Keberadaan POCUS yang dapat dilakukan dengan cepat oleh dokter UGD berperan penting pada kondisi di mana tidak ada dokter spesialis mata. Selain itu, POCUS dapat membantu dokter UGD untuk memastikan pilihan rujukan yang tepat ke dokter spesialis mata, terutama pada lokasi-lokasi di mana pasien perlu bepergian cukup jauh untuk menemui dokter spesialis mata.

shutterstock_1660283878-min

Gejala yang sering dikeluhkan oleh pasien ablatio retina adalah flashes (kilatan cahaya), floaters, penglihatan tiba-tiba buram, atau mata terasa seperti tertutup tirai. Sekitar 10–26% pasien yang datang ke UGD dengan keluhan flashes dan floaters dilaporkan mengalami ablatio retina. Namun, gejala serupa juga dapat dijumpai pada perdarahan vitreus dan posterior vitreous detachment (PVD).

Kemampuan klinisi untuk membedakan ketiga diagnosis ini berperan penting karena pasien ablatio retina memerlukan penanganan segera oleh dokter spesialis mata, sedangkan pasien perdarahan vitreus dan PVD dapat dipulangkan dengan follow-up ketat oleh dokter spesialis mata yang bisa dilakukan secara rawat jalan.[1,2]

Sekilas tentang Diagnosis Ablatio Retina

Pemeriksaan baku emas untuk diagnosis ablatio retina adalah funduskopi pupil lebar menggunakan oftalmoskopi indirek. Namun, pemeriksaan ini sulit dilakukan di UGD karena keterbatasan peralatan dan sumber daya manusia yang ahli. Pemeriksaan yang biasanya tersedia di UGD adalah oftalmoskopi direk. Oftalmoskopi direk ini dapat mendeteksi perdarahan vitreus tetapi tidak memadai untuk pemeriksaan retina lengkap karena iluminasi dan magnifikasi yang mungkin terbatas serta tidak adanya stereopsis.

Kendala-kendala ini menyebabkan point-of-care ultrasonography (POCUS) okular mulai digunakan sebagai alternatif untuk memeriksa segmen posterior mata, termasuk untuk mendiagnosis ablatio retina. POCUS menggunakan mesin ultrasound portable yang bisa dilakukan di bedside dengan cepat, aman, dan noninvasif oleh dokter UGD yang sudah terlatih. Hal ini tentu bermanfaat karena dokter spesialis mata tidak selalu ada di fasilitas UGD, terutama di luar jam kerja.[1-4]

Akurasi Point-of-Care Ultrasonography untuk Diagnosis Ablatio Retina

Studi mengenai akurasi POCUS untuk mendiagnosis ablatio retina pada setting UGD telah banyak dilakukan. Sensitivitas dan spesifisitas yang dilaporkan beragam, tetapi mayoritas studi menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Studi Kim et al

Kim et al melakukan studi terhadap 115 pasien dan melibatkan 30 operator USG yang heterogen (dokter konsultan, dokter umum, dan residen). Sebelumnya, semua operator diberikan pelatihan didactic course POCUS selama 1 jam. Hasil yang didapat adalah sensitivitas dan spesifisitas POCUS sebesar 75% dan 94%.[5]

Studi Laham et al

Laham et al melakukan uji diagnostik prospektif pada tahun 2016–2018 pada 4 UGD di California, Amerika Serikat. Penelitian tersebut diikuti oleh 225 pasien yang datang ke UGD dengan keluhan flashes dan floaters. POCUS dilakukan oleh dokter umum, dokter emergency, dan residen yang sebelumnya diberi kuliah selama 30 menit dan pelatihan hands-on selama 30 menit.

Penelitian ini menunjukkan bahwa POCUS memiliki sensitivitas sebesar 96.9% (95% CI= 80.6%-99.6%) dan spesifisitas sebesar 88.1% (95% CI=81.8%-92.4%) untuk mendiagnosis ablatio retina. Sedangkan untuk PVD, POCUS memiliki sensitivitas 42.5% (95% CI= 24.7%-62.4%) dan spesifisitas 96% (95% CI=91.2%-98.2%).[1]

Studi Gottlieb et al

Gottlieb et al melakukan meta analisis terhadap 11 studi yang terdiri dari 844 pasien. Operator POCUS pada studi ini adalah radiologis dan dokter emergency. Berdasarkan studi ini, POCUS memiliki sensitivitas 94.2% (95% CI= 78.4%-98.6%) dan spesifisitas 96.3% (95% CI = 89.2%-98.8%) untuk mendiagnosis ablatio retina.

Prevalensi ablatio retina pada studi ini adalah 7–53.8%. Bila menggunakan prevalensi tertinggi (53.8%), posttest probability hasil POCUS positif adalah 96.7%, sedangkan posttest probability hasil POCUS negatif adalah 6.5%. Artinya, pemeriksaan POCUS yang positif akan sangat mendukung diagnosis ablatio retina, sedangkan pemeriksaan POCUS yang negatif tidak dapat mengeksklusi (rule-out) ablatio retina.[2]

Namun, bila menggunakan prevalensi terendah (7%), posttest probability hasil POCUS positif adalah 65.4%, sedangkan untuk POCUS negatif adalah 0.4%. Hal ini berarti bahwa pemeriksaan POCUS yang positif belum bisa mengonfirmasi diagnosis ablatio retina, tetapi pemeriksaan POCUS yang negatif dapat mengeksklusi (rule-out) ablatio retina. Hasil yang bertolak belakang ini menunjukkan bahwa akurasi POCUS akan tergantung pada pretest probability.

Studi Propst et al

Studi terbaru mengenai POCUS dilakukan oleh Propst et al pada tahun 2020. Propst et al melakukan meta analisis terhadap POCUS yang dilakukan oleh dokter emergency dalam 9 studi (1189 pasien). Hasil menunjukkan bahwa sensitivitas dan spesifisitas POCUS untuk mendiagnosis ablatio retina adalah 0.94 (95% CI, 0.88-0.97) dan 0.94 (95% CI, 0.85-0.98).[6]

Limitasi Point-of-Care Ultrasonography untuk Diagnosis Ablatio Retina

Kekurangan POCUS adalah kesulitannya untuk membedakan ablatio retina dan posterior vitreous detachment (PVD). POCUS juga terbatas dalam mendiagnosis retinal tear (sensitivitas hanya 48% dalam mendeteksi retinal tear), padahal retinal tear merupakan salah satu penyebab ablatio retina.

Selain itu, akurasi POCUS juga sangat tergantung pada keterampilan operator. Bila operator kurang terlatih, pasien dengan keluhan floaters ataupun flashes onset baru sebaiknya dirujuk ke dokter spesialis mata untuk evaluasi retina meskipun pemeriksaan POCUS mungkin memberikan hasil negatif ablatio retina.[2,5,6]

Kesimpulan

Berdasarkan bukti medis yang ada, POCUS memiliki sensitivitas antara 75–96.9% dan spesifisitas antara 88.1–96.3% untuk mendiagnosis ablatio retina. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh dokter UGD yang terlatih dan terutama bermanfaat untuk kondisi di mana tidak ada dokter spesialis mata untuk melakukan oftalmoskopi.[1,2]

POCUS dapat dilakukan di bedside dengan cepat, aman, dan noninvasif. Namun, kekurangannya adalah akurasinya yang sangat tergantung pada keterampilan operator dan kesulitannya untuk membedakan ablatio retina dengan PVD. Bila operator belum terlatih untuk melakukan POCUS, pasien dengan flashes dan floaters yang dicurigai mengalami ablatio retina tetap disarankan untuk dirujuk ke dokter spesialis mata untuk evaluasi lebih lanjut.

Referensi