Asam Salisilat vs Cryotherapy untuk Penanganan Verruca Vulgaris

Oleh dr. Hunied Kautsar

Asam salisilat konsentrasi tinggi atau cryotherapy dengan nitrogen cair umum digunakan untuk menangani verruca vulgaris. Manakah di antara keduanya yang lebih efektif untuk menangani penyakit ini?

Verruca vulgaris merupakan lesi kulit jinak yang disebabkan oleh infeksi virus HPV. Penyakit yang umum terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa ini dapat terjadi pada permukaan mukokutaneus, terutama di tangan dan kaki. Verruca vulgaris bukan merupakan suatu keganasan dan dapat hilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan. Namun verruca vulgaris dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama jika muncul di tempat tertentu seperti telapak kaki sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Sumber: Peter DK, Wikimedia commons, 2008. Sumber: Peter DK, Wikimedia commons, 2008.

 

Penanganan verruca vulgaris dapat ditangani secara mandiri menggunakan pilihan terapi over the counter, berupa asam salisilat topikal konsentrasi rendah, atau cryotherapy kit. Walau demikian, tidak semua verruca vulgaris dapat ditanggulangi dengan terapi over the counter. Untuk kasus seperti ini, dokter dapat memberikan asam salisilat konsentrasi tinggi atau cryotherapy menggunakan liquid nitrogen.

Efektivitas Asam Salisilat Topikal vs Cryotherapy

Uji kontrol terkendali diadakan di 30 primary care center di Belanda dengan total 250 subyek dengan verruca vulgaris yang dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok yakni kelompok terapi asam salisilat topikal, kelompok cryotherapy dan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan terapi (wait and see approach). Untuk kelompok terapi asam salisilat, subyek mendapat instruksi untuk mengaplikasikan asam salisilat sendiri di rumah, setiap hari satu kali sampai seluruh verruca vulgaris hilang. Asam salisilat yang digunakan adalah petroleum jelly dengan kandungan asam salisilat 40%. Untuk kelompok cryotherapy, subyek mendapatkan cryotherapy dengan liquid nitrogen yang dilakukan oleh dokter atau tenaga medis profesional dengan frekuensi satu kali setiap dua minggu sampai seluruh verruca vulgaris hilang. Penilaian efektivitas terapi dilakukan pada minggu ke-4, ke-13, dan ke-26. Hasil penelitian menyatakan bahwa untuk common warts, cryotherapy merupakan terapi yang paling efektif. Sedangkan untuk plantar warts, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan dalam efektivitas antara terapi asam salisilat topikal, cryotherapy dengan liquid nitrogen, dan wait and see approach.[1]

Penelitian lain diadakan di beberapa primary care center di Inggris, Skotlandia dan Irlandia. Uji kontrol terkendali yang melibatkan 240 subyek dengan verruca vulgaris ini membandingkan efektivitas cryotherapy dengan asam salisilat topikal sebagai terapi untuk plantar warts. Subyek secara acak dibagi menjadi dua kelompok; kelompok cryotherapy yang menerima terapi dengan liquid nitrogen yang dilakukan oleh dokter atau tenaga medis profesional sebanyak maksimal 4 kali dengan interval 14-21 hari dan kelompok terapi asam salisilat topikal yang mengaplikasikan asam salisilat topikal dengan kandungan 50% satu kali sehari dengan durasi maksimal 8 minggu. Hasil penelitian membuktikan bahwa tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara efektivitas cryotherapy dan asam salisilat topikal 50% dalam menanggulangi plantar warts. Hasil penelitian ini hanya dapat diaplikasikan untuk plantar warts karena common warts pada area lain mungkin memiliki reaksi yang berbeda terhadap cryotherapy dan asam salisilat topikal.[2]

Penelitian yang diadakan untuk membandingkan efektivitas antara cryotherapy dan asam salisilat topikal memiliki keterbatasan yakni hasil yang didapatkan dari penelitian tidak dapat diterapkan untuk terapi yang dilakukan dengan asam salisilat yang dijual bebas (over the counter) serta alat dan bahan cryotherapy yang dijual bebas (over the counter cryotherapy kit) yang dapat diaplikasikan sendiri oleh pasien. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi asam salisilat yang berbeda antara asam salisilat yang dipakai dalam penelitian (konsentrasi 40-50%) dengan asam salisilat yang dijual bebas (konsentrasi sekitar 17%). Selain itu hasil dari cryotherapy yang dilakukan di tempat prakter dokter atau primary care center juga dapat memiliki hasil yang berbeda jika dibandingkan dengan cryotherapy yang dilakukan sendiri oleh pasien.

Efek Samping Asam Salisilat vs Cryotherapy

Berdasarkan penelitian, orang dengan verruca vulgaris yang menerima cryotherapy mengalami lebih banyak efek samping jika dibandingkan dengan yang menerima terapi asam salisilat. Efek samping yang dialami antara lain rasa nyeri, kulit melepuh, iritasi kulit, pigmentasi kulit, bekas luka, dan kerak pada kulit. Walaupun cryotherapy lebih banyak menimbulkan efek samping, lebih banyak subyek dari kelompok yang menerima cryotherapy menyatakan kepuasan terhadap terapi (69% dari subyek) dibandingkan dengan kelompok yang menerima terapi asam salisilat topikal (24% dari subyek).[1]

Efektivitas Biaya Asam Salisilat vs Cryotherapy

Penelitian menyatakan bahwa cryotherapy terbukti lebih efektif dalam menangani common warts jika dibandingkan dengan terapi asam salisilat. Namun, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara efektivitas cryotherapy dan terapi asam salisilat dalam menangani plantar warts. [1,2] Sebuah analisis efektivitas biaya terapi asam salisilat dan cryotherapy dilakukan bersamaan dengan uji kontrol terkendali di beberapa primary care center di Inggris, Skotlandia dan Irlandia. Berdasarkan analisis, cryotherapy memerlukan biaya yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan terapi asam salisilat. Dalam rentang 12 minggu terapi, setiap subyek yang menerima cryotherapy membutuhkan biaya rata-rata 2 juta Rupiah lebih mahal dibandingkan subyek yang menerima terapi asam salisilat. Biaya yang lebih mahal ini tidak sebanding dengan perbedaan efektivitasnya.[3]

Kesimpulan

Cryotherapy dan terapi asam salisilat topikal merupakan dua jenis terapi yang paling umum digunakan untuk menangani verruca vulgaris (common warts dan plantar warts). Berdasarkan hasil penelitian, cryotherapy lebih efektif dalam menangani common warts dibandingkan dengan terapi asam salisilat topikal. Namun, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara efektivitas cryotherapy dan terapi asam salisilat dalam menangani plantar warts. Cryotherapy memiliki efek samping yang lebih banyak, seperti nyeri, kulit melepuh, iritasi kulit, pigmentasi kulit, bekas luka, dan kerak pada kulit. Selain itu dibutuhkan biaya yang lebih tinggi untuk melakukan cryotherapy. Oleh karena itu, asam salisilat topikal lebih dianjurkan untuk terapi lini pertama verruca vulgaris.

Hasil yang didapatkan dari penelitian memiliki keterbatasan yakni tidak dapat diterapkan untuk terapi yang dilakukan dengan asam salisilat yang dijual bebas (over the counter) serta alat dan bahan cryotherapy yang dijual bebas (over the counter cryotherapy kit) yang dapat diaplikasikan sendiri oleh pasien. Pertimbangkan faktor lokasi, efektivitas terapi, konsentrasi asam salisilat, efek samping, dan biaya sebelum menentukan pilihan terapi yang akan digunakan untuk menangani verruca vulgaris.

Referensi