Pelepasan Cervical Collar pada Pasien Trauma Tumpul dengan Penurunan Kesadaran

Oleh :
dr. Sonny Seputra, Sp.B, M.Ked.Klin, FINACS

Pelepasan cervical collar pada pasien trauma tumpul yang mengalami penurunan kesadaran sering menjadi tantangan karena dokter tidak dapat melakukan pemeriksaan fisik yang optimal pada pasien seperti ini. Pelepasan yang kurang tepat, misalnya pada pasien yang ternyata memiliki spinal cord injury, dapat menyebabkan komplikasi neurologis. Namun, pemakaian cervical collar yang terlalu lama juga dihubungkan dengan bermacam komplikasi lain.

Keterlambatan pelepasan cervical collar dapat menimbulkan ulkus karena penekanan, pneumonia karena perpanjangan waktu penggunaan ventilator, dan peningkatan tekanan intrakranial. Selain itu, imobilisasi dengan cervical collar yang terlalu lama dapat memperpanjang masa perawatan di rumah sakit.[1-3]

Pelepasan Cervical Collar pada Pasien Trauma Tumpul-min

 

Saat ini belum ada konsensus yang jelas tentang kriteria pelepasan cervical collar pada pasien dengan penurunan kesadaran. Beberapa klinisi menyatakan bahwa penapisan diagnosis spinal cord injury dapat dilakukan berdasarkan hasil computed tomography (CT) scan yang normal, sedangkan beberapa klinisi menyatakan bahwa CT bersifat inferior bila dibandingkan dengan magnetic resonance imaging (MRI). Namun, MRI tentu membutuhkan sumber daya yang mahal.[4-7]

Perbandingan CT dan MRI untuk Menentukan Waktu Pelepasan Cervical Collar

Berbagai uji klinis acak, tinjauan sistematis, dan meta analisis telah dilakukan untuk membandingkan efektivitas CT dan MRI dalam menyingkirkan kemungkinan spinal cord injury yang tersembunyi pada pasien dengan penurunan kesadaran.

Studi oleh Sanchez et al

Studi prospektif oleh Sanchez et al mempelajari 2.603 pasien trauma tumpul dari total 2.854 pasien trauma. Pasien tanpa bukti klinis cedera neurologis, tanpa intoksikasi alkohol atau obat, dan tanpa cedera fisik yang mengganggu diberikan pemeriksaan fisik klinis seperti biasa. Sementara itu, pasien yang tidak memenuhi kriteria tersebut diatur untuk menjalani CT scan servikal. Bila ada defisit neurologis, MRI dilakukan.

Bila pasien tidak bisa dievaluasi karena koma tetapi hasil CT scan tampak normal dan pasien awalnya dapat menggerakkan keempat ekstremitasnya saat tiba di rumah sakit, cervical collar dapat dilepaskan. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari total 100 pasien yang mengalami spinal cord injury, protokol ini mampu mendeteksi 99 pasien.

Sensitivitas protokol CT scan ini adalah 99% dan spesifisitasnya adalah 100%. Peneliti menyimpulkan bahwa CT scan dapat digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan cedera servikal dan menentukan pelepasan cervical collar.[8]

Studi oleh Stelfox et al

Studi oleh Stelfox et al mempelajari 140 pasien trauma kritis yang diintubasi dan diberi ventilasi mekanik. Intervensi dibedakan menjadi dua, yaitu protokol MRI/pemeriksaan klinis dan protokol CT scan. Pada protokol MRI/pemeriksaan klinis, salah satu hasil dari kedua pemeriksaan tersebut harus normal dan hasil CT scan juga harus normal agar imobilisasi leher bisa dilepas. Namun, pada protokol CT scan, hanya hasil CT scan saja yang harus normal agar imobilisasi leher bisa dilepas.

Dibandingkan dengan grup MRI/pemeriksaan klinis, grup CT memiliki durasi imobilisasi servikal yang lebih singkat (2 hari vs 6 hari). Selain itu, kemungkinan komplikasi akibat imobilisasi leher juga lebih rendah pada grup CT scan (37% vs 64%).

Durasi penggunaan ventilasi mekanik juga lebih singkat pada grup CT scan daripada grup MRI/pemeriksaan klinis (3 hari vs 4 hari). Durasi rawat inap di rumah sakit dan di intensive care unit (ICU) juga lebih singkat pada grup CT scan. Tidak ada perbedaan mortalitas dan tidak ada cedera servikal yang terlewatkan pada kedua grup ini. Peneliti menyimpulkan bahwa hasil CT scan yang normal dapat digunakan untuk menentukan pasien yang bisa mengakhiri imobilisasi leher.[9]

Studi oleh Kaiser et al

Kaiser et al meneliti peran MRI dalam mendeteksi cedera servikal pada 114 pasien trauma tumpul yang memiliki Glasgow Coma Scale (GCS) ≤14 dan hasil CT scan normal. Dari 114 pasien dengan hasil CT normal, 23 pasien ternyata memiliki hasil MRI yang abnormal.

Penelitian ini menggunakan tiga generasi CT yang berbeda (irisan tunggal, 16-irisan, dan 64-irisan). CT scan irisan tunggal merupakan satu-satunya yang memiliki risiko gagal mendeteksi cedera servikal. Sementara itu, CT scan 16-irisan dan 64-irisan tidak memiliki perbedaan akurasi yang bermakna bila dibandingkan dengan MRI.[10]

Studi oleh Como et al

Como et al mempelajari 197 pasien trauma tumpul dengan penurunan kesadaran yang masih bisa menggerakkan keempat ekstremitasnya. Pada pasien-pasien ini, pelepasan cervical collar hanya ditentukan berdasarkan hasil CT scan yang normal (tanpa MRI). Pasien kemudian menjalani follow-up untuk mengobservasi ada tidaknya komplikasi neurologis setelahnya.

Hasil follow-up menunjukkan bahwa pasien-pasien tersebut tidak mengalami cedera servikal. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa pelepasan cervical collar pada pasien penurunan kesadaran yang masih bisa menggerakkan keempat ekstremitas bisa dilakukan hanya berdasarkan hasil CT scan yang normal, tanpa perlu MRI.[11]

Studi oleh Patel et al

Tinjauan sistematis oleh Patel et al terhadap lima studi dengan total 1.017 pasien juga mengevaluasi hasil CT scan normal sebagai kriteria pelepasan cervical collar pada pasien trauma tumpul dengan penurunan kesadaran. Implementasi peraturan ini tidak menimbulkan perubahan neurologis baru (paraplegia atau kuadriplegia).

Pelaku studi menyimpulkan bahwa pada pasien trauma tumpul dengan penurunan kesadaran, pelepasan cervical collar dapat dilakukan hanya berdasarkan hasil CT scan kualitas tinggi yang normal.[12]

Kesimpulan

Penentuan waktu pelepasan cervical collar pada pasien trauma tumpul yang mengalami penurunan kesadaran merupakan hal yang sulit karena pemeriksaan fisik tidak bisa diandalkan pada kasus ini. Padahal, penggunaan cervical collar yang berkepanjangan dikaitkan dengan ulserasi dan timbulnya komplikasi lain.

Selama ini, CT scan diyakini sebagai modalitas yang lebih inferior daripada MRI untuk menyingkirkan diagnosis spinal cord injury dan menentukan waktu pelepasan cervical collar pada pasien dengan penurunan kesadaran. Namun, MRI membutuhkan biaya yang mahal, sehingga tidak selalu bisa dilakukan.

Bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa penggunaan CT scan saja (tanpa MRI) sebenarnya sudah efektif untuk mengevaluasi cedera servikal, terutama pada pasien yang masih bisa menggerakkan keempat ekstremitasnya saat tiba di rumah sakit. Oleh karena itu, pelepasan cervical collar pada pasien trauma tumpul yang mengalami penurunan kesadaran dapat dilakukan berdasarkan hasil CT yang normal, terutama bila CT adalah CT 16-irisan atau 64-irisan.

Referensi