Kriteria Diagnosis Scabies

Oleh :
dr. Fresa Nathania Rahardjo, M.Biomed, Sp.KK

Diagnosis scabies dapat ditegakkan berdasarkan kriteria International Alliance for the Control of Scabies (IACS) tahun 2020. Scabies merupakan penyakit kulit menular akibat infestasi parasit Sarcoptes scabiei.  Scabies ditandai dengan gatal pada area predileksi yaitu sela jari, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak, aerola mamae pada wanita, serta umbilikus, bokong, genitalia eksterna dan perut bagian bawah pada pria.[1]⁠

Pasien patut dicurigai scabies bila mengalami pruritus nokturna, memiliki riwayat kontak dengan penderita scabies, tinggal berkelompok dalam waktu lama (misal di asrama atau penjara), serta ditemukan lesi berbentuk terowongan pada area predileksi. Kebersihan yang buruk, tinggal di area padat penduduk, kondisi sosial ekonomi yang rendah, dan kebiasaan bertukar-tukar perlengkapan pribadi merupakan faktor risiko scabies.[2]⁠

scabies

Kriteria Diagnosis Scabies

Pada tahun 2020, International Alliance for the Control of Scabies (IACS) merekomendasikan kriteria diagnosis terbaru untuk scabies. Kriteria diagnosis ini membagi pasien dalam tipe A, tipe B, dan tipe C. Berikut adalah penjelasan yang lebih lengkap.[3]

Tipe A: Scabies Terkonfirmasi

Diagnosis dibuat jika ada 1 dari:

  • A1: Tungau, telur atau feses pada sampel kulit di bawah mikroskop
  • A2: Tungau, telur, atau feses yang tervisualisasi pada pasien dengan menggunakan high-powered imaging

  • A3: Tungau yang tervisualisasi pada pasien dengan menggunakan dermoskopi[2]

Kriteria diagnosis tipe A merupakan kriteria diagnosis klasik, yaitu pembuktian terhadap adanya tungau pada spesimen sediaan kulit. Kriteria diagnosis ini membutuhkan alat minimal dermoskop, mikroskop, atau video mikroskop.

Kriteria A1 menggunakan mikroskop dengan pembesaran sebesar maksimal 400 kali. Kriteria A2 dilakukan dengan menggunakan alat high-powered imaging, seperti video mikroskop dengan pembesaran spesimen minimal 70 kali. Sementara itu, untuk kriteria diagnosis A3 dilakukan menggunakan dermoskop biasa sehingga mudah dilakukan pada praktek sehari-hari.[2,4]

Tipe B: Scabies Klinis

Diagnosis dibuat jika ada 1 dari:

  • B1: Efloresensi terowongan scabies
  • B2: Lesi khas pada area genitalia pria
  • B3: Lesi khas pada daerah distribusi yang khas dan 2 kriteria sumber penyakit[2]

Tipe C. Kemungkinan Scabies

Diagnosis dibuat jika ada salah satu dari:

  • C1: Lesi khas di daerah predileksi dan 1 tanda sumber
  • C2: Lesi atipikal pada daerah bukan predileksi dan 2 tanda sumber[2]

Kriteria diagnosis B dan C merupakan kriteria diagnosis yang digunakan secara luas di banyak negara. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) juga menggunakan kriteria diagnosis ini untuk menegakkan diagnosis scabies. Hal ini karena kriteria diagnosis ini mudah dan cepat dilakukan dalam praktik sehari-hari.

Dalam kriteria B dan C, diagnosis scabies ditegakkan berdasarkan efloresensi, area predileksi, dan 2 bukti anamnesis mengenai sumber penularan dan rasa gatal yang terjadi.[2,4]

Tanda Sumber

Tanda sumber yang dimaksud dalam kriteria di atas adalah:

  • H1: gatal
  • H2: memiliki riwayat kontak dengan pasien scabies

Untuk memenuhi kriteria H1, pasien dapat mengeluhkan gatal seluruh badan atau lokal. Tanda ekskoriasi dan perilaku menggaruk kulit, terutama pada anak, juga dapat memenuhi poin kriteria ini. Gatal yang dicurigai timbul akibat penyebab lain, misalnya terlokalisasi pada bekas gigitan arthropoda, tidak dapat memenuhi poin kriteria H1.

Untuk poin kriteria H2, riwayat berikut ini dianggap berisiko tinggi untuk penularan scabies:

  • Setiap kontak dengan individu yang didiagnosis dengan scabies berkrusta
  • Kontak dekat dengan individu yang didiagnosis scabies
  • Kontak dekat dengan individu dengan gatal yang tidak disebabkan oleh kondisi lain
  • Kontak dekat dengan individu dengan lesi scabies tipikal dalam distribusi tipikal yang tidak disebabkan oleh kondisi lain

Yang dimaksud dengan kontak dekat adalah:

  • Individu yang tidur di tempat tinggal yang sama
  • Individu yang berbagi tempat tidur, termasuk pasangan seksual
  • Anak-anak di kelas yang sama atau yang bermain bersama
  • Orang dewasa dengan kontak kulit-ke-kulit yang diketahui[2]

Lesi Kulit pada Scabies

Penyakit scabies umumnya memiliki efloresensi khas yang dapat dengan mudah dikenali. Meski begitu, lesi kulit scabies juga bisa tertutup oleh penyakit kulit lain. Beberapa poin penting berikut perlu diperhatikan dalam diagnosis scabies.[2,5]

Terrowongan/Burrow

Terowongan atau burrow akan muncul pada infeksi tungau scabies betina yang hamil dan memiliki telur. Lesi ini akan hilang apabila terjadi lesi yang menebal (impetigines).

Lesi terowongan biasanya timbul pada daerah volar telapak tangan, bagian medial antebrachii,  dan sela-sela jari tangan. Efloresensi lesi terowongan ditandai dengan peninggian kulit, warna keabuan dengan punctum ictum, dan nampak tanda-tanda radang. Pada kondisi atipikal, tes dengan tinta hitam dapat menunjukkan lesi ini dengan lebih jelas, terutama jika telah terbentuk terowongan yang cukup besar.[2,5]

Luka di Daerah Genitalia Pria

Papula atau nodul pada area penis atau skrotum merupakan lesi yang sangat mengindikasikan scabies. Permukaan lesi bisa halus atau kasar, tergantung apakah pasien memiliki kecenderungan menggaruk yang tinggi. Lesi tidak bersisik.

Pada kebanyakan kasus, pasien memiliki lebih dari satu lesi dalam satu waktu. Lesi biasanya sangat gatal, tetapi bisa juga tidak gatal sama sekali. Pada pasien pria, lesi genital dilaporkan terjadi pada 10-30% pasien.[2,5]

Lesi Tipikal Scabies

Bentuk khas lesi scabies adalah lesi yang bergerombol, pada daerah predileksi, yang terkadang mengalami ekskoriasi, likenifikasi, impetiginisasi, dan eksematosa. Lesi biasanya berukuran tidak lebih dari 2 mm dan dapat bergerombol sampai dengan seluas 20 cm. Keluhan gatal biasanya timbul pada malam hari.[2,4,5]

Area Predileksi

Area predileksi scabies adalah sela jari, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak, aerola mamae pada wanita, serta umbilikus, bokong, genitalia eksterna dan perut bagian bawah pada pria. Namun, lesi bisa muncul di area lain pada pasien imunokompromais, anak yang sangat muda, atau lansia.[2,5]

Kesimpulan

Pada tahun 2020, International Alliance for the Control of Scabies (IACS) mengajukan kriteria diagnosis untuk scabies. IACS membagi scabies dalam tiga tipe, yakni tipe A hingga C.

Kriteria diagnosis Tipe A didasarkan pada konfirmasi adanya infestasi tungau scabies, misalnya melalui mikroskop. Tipe B dan C didasarkan pada hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengindikasikan kecenderungan tinggi seseorang mengalami scabies.

Secara garis besar, pasien scabies umumnya mengeluhkan rasa gatal yang memberat di malam hari, disertai adanya riwayat faktor risiko penularan. Pada pemeriksaan akan ditemukan adanya terowongan (kunikulus) pada daerah predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan. Daerah predileksi scabies mencakup sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, aerola mamae pada wanita, serta umbilikus, bokong, genitalia eksterna dan perut bagian bawah pada pria. Diagnosis terkonfirmasi jika ditemukan bukti adanya tungau dari sampel kulit.

Referensi