Pemberian Valproate pada Wanita Usia Produktif harus Disertai Penggunaan Kontrasepsi

Oleh dr. Hunied Kautsar

Risiko kesehatan yang serius pada janin yang terpapar valproate saat kandungan membuat pemberian valproate pada wanita usia produktif hanya boleh jika disertai penggunaan kontrasepsi.

Valproate adalah salah satu pilihan obat antiepilepsi yang dapat dikonsumsi sebagai monoterapi dan obat kombinasi. Bagi wanita hamil yang menderita epilepsi, konsumsi obat antiepilepsi penting untuk menjaga kesehatan ibu dan janin. Namun beragam penelitian menyatakan bahwa beberapa jenis obat antiepilepsi memiliki efek teratogenik dan dapat mempengaruhi perkembangan neurologis anak. Salah satu obat yang banyak menjadi bahan penelitian adalah valproate.

Depositphotos_171157036_m-2015_compressed

 

Beragam hasil penelitian ini menjadi dasar bagi Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA) di Inggris untuk mengeluarkan peraturan baru terkait konsumsi valproate bagi wanita usia produktif, yakni valproate hanya disarankan untuk wanita usia produktif yang sedang menjalankan program pencegahan (penundaan) kehamilan sehingga resiko efek teratogenik terhadap janin dapat diminimalisasi.[1] Di sisi lain, hasil penelitian menunjukkan bahwa valproate merupakan obat antiepilepsi yang paling efektif dalam mengatasi generalized and unclassified epilepsies.[2]

Valproate Menyebabkan Malformasi pada Janin

Sebuah studi meta analisis diadakan untuk melihat efek obat antiepilepsi yang dikonsumsi oleh ibu hamil terhadap janin. Studi meta analisis ini melibatkan 50 penelitian yang meneliti efek teratogenik dari beragam obat antiepilepsi yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Obat yang diteliti terdiri dari valproate, carbamazepine, gabapentin, levetiracetam, lamotigrine, oxcarbazepine, phenobarbital, phenytoin, topiramate, dan zonisamide. Hasil studi meta analisis menyatakan bahwa janin yang dikandung oleh ibu hamil yang mengkonsumsi valproate memiliki risiko tertinggi untuk mengalami malformasi yakni sebesar 10,93% jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (ibu hamil yang tidak menderita epilepsi dan ibu hamil yang menderita epilepsi namun tidak mengkonsumsi obat antiepilepsi jenis apapun) dan kelompok konsumsi obat antiepilepsi lainnya.[3]

Studi meta analisis menyatakan bahwa paparan valproate pada janin diasosiasikan dengan malformasi neural tube, cardiac, oro-facial/craniofacial, dan malformasi skeletal dan anggota tubuh. Tingkat risiko terjadinya malformasi pada janin diasosiasikan dengan dosis paparan valproate terhadap janin. [3] Salah satu penelitian kohort yang melibatkan 1.010 sampel menyatakan bahwa paparan dosis valproate ≤ 600 mg/hari memiliki tingkat malformasi yang lebih rendah secara signifikan (6,7%) jika dibandingkan dengan paparan dosis valproate > 700 mg/hari sampai 1.500 mg/hari (10,4%) dan paparan dosis valproate ≥ 1.500 mg/hari (24,2%).[4]

Pengaruh Konsumsi Valproate Ibu Hamil pada Perkembangan Neurologis Anak

Penelitian di Irlandia dilakukan terhadap 210 anak berusia 9-60 bulan yang pada waktu di dalam kandungan terkena paparan obat antiepilepsi monoterapi untuk melihat efek paparan beberapa jenis obat antiepilepsi monoterapi terhadap perkembangan neurologis anak-anak tersebut. Penelitian tersebut membuktikan bahwa terdapat 23 anak pada kelompok anak yang terkena paparan valproate selama di dalam kandungan yang mengalami keterlambatan perkembangan neurologis. Jumlah tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan anak-anak pada kelompok anak yang terkena paparan carbamazepine (10 anak) dan paparan lamotrigine (1 anak). [5]

Penelitian lain diadakan di 25 pusat epilepsi yang tersebar di Inggris dan Amerika Serikat untuk melihat efek konsumsi beberapa jenis obat antiepilepsi monoterapi yang dikonsumsi oleh ibu hamil terhadap kemampuan kognitif anak di usia 6 tahun. Dari 305 ibu dan 311 anak (termasuk di dalamnya 6 pasang anak kembar) terdapat 224 anak yang dapat melengkapi follow up selama 6 tahun (6 year completer sample). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa anak usia 6 tahun yang terkena paparan valproate selama masih di dalam kandungan memiliki IQ yang lebih rendah jika dibandingkan dengan anak usia 6 tahun yang terkena paparan carbamazepine, lamotrigine atau phenytoin selama mereka berada di dalam kandungan. Anak-anak yang terkena paparan valproate selama di dalam kandungan memiliki nilai yang lebih rendah ketika diuji kemampuan verbal dan memori dibandingkan dengan anak-anak yang terkena paparan obat antiepilepsi jenis lain. Kemampuan non-verbal dan fungsi eksekutif anak usia 6 tahun yang terkena paparan valproate selama di dalam kandungan juga lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok paparan lamotrigine.[6]

Selain memberikan efek negatif terhadap kemampuan kognitif, paparan valproate terhadap janin juga memberikan efek negatif terhadap perkembangan emosional dan kemampuan adaptif. Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang diadakan di beberapa pusat epilepsi di Amerika Serikat dan Inggris. Penelitian diadakan terhadap 195 anak yang terkena paparan beberapa jenis obat antiepilepsi selama di dalam kandungan. Jenis obat antiepilepsi monoterapi yang diteliti meliputi carbamazepine, lamotrigine, phenytoin, dan valproate. Hasil penelitian menyatakan bahwa anak usia 6 tahun yang selama di dalam kandungan terpapar valproate memiliki nilai kemampuan adaptif (General Adaptive Composite score) yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok anak usia 6 tahun yang terkena paparan lamotrigine and phenytoin selama di dalam kandungan (penilaian menggunakan Adaptive Behavior Assessment System-Second Edition). Selain itu berdasarkan penilaian terhadap hiperaktivitas dan kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi, kelompok anak usia 6 tahun yang terkena paparan valproate selama di dalam kandungan juga memiliki risiko yang lebih tinggi secara signifikan untuk menderita attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Hal ini menambah daftar faktor risiko yang diketahui berhubungan dengan ADHD setelah sebelumnya hipertensi dalam kehamilan diketahui berhubungan dengan ADHD.[7]

Kesimpulan

Valproate menyebabkan risiko efek samping yang serius pada janin sehingga penggunaannya pada wanita usia reproduktif tidak disarankan tanpa penggunaan alat kontrasepsi. Valproate dapat menyebabkan malformasi pada janin serta keterlambatan perkembangan neurologis. Paparan valproate juga berhubungan dengan peningkatan risiko ADHD pada anak.

Dokter harus memberikan alat kontrasepsi, seperti levonorgestrel/etinil estradiol atau copper-T pada wanita usia reproduktif yang menggunakan valproate. Pada wanita yang ingin memiliki anak, dokter perlu mempertimbangkan penggunaan obat antiepilepsi pengganti, seperti lamotrigine atau levetiracetam.

Referensi