Peran Envelope Antibiotic dalam Pencegahan Infeksi Pemasangan Alat Elektronik Kardiovaskular Implan

Oleh :
dr.Farhanah Meutia, SpJP, FIHA

Infeksi setelah pemasangan alat elektronik kardiovaskular implan (ALEKA), seperti alat pacu jantung atau implantable cardiac defibrillator, adalah komplikasi dengan tingkat mortalitas dan morbiditas tinggi. Oleh karena itu, peran envelope antibiotic dalam mencegah komplikasi ini menjadi penting.

Infeksi Pasca Pemasangan Alat Elektronik Kardiovaskular Implan

Komplikasi infeksi pasca pemasangan alat elektronik kardiovaskular implan (ALEKA) cukup sulit ditangani. Infeksi primer, umumnya pocket infection yang timbul saat implantasi, sering kali harus berujung dengan pengangkatan alat. Hal ini akan meningkatkan morbiditas dan biaya pengobatan. Sementara itu, infeksi sekunder, umumnya akibat bakteremia, sering kali menyebabkan endokarditis dan memiliki luaran yang buruk.[1]

shutterstock_1487085152-min

Studi retrospektif yang dilakukan di Amerika Serikat (AS) sejak tahun 1993 hingga tahun 2008, menunjukkan 2600 kasus dengan komplikasi infeksi dari total ≥4,2 juta pasien yang dipasang ALEKA. Data meta analisis dari sekitar 20 studi di AS, menunjukkan angka komplikasi infeksi pasca tindakan pemasangan ALEKA berkisar 0,68-5,7%. Data dari Danish registry pada 46.299 pasien yang dipasang ALEKA sejak tahun 1982 hingga 2007, menunjukkan insidensi infeksi sekitar 4,82/1000 tindakan pemasangan ALEKA per tahun setelah implantasi pertama dan sekitar 12,12/1000 tindakan pemasangan ALEKA per tahun setelah tindakan penggantian ALEKA.[2-5]

Antibiotik dalam Pencegahan Infeksi Pasca Pemasangan Alat Elektronik Kardiovaskular Implan

Antibiotik dalam pencegahan infeksi pasca tindakan pemasangan alat elektronik kardiovaskular implan (ALEKA) dapat diberikan dalam tiga tahapan tindakan, yaitu preprosedural, periprosedural, dan pasca tindakan.

Antibiotik Preprosedural

Tahap pertama adalah pemberian antibiotik preprosedural. Salah satunya dengan antibiotik sistemik profilaksis. Pemberian antibiotik sistemik profilaksis telah dilaporkan menurunkan angka infeksi pasca tindakan pemasangan ALEKA bila dibandingkan dengan tanpa pemberian antibiotik. Penurunan risiko relatif dilaporkan berkisar 40–95%. Antibiotik profilaksis harus diberikan 1 jam sebelum tindakan insisi, untuk menjamin capaian kadar yang cukup di jaringan tubuh pada saat implantasi dilakukan. Antibiotik profilaksis yang dapat dipilih antara lain flucloxacillin 1-2 g intravena, sefalosporin generasi I seperti cefazolin 1–2 g, dan vancomycin 15 mg/kg pada pasien yang alergi sefalosporin[1,4,6]

Antibiotik Periprosedural

Tahap kedua adalah antibiotik periprosedural. Salah satu jenis antibiotik periprosedural yang sedang dikembangkan adalah envelope antibiotic seperti TYRX Absorbable Antibacterial Envelope® yang mengandung minosiklin dan rifampicin.[2,3]

Antibiotik Post Prosedural

Tahap ketiga adalah antibiotik post prosedural. Beberapa klinisi memberikan antibiotik pasca pemasangan ALEKA secara intravena, yang kemudian dilanjutkan pemberian per oral. Salah satu pilihan antibiotik post prosedural adalah cefalexin.[2,6]

Peran Envelope Antibiotic dalam Pencegahan Infeksi pada Pemasangan Alat Elektronik Kardiovaskular Implan

Envelope antibiotic diberikan pada saat implantasi alat elektronik kardiovaskular implan (ALEKA). Envelope antibiotic akan menyelimuti ALEKA  dan mengandung berbagai jenis antibiotik untuk mencegah pembentukan infeksi akibat flora normal kulit dan menstabilkan alat pada kantong subkutan.

Salah satu jenis envelope antibiotic terbaru yang diteliti adalah TYRX Absorbable Antibacterial Envelope®, yaitu sebuah selimut sekali pakai yang didesain untuk menahan ALEKA ketika alat dipasangkan ke badan. Selimut ini dibuat dari mesh multifilamen yang mengandung minosiklin dan rifampicin. Selimut ini akan melepaskan antibiotik ke jaringan lokal selama setidaknya 7 hari dan akan diserap sempurna dalam kurang-lebih 9 minggu.

Tarakji et al melakukan studi acak terkontrol yang disponsori oleh Medtronic (perusahan yang memproduksi alat TYRX Absorbable Antibacterial Envelope®). Studi ini melibatkan sekitar 7000 partisipan dari 181 layanan kesehatan di 25 negara. Luaran primer yang diteliti adalah infeksi ALEKA mayor dalam 12 bulan setelah prosedur. Luaran sekunder yang diteliti adalah komplikasi terkait pemasangan ALEKA atau komplikasi sistemik lain dalam 12 bulan setelah implantasi.

Hasil studi menunjukkan bahwa infeksi ALEKA mayor terjadi pada 25 pasien (0,7%) kelompok intervensi dan 42 pasien (1,2%) kelompok kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa infeksi ALEKA mayor terdapat 40% lebih sedikit pada kelompok yang mendapat ALEKA dengan envelope antibiotic. Luaran sekunder ditemukan pada 201 pasien kelompok intervensi dan 236 pasien kelompok kontrol. Sehingga, peneliti menyimpulkan bahwa envelope antibiotic memiliki efikasi yang baik dalam mencegah infeksi pasca pemasangan ALEKA.[3]

Walaupun demikian, hasil studi Tarakji et al perlu dicermati dengan hati-hati karena ada beberapa limitasi penelitian. Pada studi ini, infeksi pasca pemasangan ALEKA tidak didefinisikan dengan ketat, penilaian luaran pasien tidak disertai penyamaran, dan riwayat pemasangan implan ALEKA sebelumnya tidak dideskripsikan. Selain itu, hasil studi juga menunjukkan 17 kasus bakteremia atau endokarditis, dengan jumlah kasus lebih tinggi pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol. Studi ini juga tidak melaporkan sensitivitas terhadap antibiotik yang digunakan terhadap infeksi yang terjadi.

Kesimpulan

Infeksi pasca pemasangan alat elektronik kardiovaskular implan (ALEKA), seperti alat pacu jantung dan implantable cardiac defibrillator, cukup banyak ditemukan dan menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Envelope antibiotic adalah salah satu cara yang dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi infeksi pasca pemasangan ALEKA. Sebuah studi acak terkontrol menunjukkan potensi manfaat dari TYRX Absorbable Antibacterial Envelope®, sebuah produk envelope antibiotic yang mengandung minosiklin dan rifampicin. Studi ini melibatkan jumlah subjek yang besar dan dilakukan multisenter, namun memiliki berbagai limitasi, sehingga penelitian lebih lanjut masih diperlukan sebelum kesimpulan yang lebih definitif dapat ditarik.

Referensi