Bedak Talc dan Risiko Kanker Ovarium

Oleh :
dr. Agnes Tjakrapawira

Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan bedak talc meningkatkan risiko kanker ovarium. Bedak talc merupakan bedak bubuk yang banyak ditemukan pada produk bayi. Produk bayi tersebut sering digunakan oleh orang dewasa, khususnya perempuan, pada daerah yang mudah berkeringat seperti daerah kewanitaan. Pemakaian biasanya dilakukan dengan cara menaburkan langsung pada daerah kewanitaan, serta menaburkan pada pakaian dalam, pembalut, atau pada tampon untuk daerah genital. Pemberian ini ditujukan agar kulit tetap kering, mengurangi gesekan, mengurangi bau, dan mencegah ruam.[1-6]

Bedak talc sering kali mengandung mineral. Hal inilah yang diduga menyebabkan efek karsinogenik.[1,3,5,7]

shutterstock_310278755.eps-min

Meningkatnya Kekhawatiran Terkait Kanker Ovarium akibat Penggunaan Bedak Talc

Selama ini, sebetulnya berbagai studi tentang kanker ovarium dan penggunaan bedak talc pada daerah genital hanya mengarah pada kesimpulan adanya kemungkinan bahwa bedak talc bersifat karsinogenik.[6,7] Namun, penggunaan bedak talc kini menimbulkan kekhawatiran, karena kasus pengadilan yang terjadi pada perusahaan multinasional Amerika yang menjadi produsen peralatan medis, farmasi, dan barang konsumen pada tahun 2018. Dalam kasus ini, gugatan menyatakan bahwa produk bedak tabur dari perusahaan tersebut mengandung asbestos yang bersifat karsinogenik sehingga menyebabkan kanker ovarium pada salah satu konsumennya. Kasus tersebut dimenangkan oleh penggugat dan menyebabkan kerugian besar terhadap produsen.[1,2,8]

Asbestos merupakan senyawa yang bersifat karsinogenik. Senyawa ini telah diketahui menyebabkan kanker paru dan mesothelioma.[2] Beberapa teori menyatakan bahwa asbestos yang terkandung pada bedak talk dan masuk ke dalam vagina dapat naik ke rahim dan melewati tuba falopi, sehingga mempengaruhi ovarium dan menyebabkan kanker.[2,3,7,9]

Bukti Ilmiah Terkait Penggunaan Bedak Talc dan Risiko Kanker Ovarium

Pada tahun 2016, Cramer et al melakukan studi kasus kontrol untuk mengetahui lebih dalam hubungan antara penggunaan bedak talc dan kanker ovarium. Mereka melakukan analisis pada 2041 kasus kanker ovarium dan 2100 kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan bedak talc dapat meningkatkan risiko kanker ovarium sebanyak 1,3 kali lipat. Risiko ini dilaporkan semakin meningkat dengan semakin lama penggunaan.

Pada studi tersebut, Cramer et al melaporkan bahwa wanita yang menggunakan bedak talc cenderung berusia lebih tua, memiliki berat badan lebih tinggi, menderita asthma, dan mengonsumsi analgesik secara reguler, namun tidak ada satupun faktor ini bersifat sebagai confounding. Penggunaan talc juga dilaporkan lebih berkaitan dengan tumor serosa invasif endometrioid, dan tumor borderline serosa mucinous.[6]

Pada tahun 2018, sebuah tinjauan sistematik dan meta analisis dilakukan terhadap 24 studi kasus kontrol dan 3 studi kohort untuk mengetahui hubungan antara penggunaan bedak talc dan risiko kanker ovarium. Studi ini menemukan peningkatan risiko kanker ovarium sebesar 1,22 kali pada pasien yang menggunakan bedak talc genital. Tetapi, heterogenitas data menyebabkan hubungan kausal antara keduanya tidak dapat disimpulkan.[5]

Studi terbaru terkait hubungan bedak talc dan kanker ovarium dipublikasikan di JAMA pada awal 2020. Secara metodologi dan jumlah sampel, kekuatan bukti dari studi ini lebih baik dibandingkan dua studi yang telah dijabarkan di atas. Studi ini melakukan analisis pada sampel dari 4 kohort besar di Amerika Serikat. Total sampel yang dianalisis adalah 252.745 orang. 38% subjek melakukan self-reporting mengenai penggunaan bedak talc di area genital. Dari jumlah ini, 10% melaporkan penggunaan jangka panjang dan 22% melaporkan penggunaan sering. Dalam median 11,2 tahun pemantauan, 2168 wanita didiagnosis kanker ovarium. Insidensi kanker ovarium ditemukan 61 kasus/100.000 orang-tahun pada pasien yang menggunakan bedak talc, dan 55 kasus/100.000 orang-tahun pada kontrol.

Studi ini menemukan peningkatan risiko 1,09 kali pada pasien pengguna bedak talc sering dibandingkan kontrol, serta peningkatan 1,01 kali pada pasien pengguna jangka panjang. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara pemakaian bedak talc dengan risiko kanker ovarium.[1]

Hingga saat artikel ini ditulis, CDC tidak mencantumkan talc sebagai faktor risiko kanker ovarium. Sementara itu, IARC (International Agency for Research on Cancer) yang merupakan bagian dari WHO, menyatakan bahwa penggunaan bedak talk pada daerah genital bisa jadi bersifat karsinogenik pada manusia.[1,2]

Implikasi Klinis

Sementara ini, penggunaan bedak talc pada daerah kewanitaan belum terbukti aman. Namun, pada saat yang sama, studi terbaru dengan kekuatan bukti yang baik menunjukkan tidak ada peningkatan risiko signifikan terkait kanker ovarium pada penggunaan bedak talc. Diperlukan kewaspadaan dalam penggunaan bedak talc pada area kewanitaan.

Jika pasien mempunyai kecenderungan untuk berkeringat pada daerah genital, beberapa hal lain bisa dicoba untuk menggantikan penggunaan bedak talc, misalnya menggunakan pakaian dalam berbahan katun, serta sering mengganti pakaian dalam dan menghindari penggunaan celana yang ketat.

Kesimpulan

Berbagai studi observasional terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan bedak talc di area genital meningkatkan risiko kanker ovarium. Hal ini diduga akibat kandungan mineral, terutama asbestos, yang ada di dalam bedak talc dan bersifat karsinogenik.Walaupun demikian, sebuah kohort dengan jumlah sampel yang besar menunjukkan sebaliknya. Masih diperlukan studi lebih lanjut sebelum bisa ditarik kesimpulan yang lebih pasti.

Referensi