papul eritem di leher bertambah banyak, tidak gatal dan tidak nyeri - Diskusi Dokter

general_alomedika

Alo dokter, mohon diskusi dan masukannya.pasien laki2 14 tahun dengan papul eritem dileher sejak 3 mgg yg lalu, papul bertambah banyak, tidak gatal, tidak...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • papul eritem di leher bertambah banyak, tidak gatal dan tidak nyeri

    03 Oktober 2019, 19:30

    Alo dokter, mohon diskusi dan masukannya.pasien laki2 14 tahun dengan papul eritem dileher sejak 3 mgg yg lalu, papul bertambah banyak, tidak gatal, tidak nyeri.tidak ada riw demam sebelumnya. Awalnya papul di kulit kepala kemudian menyebar dileher dan dada. Bentuknya seperti acne jika dipencet ada isinya putih kekuningan. Mohon masukannya..trmksh

03 Oktober 2019, 20:12
Mungkin DD nya bisa infeksi virus seperti varicella, alergi, atau infeksi bakteri.

Awal mulanya dari kepala ya dok? Dibagian tubuh lain tidak ada lesi seperti itu ya dok?
03 Oktober 2019, 20:14
Awal mulanya spt dermatitis seboroik dikepala, dan gatal, tetapi yg dileher dan dada ini tdk gatal hy bertambah byk dan spt acne penampakan papulnya
03 Oktober 2019, 20:12
Mungkin DD nya bisa infeksi virus seperti varicella, alergi, atau infeksi bakteri.

Awal mulanya dari kepala ya dok? Dibagian tubuh lain tidak ada lesi seperti itu ya dok?
04 Oktober 2019, 10:37
dr.Monalisa Manik, MKed, SpKK
dr.Monalisa Manik, MKed, SpKK
Dokter Spesialis Kulit
Dok, apakah ada riwayat konsumsi obat steroid dlm jangka lama?
05 Oktober 2019, 16:46
Tidak ada riwayat penggunaan steroid dok..untuk sementara saya dd pitirosporum folikulitis dok..sy kasih selenium sulfide 2.5 lotion dan ketokonazole oral 200 mg. Setelah kembali kontrol sebagian lesi mengering tetapi tdk begitu siginifikan perubahannya dok
04 Oktober 2019, 12:00

Alo Dok,

IMO, dari gambarannya mirip erupsi acneiformis dan moluskum kontangiosum ya Dok. Untuk diagnosa varicella sepertinya dapat disingkirkan karena tidak ada riwayat demam sebelumnya. 

04 Oktober 2019, 19:00
dr.Monalisa Manik, MKed, SpKK
dr.Monalisa Manik, MKed, SpKK
Dokter Spesialis Kulit
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan status dermatologis pasien, maka dapat diperoleh diagnosis pasien ini yaitu Moluskum kontagiosum dengan diagnosis banding Acneiform drug eruption. Moluskum kontagiosum merupakan suatu penyakit infeksi virus pada kulit yang disebabkan oleh virus golongan Pox virus. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak. Biasanya pada dewasa oleh karena hubungan seksual. Media penularan penyakit ini melalui kontak langsung. Masa inkubasi rata-rata moluskum kontagiosum adalah 2-7 minggu, dengan kisaran ekstrim sampai 6 bulan. Penyakit ini menyebar dengan cepat pada suatu komunitas yang padat dengan higienitas yang kurang.

Sedangkan Acneiform drug eruption merupakan salah satu efek samping obat yang sering dijumpai. Acneiform drug eruption adalah erupsi mirip akne akibat penggunaan obat-obatan. Penggunaan steroid topikal jangka panjang menyebabkan terjadinya akne steroid. Interval waktu antara onset meminum obat dan munculnya lesi bervariasi dari 1 hari hingga 11 bulan.



Dalam menegakkan diagnosis moluskum kontagiosum sangat khas. Pada kulit akan tampak lesi umbilikata yang multipel. Lesi tersebut papul berbatas tegas, licin, dan berbentuk kubah (dome shaped) sewarna kulit. Ukuran papul bervariasi dari 2-6 mm. Di bagian tengah lesi, biasanya terdapat lekukan (delle) kecil, berisi bahan seperti nasi dan berwarna putih yang merupakan ciri khas dari moluskum kontagiosum. Benjolan biasanya tidak terasa gatal, tidak terasa nyeri. Namun papul bisa meradang, misalnya karena garukan, sehingga teraba hangat dan berwarna kemerahan. Jika terjadi infeksi sekunder, bisa terjadi supurasi. Lokasi bisa di wajah, leher, badan, kadang-kadang pada perut, bagian bawah perut, dan genitalia. Terapi yang diberikan intinya adalah mengeluarkan massa yang mengandung badan moluskum. Bisa menggunakan teknik cryosurgery, evisceration, curettage, elektrokauterisasi, adhesive tape stripping.



Sedangkan Acneiform drug eruption secara klinis, ditandai dengan munculnya erupsi monomorfik yang mendadak, berupa papul-papul inflamasi dan pustul, biasanya folikuler dan disertai pruritus. Vesikel kadang-kadang muncul pada bagian tengah papul, yang kemudian berkembang menjadi vesikulopustul kecil.



Penatalaksanaan Acneiform drug eruption adalah menghentikan obat yang dicurigai sebagai penyebab dengan segera jika memungkinkan. Penggunaan antihistamin perlu jika terdapat pruritus, dan antibiotik oral digunakan pada kasus adanya infeksi sekunder dengan pustul atau impetiginisasi. Beberapa agen sistemik yang dilaporkan pernah digunakan untuk penanganan akneiform drug eruption antara lain antibiotik oral (tetrasiklin, doksisiklin, minosiklin), dan retinoid oral (isotretinoin). Efek antiinflamasi tetrasiklin diduga berperan dalam penyembuhan ruam kulit.



04 Oktober 2019, 22:54
Terimakasih infonya ya Dok 😊
05 Oktober 2019, 00:12
Terimkasih ilmunya dok.. 
05 Oktober 2019, 06:46
dr. Heriyanto Hidayat, Sp.PD.
dr. Heriyanto Hidayat, Sp.PD.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Mantap dok. Ikut nyimak
07 Oktober 2019, 11:13
dr. Devina Cahyani Wangsa
dr. Devina Cahyani Wangsa
Dokter Umum - Kecantikan
terimakasih infonya dok sangat bermanfaat 
04 Oktober 2019, 19:00
dr.Monalisa Manik, MKed, SpKK
dr.Monalisa Manik, MKed, SpKK
Dokter Spesialis Kulit
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan status dermatologis pasien, maka dapat diperoleh diagnosis pasien ini yaitu Moluskum kontagiosum dengan diagnosis banding Acneiform drug eruption. Moluskum kontagiosum merupakan suatu penyakit infeksi virus pada kulit yang disebabkan oleh virus golongan Pox virus. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak. Biasanya pada dewasa oleh karena hubungan seksual. Media penularan penyakit ini melalui kontak langsung. Masa inkubasi rata-rata moluskum kontagiosum adalah 2-7 minggu, dengan kisaran ekstrim sampai 6 bulan. Penyakit ini menyebar dengan cepat pada suatu komunitas yang padat dengan higienitas yang kurang.

Sedangkan Acneiform drug eruption merupakan salah satu efek samping obat yang sering dijumpai. Acneiform drug eruption adalah erupsi mirip akne akibat penggunaan obat-obatan. Penggunaan steroid topikal jangka panjang menyebabkan terjadinya akne steroid. Interval waktu antara onset meminum obat dan munculnya lesi bervariasi dari 1 hari hingga 11 bulan.



Dalam menegakkan diagnosis moluskum kontagiosum sangat khas. Pada kulit akan tampak lesi umbilikata yang multipel. Lesi tersebut papul berbatas tegas, licin, dan berbentuk kubah (dome shaped) sewarna kulit. Ukuran papul bervariasi dari 2-6 mm. Di bagian tengah lesi, biasanya terdapat lekukan (delle) kecil, berisi bahan seperti nasi dan berwarna putih yang merupakan ciri khas dari moluskum kontagiosum. Benjolan biasanya tidak terasa gatal, tidak terasa nyeri. Namun papul bisa meradang, misalnya karena garukan, sehingga teraba hangat dan berwarna kemerahan. Jika terjadi infeksi sekunder, bisa terjadi supurasi. Lokasi bisa di wajah, leher, badan, kadang-kadang pada perut, bagian bawah perut, dan genitalia. Terapi yang diberikan intinya adalah mengeluarkan massa yang mengandung badan moluskum. Bisa menggunakan teknik cryosurgery, evisceration, curettage, elektrokauterisasi, adhesive tape stripping.



Sedangkan Acneiform drug eruption secara klinis, ditandai dengan munculnya erupsi monomorfik yang mendadak, berupa papul-papul inflamasi dan pustul, biasanya folikuler dan disertai pruritus. Vesikel kadang-kadang muncul pada bagian tengah papul, yang kemudian berkembang menjadi vesikulopustul kecil.



Penatalaksanaan Acneiform drug eruption adalah menghentikan obat yang dicurigai sebagai penyebab dengan segera jika memungkinkan. Penggunaan antihistamin perlu jika terdapat pruritus, dan antibiotik oral digunakan pada kasus adanya infeksi sekunder dengan pustul atau impetiginisasi. Beberapa agen sistemik yang dilaporkan pernah digunakan untuk penanganan akneiform drug eruption antara lain antibiotik oral (tetrasiklin, doksisiklin, minosiklin), dan retinoid oral (isotretinoin). Efek antiinflamasi tetrasiklin diduga berperan dalam penyembuhan ruam kulit.



04 Oktober 2019, 20:54
dr.Suyanti, Sp THT-KL
dr.Suyanti, Sp THT-KL
Dokter Spesialis THT
nice sharing doc
04 Oktober 2019, 20:54
dr.Suyanti, Sp THT-KL
dr.Suyanti, Sp THT-KL
Dokter Spesialis THT
nice sharing doc
04 Oktober 2019, 21:13
Nice sharing dok, terimakasih ilmunya πŸ™
04 Oktober 2019, 22:15
Terimakasih dokter informasi nya πŸ™
04 Oktober 2019, 22:30
Terima kasih sharing nya doc, πŸ˜ŠπŸ™
05 Oktober 2019, 06:29
Terima kasih dok informasinya, sangat bermanfaat
05 Oktober 2019, 16:44
Terima kasih atas share ilmunya dok..
06 Oktober 2019, 13:05
tks ilmunya dok. 
06 Oktober 2019, 13:07
stressor  dan remaja saat pertumbuhan apa juga mempengaruhi
06 Oktober 2019, 14:24
dr. Arum M
dr. Arum M
Dokter Umum
04 Oktober 2019, 19:00
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan status dermatologis pasien, maka dapat diperoleh diagnosis pasien ini yaitu Moluskum kontagiosum dengan diagnosis banding Acneiform drug eruption. Moluskum kontagiosum merupakan suatu penyakit infeksi virus pada kulit yang disebabkan oleh virus golongan Pox virus. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak. Biasanya pada dewasa oleh karena hubungan seksual. Media penularan penyakit ini melalui kontak langsung. Masa inkubasi rata-rata moluskum kontagiosum adalah 2-7 minggu, dengan kisaran ekstrim sampai 6 bulan. Penyakit ini menyebar dengan cepat pada suatu komunitas yang padat dengan higienitas yang kurang.

Sedangkan Acneiform drug eruption merupakan salah satu efek samping obat yang sering dijumpai. Acneiform drug eruption adalah erupsi mirip akne akibat penggunaan obat-obatan. Penggunaan steroid topikal jangka panjang menyebabkan terjadinya akne steroid. Interval waktu antara onset meminum obat dan munculnya lesi bervariasi dari 1 hari hingga 11 bulan.



Dalam menegakkan diagnosis moluskum kontagiosum sangat khas. Pada kulit akan tampak lesi umbilikata yang multipel. Lesi tersebut papul berbatas tegas, licin, dan berbentuk kubah (dome shaped) sewarna kulit. Ukuran papul bervariasi dari 2-6 mm. Di bagian tengah lesi, biasanya terdapat lekukan (delle) kecil, berisi bahan seperti nasi dan berwarna putih yang merupakan ciri khas dari moluskum kontagiosum. Benjolan biasanya tidak terasa gatal, tidak terasa nyeri. Namun papul bisa meradang, misalnya karena garukan, sehingga teraba hangat dan berwarna kemerahan. Jika terjadi infeksi sekunder, bisa terjadi supurasi. Lokasi bisa di wajah, leher, badan, kadang-kadang pada perut, bagian bawah perut, dan genitalia. Terapi yang diberikan intinya adalah mengeluarkan massa yang mengandung badan moluskum. Bisa menggunakan teknik cryosurgery, evisceration, curettage, elektrokauterisasi, adhesive tape stripping.



Sedangkan Acneiform drug eruption secara klinis, ditandai dengan munculnya erupsi monomorfik yang mendadak, berupa papul-papul inflamasi dan pustul, biasanya folikuler dan disertai pruritus. Vesikel kadang-kadang muncul pada bagian tengah papul, yang kemudian berkembang menjadi vesikulopustul kecil.



Penatalaksanaan Acneiform drug eruption adalah menghentikan obat yang dicurigai sebagai penyebab dengan segera jika memungkinkan. Penggunaan antihistamin perlu jika terdapat pruritus, dan antibiotik oral digunakan pada kasus adanya infeksi sekunder dengan pustul atau impetiginisasi. Beberapa agen sistemik yang dilaporkan pernah digunakan untuk penanganan akneiform drug eruption antara lain antibiotik oral (tetrasiklin, doksisiklin, minosiklin), dan retinoid oral (isotretinoin). Efek antiinflamasi tetrasiklin diduga berperan dalam penyembuhan ruam kulit.



Mantap informasinya dokterπŸ™πŸ™πŸ™