Manajemen Terkini Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS)

Oleh :
dr. Wendy Damar Aprilano

Manajemen delayed onset muscle soreness (DOMS) merupakan topik yang sering dipelajari dalam kedokteran olahraga. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mencari manajemen paling efektif yang dapat diberikan kepada atlet atau olahragawan setelah menjalani berbagai pelatihan untuk meningkatkan performa fisik mereka.[1-4]

Berbagai kompetisi dan latihan yang dilakukan saat berolahraga akan memicu terjadinya kontraksi otot eksentris hingga getaran jaringan. Kondisi ini akan mengarah kepada kerusakan otot (baik kerusakan pada protein struktural serat otot hingga jaringannya), inflamasi jaringan, hingga peningkatan rasa lelah, dan delayed onset muscle soreness (DOMS/Nyeri otot pasca olahraga) yang dicurigai disebabkan oleh produksi asam laktat, spasme otot, dan kerusakan jaringan konektif.[1-4]

shutterstock_683810014

Akibat negatif yang ditimbulkan dari proses timbulnya nyeri otot pasca olahraga ini, ,baik pada atlet maupun non atlet, adalah terjadinya penurunan kemampuan otot secara temporer. Akibat negatif lainnya adalah gangguan kemampuan gerak sendi, penurunan kemampuan fisik, dan meningkatnya resiko cedera. Gejala DOMS yang dapat dirasakan berkisar mulai dari sekedar kekakuan otot hingga timbulnya nyeri otot.[1-4]

Oleh sebab itu diperlukan sebuah manajemen pemulihan yang baik untuk memaksimalkan perbaikan dari kerusakan otot yang telah terjadi, mengatasi DOMS, inflamasi hingga kelelahan yang dirasakan oleh atlet maupun non atlet agar dapat segera pulih secara penuh dalam waktu yang cukup singkat.[1-4]

Teknik yang tersedia untuk pemulihan DOMS masih bervariasi dan belum terstandarisasi. Hingga saat ini beberapa teknik yang telah diterapkan untuk mengurangi DOMS diantaranya yaitu teknik kompresi (penggunaan kain kompresi, imersi air), elektrostimulasi, peregangan, intervensi antiinflamasi (menggunakan pajanan suhu dingin seperti krioterapi dan imersi air dingin), teknik pemulihan aktif (latihan fisik) serta pemberian obat anti inflamasi non-steroid (OAINS). Salah satu upaya yang diteliti adalah menggunakan antioksidan sebagai tata laksana DOMS, namun tidak ditemukan adanya keuntungan dari pemberian golongan tersebut.[1,2,4]

Manfaat yang dihasilkan sangat bergantung pada teknik yang digunakan. Namun demikian, sebagian besar dari teknik tersebut memiliki proses yang serupa yaitu mengurangi kejadian kerusakan otot karena latihan dan mengurangi inflamasi. Oleh karena sampai saat ini belum ada terapi yang standar untuk manajemen nyeri otot pasca olahraga, perbandingan dari berbagai teknik dan rekomendasi terapi yang baik dilakukan akan menjadi bahasan pada artikel ini.[1,2,4]

Terapi dan Manajemen Nyeri Otot Pasca Olahraga/DOMS

Sebagaimana telah dijelaskan, terdapat berbagai strategi terapi dan manajemen untuk mengatasi Nyeri otot pasca olahraga. Beberapa terapi dan manajemen yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut. [1-4]

Krioterapi

Aplikasi dari suhu dingin pada bagian superfisial akan menstimulasi reseptor kutan untuk mengaktivasi serat adrenergik simpatis yang akan menyebabkan konstriksi arteriol dan venula lokal. Efek yang ditimbulkan dari proses ini yaitu berkurangnya edema melalui pembatasan perpindahan difusi cairan ke dalam ruang interstisial serta memfasilitasi perpindahan metabolit/neutrofil/protein yang rusak dari otot agar dapat kembali ke dalam darah melalui perubahan aliran darah dan aliran limfe. Selain itu, terjadi pula penurunan respon metabolisme yang akan menurunkan respon inflamasi dan penurunan stimulasi reseptor nyeri.[1,2,4]

Peregangan (stretching)

Peregangan yang dilakukan berulang dan dipertahankan akan mengurangi tekanan pada jaringan otot-tendon. Hal ini disebabkan saat peregangan, berkas otot juga akan meregang, yang memberikan sinyal ke korda spinalis yang memberikan sinyal eferen kembali ke otot dan membuat otot kontraksi. Jika peregangan dipertahankan minimal 6 detik, organ golgi tendon akan memberikan sinyal ke korda spinalis yang memicu reflex relaksasi dari otot antagonis sehingga mengurangi tekanan pada otot. [1,2,4]

Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS)

OAINS (sebagai contoh: ibuprofen) akan menghambat metabolisme asam arakidonat lewat jalur siklo-oksigenase (COX) yang mana mencegah pembentukan endoperoksida dan prostaglandin. Reduksi dari respon inflamasi ini kemudian akan memicu reduksi dari edema otot dan tekanan intramuskular yang mana berkontribusi pada timbulnya nyeri otot.[1,2,4]

Pijatan (Massage)

Peningkatan kalsium dalam serat otot selama aktivitas eksentrik dapat dikembalikan dengan meningkatkan aliran darah beroksigen ke area injuri. Pijatan/massage akan meningkatan aliran darah ini, hingga mengurangi migrasi dari neutrophil dan produksi prostaglandin, serta mengurangi proses inflamasi.[1-4]

Latihan/Aktivitas Fisik Pascaolahraga

Latihan yang dilakukan akan memecah otot yang mengalami nyeri, meningkatkan buangan dari produk pencetus nyeri melalui peningkatan aliran darah dalam otot atau peningkatan pelepasan endorfin selama pelatihan berlangsung.[2,4]

Rekomendasi Manajemen Nyeri Otot Pasca Olahraga berbasis bukti

Berbagai strategi manajemen nyeri otot pasca olahraga telah diteliti untuk mengatasi kejadian DOMS dan mengembalikan fungsi otot secepat mungkin. Berikut ini hasil beberapa studi yang telah membandingkan beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam manajemen nyeri otot pasca olahraga.[1-4]

Efektivitas Beberapa Teknik dalam Manajemen Nyeri otot Pascaolahraga Berbasis Bukti

Hasil studi sistematik review yang dilakukan Cheung K, et al dan Connoly D, et al menjelaskan pemberian OAINS akan memberikan efek dosis dependen yang juga bergantung pada waktu meminumnya. Pijatan/Massage juga akan memberikan hasil berbeda tergantung dari waktu dilakukan pijatan dan teknik yang digunakan.[2,4]

Studi ini mengatakan, teknik krioterapi dan peregangan tidak memberikan efek berarti dalam mengurangi nyeri otot atau gejala DOMS lainnya. Dilain pihak, Latihan fisik dikatakan sebagai teknik yang paling efektif dalam mengurangi nyeri DOMS, namun demikian efek analgesik yang diberikan hanya bersifat temporer.[2,4]

Pengaturan latihan fisik yang dimaksud adalah atlet direkomendasikan untuk mengurangi intensitas dan durasi latihan selama 1 hingga 2 hari pasca latihan yang diperkirakan dapat memicu DOMS. Alternatif lain, latihan tetap dapat dilakukan dengan menargetkan pada bagian tubuh yang tidak terdampak DOMS, sehingga memberikan kesempatan bagian otot tersebut untuk perbaikan. Latihan eksentrik yang dilakukan sebaiknya dilakukan secara progresif dalam periode 1 hingga 2 minggu baik di awal latihan maupun saat kompetisi dengan tujuan mengurangi level kerusakan fisik atau gangguan saat latihan.[2,4]

Rekomendasi Teknik Manajemen DOMS Terbaru

Studi meta-analisis terbaru, oleh Dupuy O et al, mengatakan dibandingkan berbagai teknik yang ada pijatan/massage merupakan metode yang paling efektif untuk mengatasi DOMS. Studi meta-analisis terbaru lainnya oleh Guo J, et al atas 11 artikel yang melibatkan 504 partisipan juga menguatkan pendapat terapi pijatan/massage dapat secara efektif mengatasi DOMS dan meningkatkan kemampuan otot pasca latihan.[1]

Efikasi tertinggi, menurut studi ini dicapai pada pemberian pijatan 48 jam pasca latihan. Namun demikian, masih diperlukan studi acak ganda dengan sampel yang lebih besar untuk menjelaskan lebih lanjut akan efektivitas pijatan/massage terhadap DOMS.[1,3]

Efek Positif Manajemen DOMS pada Atlet

Manajemen DOMS yang diberikan kepada Atlet memiliki berbagai keuntungan terutama dalam mempercepat waktu pemulihan, meningkatkan performa atlet, hingga mencegah terjadinya cedera baik saat latihan maupun pertandingan. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, nyeri otot pasca olahraga/DOMS biasanya dirasakan dalam waktu 24 hingga 72 jam pasca olahraga dan bertahan hingga 5 atau 7 hari kemudian sehingga dapat mengganggu performa atlet.[5,6]

Hasil studi meta-analisis yang dilakukan oleh Davis, et al terhadap 29 studi yang melibatkan 1012 subjek, menunjukan bahwa salah satu manajemen DOMS yang telah seringkali diteliti, yaitu pijatan/massage, tidak memberikan peningkatan terhadap kekuatan, ketahanan, maupun kecepatan atlet saat olahraga. Manajemen DOMS diketahui memiliki efektivitas meskipun kecil tetapi bernilai secara statistik terhadap peningkatan fleksibilitas dan mengatasi DOMS. Namun demikian, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap durasi optimal pemberian pijatan atau jenis regimen pijatan yang memberikan manfaat paling besar dalam manajemen DOMS pada atlet.[5,6]

 

Kesimpulan

Nyeri otot pasca olahraga/delayed onset muscle soreness (DOMS) merupakan kondisi yang dapat mengganggu atlet dalam melakukan aktivitas latihannya. Berbagai teknik manajemen terapi yang telah diteliti, hingga kini belum ada standar yang pasti untuk direkomendasikan dalam menangani DOMS.

Jika melihat dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, sebagian besar membahas teknik yang sama dan merekomendasikan sesuai hasil penelitian masing-masing. Teknik yang paling direkomendasikan dari penelitian terbaru adalah dengan teknik pijatan/massage hingga krioterapi.

Teknik lain merekomendasikan dengan tetap bergerak aktif, atau melakukan aktivitas fisik secara progresif untuk menghindari kejadian cedera saat latihan. Berbagai teknik tersebut pun dapat dikombinasikan antara satu dengan yang lain untuk memberikan hasil terbaik. Diharapkan kedepan akan ada penelitian yang dapat merekomendasikan secara jelas manajemen terbaik yang dapat diberikan untuk mengatasi DOMS.[1-6]

Referensi