Alasan Peningkatan Insidensi Kanker Kolorektal Onset Dini – Artikel Terkini!

Oleh :
dr.Catharina Endah Wulandari, M.Si.Med

Data epidemiologi menunjukkan adanya peningkatan insidensi kasus kanker kolorektal onset dini, yakni diagnosis kanker kolorektal pada populasi berusia di bawah 50 tahun. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena mempengaruhi strategi deteksi dini, manajemen, dan prognosis keseluruhan. Kanker kolorektal onset dini juga menimbulkan tantangan tersendiri dalam pengidentifikasian faktor risiko, pengelolaan terapeutik, dan tindak lanjut pasca terapi.

Kanker kolorektal merupakan kanker ketiga terbanyak serta menduduki peringkat kedua penyebab kematian akibat kanker. Pada tahun 2020, insidensi kanker kolorektal di dunia diperkirakan mencapai 19,5%. Di Indonesia sendiri, kejadian kanker kolorektal pada tahun 2020 mencapai 34.189 (8,6%) kasus, dengan angka kematian sebesar 7,9% dari semua kasus kanker.[1-4]

InsidensiKankerKolorektal

Insidensi Kanker Kolorektal Onset Dini

Selama dekade terakhir ini, terdapat kecenderungan perubahan angka insidensi kanker kolorektal. Insidensi kanker kolorektal mengalami penurunan sebesar 3,1% per tahun pada pasien usia di atas 50 tahun, sebaliknya insidensi kanker kolorektal onset dini mengalami peningkatan 1,4% per tahun.[5,6]

Data dari National Cancer Institute (NCI) menunjukkan penurunan yang stabil insidensi kanker kolorektal pada populasi usia 50 tahun atau lebih. Sebaliknya, terdapat peningkatan insidensi pada pasien dewasa muda, baik itu kanker kolorektal lokal, regional maupun distal, pada kelompok usia 20 sampai 34 tahun maupun usia 35 sampai 49 tahun. Hasil serupa dilaporkan berbagai studi epidemiologi lain, termasuk adanya peningkatan mencapai 10% kasus kanker kolorektal onset dini.[5,7,8]

Diagnosis dan Gambaran Klinis Kanker Kolorektal Onset Dini

Kanker kolorektal terjadi akibat adanya perubahan ganas pada sel-sel epitel kolon atau rektum. Kondisi ini dapat muncul secara sporadis (70%), klaster keluarga (20%), dan sindrom yang diturunkan/inherited syndrome (10%). Rerata usia kanker kolorektal sporadis adalah pada usia lebih dari 50 tahun, sebagian besar terkait dengan faktor lingkungan. Sementara itu, minoritas pasien dengan pola keturunan murni, mengalami kanker kolorektal pada usia lebih muda.[9-11]

Gambaran Klinis Kanker Kolorektal Onset Dini

Gejala kanker kolorektal seringkali bersifat tidak spesifik dan muncul secara progresif tanpa pasien menyadarinya. Gejala bisa mencakup buang air besar (BAB) yang disertai darah dan lendir, nyeri perut, susah BAB, merasa lelah dan lemas sepanjang waktu, serta kehilangan berat badan tanpa penyebab jelas. Gejala yang dialami dapat juga disertai dengan mual, muntah dan malaise.[9,12]

Gambaran klinis kanker kolorektal onset dini menurut berbagai studi antara lain:

  • Gejala klinis pada kanker kolorektal onset dini seringkali tidak jelas sehingga menurunkan kecurigaan klinis dari keganasan dan hanya dianggap sebagai penyakit anorektal jinak
  • Distribusi anatomis kanker kolorektal onset dini paling banyak ditemukan pada topografi distal dari kolon bagian sudut lien pada lebih dari 80% kasus, yang biasanya menyebabkan perdarahan rektum, nyeri abdominal, perubahan feses, dan mukorrhea
  • Tumor yang ditemukan sebagian besar adalah jenis mucinosa adenokarsinoma diferensiasi buruk
  • Frekuensi tumor dengan diferensiasi buruk dan invasi vaskuler ditemukan lebih banyak pada usia muda sebagai faktor prognostik independen

Mayoritas pasien ditemukan memiliki tumor stadium lanjut saat diagnosis. Selain itu, pada pasien dengan usia kurang dari 20 tahun, kanker kolerektal perlu diduga berkaitan dengan penyakit langka.[13-16]

Skrining untuk kanker kolorektal bertujuan untuk deteksi dini, membuang lesi pra kanker, serta memungkinkan upaya kuratif. Namun, karena program skrining kanker kolorektal ditujukan untuk individu usia di atas 50 tahun, kasus kanker kolorektal onset dini sering terlambat didiagnosis. Sebagian besar penelitian komparatif menemukan bahwa pasien usia muda paling sering ditemukan dengan kanker stadium III atau IV.[13]

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Kanker Kolorektal Onset Dini

Kanker kolorektal biasanya terjadi berkaitan dengan adanya predisposisi defek genetik, faktor lingkungan, dan gaya hidup. Perubahan gaya hidup modern seperti pola makan yang tinggi lemak jenuh, rendah serat, serta kurangnya aktivitas fisik telah terbukti berkontribusi pada peningkatan risiko kanker kolorektal, terutama pada populasi muda.

Selain itu, paparan terhadap faktor lingkungan, seperti polusi udara dan kontaminasi zat toksik, juga dapat mempengaruhi risiko terjadinya kanker kolorektal. Faktor genetik juga memainkan peran penting, dengan adanya peningkatan dalam kejadian kanker kolorektal pada individu dengan riwayat keluarga yang terkena penyakit ini.[17-19]

Faktor Genetik atau Sindrom Yang Diturunkan (Inherrited Syndrome)

Inherited syndrome terkait kanker kolorektal yang paling sering ditemukan adalah Familial Adenomatous Polyposis (FAP) dan Lynch syndrome. Lynch syndrome terjadi akibat mutasi genetik mismatch repair (MMR), paling sering ditemukan gen MLH1 dan MSH2. yang menyebabkan risiko hingga 80% untuk terkena kanker kolorektal. Kondisi ini seringkali disertai dengan microsatellite instability (MSI).[20]

Di sisi lain, FAP terjadi akibat mutasi pada gen adenomatous polyposis coli (APC) yang ditandai dengan adanya polip adenomatosa onset dini yang menyebabkan 100% risiko untuk terkena kanker kolorektal jika tidak ditangani dengan baik.[21]

Selain kedua sindrom di atas, terdapat beberapa sindrom genetik lain yang menyebabkan peningkatan risiko terjadinya kanker kolorektal onset dini, meskipun jumlahnya tidak sebanyak Lynch syndrome dan FAP. Kondisi genetik tersebut antara lain MutYH-associated polyposis (MAP), PeutzJeghers syndrome, juvenile polyposis syndrome, dan Li-Fraumeni syndrome.[22]

Faktor Gaya Hidup

Gaya hidup yang telah dikaitkan dengan peningkatan risiko terjadinya kanker kolorektal onset dini meliputi obesitas dan kebiasaan diet. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi dan peningkatan berat badan masa dewasa dengan peningkatan risiko terjadinya kanker kolorektal onset dini. Peningkatan ini terjadi akibat adanya inflamasi kronis, sindrom metabolik, dan resistensi insulin yang mendorong terjadinya karsinogenesis.[23]

Obesitas juga berperan pada terjadinya kanker kolon dengan mengubah komposisi bakteri usus. Perubahan ini menyebabkan lebih tingginya molekul-molekul penyebab inflamasi (seperti lipopolisakarida, peningkatan asetat dan penurunan butirat) yang dapat melemahkan sawar intestinal. Selain itu, adanya ketidakseimbangan bakteri usus termasuk dalam perubahan epignenetik yang menyebabkan perubahan fungsi gen dan menyebabkan kerusakan DNA yang mendorong pada proses karsinogenesis.[24]

Kebiasaan diet juga berpengaruh pada peningkatan risiko kanker kolorektal usia muda. Diet gaya Barat, yaitu konsumsi daging merah yang tinggi, minuman manis, serta sedikit sayur dan buah, dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal usia muda. Sebaliknya, diet tinggi serat dapat memberikan efek baik pada mikrobiota usus adan menurunkan senyawa-senyawa pro inflamasi. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol juga merupakan faktor risiko signifikan untuk terjadinya kanker kolorektal pada usia muda.[18]

Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan, seperti paparan polusi, zat toksik atau radiasi, serta kesenjangan sosioekonomi dan kesehatan juga telah dikaitkan dengan peningkatan insiden kanker kolorektal onset dini. Paparan kronis atau berulang terhadap zat karsinogenik, baik dari polusi dan radiasi, dapat merusak DNA, menyebabkan mutasi genetik, dan memicu perkembangan kanker kolorektal.

Di sisi lain, kesenjangan sosioekonomi dan kesehatan dianggap dapat menyebabkan pilihan asupan makanan yang lebih terbatas dan akses ke pelayanan kesehatan yang sulit. Hal ini juga bisa menyebabkan pasien menunda pemeriksaan medis, sehingga penyakit tidak dapat terdeteksi lebih awal dan penanganan kurang efektif karena keterbatasan biaya pengobatan.[17-19]

Faktor Lainnya

Faktor lain yang juga dapat meningkatkan insidensi kanker kolorektal onset dini adalah adanya riwayat keluarga dengan kanker kolorektal atau adanya riwayat penyakit gastrointestinal sebelumnya, seperti Crohn’s disease dan kolitis ulseratif.[17-19]

Kesimpulan

Penyebab peningkatan insidensi kanker kolorektal onset dini adalah fenomena kompleks yang melibatkan berbagai faktor, termasuk perubahan gaya hidup, predisposisi genetik, dan faktor lingkungan. Beberapa studi mengindikasikan bahwa gaya hidup modern, yang cenderung kurang aktif secara fisik dan pola makan yang kaya lemak dan rendah serat, dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal. Diet yang kaya akan daging merah dan makanan olahan, serta konsumsi alkohol, merupakan faktor risiko yang dilaporkan terkait dengan peningkatan risiko kanker kolorektal onset dini.

Selain itu, faktor genetik juga memainkan peran penting dalam menentukan risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Penelitian genomik telah mengidentifikasi sejumlah varian genetik yang terkait dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, termasuk polimorfisme pada gen yang terlibat dalam proses metabolisme dan detoksifikasi karsinogen. Individu dengan riwayat keluarga kanker kolorektal juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit ini.

Faktor lingkungan juga berkontribusi terhadap peningkatan insidensi kanker kolorektal onset dini. Paparan terhadap polutan lingkungan, seperti polutan udara dan kontaminan dalam air dan makanan, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal. Selain itu, faktor gaya hidup seperti merokok dan paparan kronis terhadap radiasi juga dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal. Pemahaman yang lebih baik mengenai epidemiologi kanker kolorektal dan faktor risikonya, dapat meningkatkan strategi modifikasi faktor risiko dan menargetkan kelompok berisiko untuk skrining kanker.

Referensi