Frenotomi bukan Penatalaksanaan Utama Ankyloglossia (Tongue-Tie)

Oleh :
dr. Josephine Darmawan

Angka frenotomi dalam penatalaksanaan ankyloglossia (tongue tie) sangat meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Medical Journal of Australia menunjukkan bahwa terjadi kenaikan jumlah tindakan frenotomi dari 1.22 per 1000 anak usia 0-4 tahun pada tahun 2006 menjadi 6.35 per 1000 anak usia 0-4 tahun pada tahun 2016. Kenaikan serupa juga tercatat di Canada dan Amerika Serikat dengan kenaikan sebesar 89% (2004-2013) dan 86% (1997-2012).[1-3]

Peningkatan frenotomi secara drastis ini terjadi seiring dengan bertambahnya kesadaran masyarakat juga dokter akan pentingnya proses laktasi dan masalah-masalah yang ditemukan selama menyusui, salah satunya adalah tongue tie. Meningkatnya kesadaran akan tongue tie ini membuat tindakan frenotomi sangat banyak dilakukan meski bukti klinisnya masih minimal.[1,2]  Overterapi frenotomi ini merupakan masalah yang harus dicermati karena dapat membawa efek jangka panjang ataupun pendek yang sebenarnya dapat dihindari dan meningkatkan biaya medis untuk prosedur yang sebenarnya tidak diperlukan.[4-6] Oleh karena itu, dokter perlu mengetahui diagnosis ankyloglossia yang tepat serta tata laksananya, sehingga overdiagnosis tounge tie dan overterapi dengan frenotomi dapat dikurangi.

baby tongue

Ankyloglossia (Tounge Tie) dan Kegagalan Menyusui

Ankyloglossia (tounge tie) merupakan salah satu penyebab kegagalan menyusui dan kesulitan bicara pada anak. Ankyloglossia menyulitkan proses laktasi karena adanya frenulum lingual yang lebih tebal dan/atau pendek dari frenulum pada umumnya. Hal ini menyebabkan lidah sulit bergerak dan sulit melekat pada payudara dan mengganggu hisapan bayi. Gangguan proses menyusui ini bila tidak terdiagnosa dengan baik akan berlanjut pada pertambahan berat yang kurang.[3,7,8]

Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit ini mendapatkan perhatian khusus sehingga prevalensinya meningkat dengan signifikan. Meskipun hal ini penting untuk diketahui, tidak semua kesulitan menyusui pada neonatus disebabkan oleh ankyloglossia (tounge tie).[4,6] Selain itu, lebih dari 50% bayi dengan tounge tie juga tidak mengalami gejala dan dapat menyusui dengan baik. Hal ini menjadikan tidak semua kasus ankyloglossia dibenarkan untuk dilakukan frenotomi.[3,7] Diagnosis dan klasifikasi penyakit ini serta kemungkinan penyebab kesulitan menyusui lainnya perlu ditentukan dengan tepat agar tata laksana yang dilakukan juga tepat dan benar-benar dibutuhkan.[3,8]

Pedoman Diagnosis dan Tata Laksana Ankylogossia

Pedoman diagnosis ankyloglossia (tounge tie) sebelumnya tidak tersedia dengan jelas, sehingga kebanyakan diagnosis penyakit ini dilakukan dengan penilaian klinis dokter saja. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor meningkatkanya prevalensi tounge tie dan juga angka frenotomi dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena peningkatan ini, pedoman diagnosis dan tata laksana tentang tounge tie dikembangkan.[3,8]

Pedoman klinis terbaru tahun 2017 dari Ikatan Dokter Anak Indonesia dan American Medical Association menyatakan bahwa ankyloglossia simtomatik adalah sisa jaringan pada garis tengah dibawah lidah antara permukaan bahwa lidah dan dasar mulut yang pendek, tebal, dan tidak elastis. Bila kondisi ini menyebabkan gangguan pada fungsi normal ataupun gerakan lidah maka disebut dengan ankyloglossia simtomatik. Kecurigaan terhadap ankyloglossia (tounge tie) meningkat apabila ditemukan menyusui sangat lama atau sering, pertambahan berat bayi yang lambat, bayi mengalami kesulitan menghisap atau melekat pada payudara, mastitis, atau puting lecet. Pemeriksaan fisik dapat mengkonfirmasi ada atau tidaknya tongue tie dengan cara:

  • Inspeksi: lidah tidak elevasi saat menangis, lidah berbentuk hati saat istirahat, lidah tidak dapat menjulur melewati gusi
  • Palpasi frenulum dengan manuver Murphy : dilakukan dengan cara menekan frenulum di bagian midline depan, amati jatuhnya lidah bayi ketika frenulum diekstensikan ke depan

  • Penilaian daya hisap bayi
  • Pengamatan proses menyusui

Pasien yang terdiagnosa ankyloglossia (tounge tie) kemudian harus ditentukan klasifiksinya. (anterior, posterior, atau submukosa) serta perhitungan skor Hazelbaker’s Assessment Tool for Lingual Frenulum Function (ATLFF). Nilai dari skor ini akan menentukan derajat keparahan penyakit serta membantu menentukan penatalaksanaan.[3,8]

Tabel 1 Hazelbaker’s Assessment Tool for Lingual Frenulum Function

Appearances Item Functional Item

Appearance of tongue when lifted2 : round or square1 : slight cleft in tip apparent0 : Heart or V-shapedElasticity of frenulum

2 : Very elastic

1 : Moderately elastic

0 : Little or no elasticity

Length of lingual frenulum when tongue lifted

2 : > 1 cm

1 : 1 cm

0 : < 1cm

Attachment of lingual frenulum to tongue

2 : posterior to tip

1 : at tip

0 : notched tip

Attachment of lingual frenulum to inferior alveolar ridge

2 : attached to floor or mouth or well-below ridge

1 : attached just below ridge

0 : attached at ridge

Lateralization2 : Complete1 :Body of tongue but not tongue tip0 : NoneLift of tongue

2: tip to mid mouth

1 : only edges to mid-mouth

0 : tip stays at lower alveolar ridge or rises to mid-mouth only with jaw closure

Extension of tongue

2 : tip over lower lip

1 : tip over lower gum only

0 : neither of the above or anterior or mi-tongue humps

Spread of anterior tongue

2 : complete

1 : moderate or partial

0 : little or none

Cupping

2 : entire edge, firm cup

1 : side edges only, moderate cup

0 : poor or no cup

Peristaltic

2 : complete anterior to posterior

1 : partial, originating posterior to tip

0 : None atau reverse motion

Snapback

2 : None

1 : Periodic

0 : frequent or with each suck

Apabila nilai appearance kurang dari 8, maka pasien bisa didiagnosis tongue tie. Dan apabila nilai functional kurang dari 11, maka pasien bisa didiagnosis tounge tie.

Seluruh pasien dengan ankyloglossia simtomatik harus diberikan tata laksana konservatif awal selama 24-48 jam berupa suplementasi dengan Air Susu Ibu (ASI) perah, menyusui dibuat lebih sering, perbaikan posisi dan perlekatan menyusui, serta kontak bayi dengan kulit ibu diperbanyak. Bila tidak terjadi perbaikan, maka perlu dilakukan penilaian skor ATLFF ulang.

Skor ATLFF dan klasifikasi ankyloglossia (tounge tie) akan menentukan terapi yang harus dilakukan, seperti frenotomi/frenektomi/frenuloplasti ataupun tetap dilanjutkan terapi konservatif dengan pembimbingan khusus selama 2-3 minggu. Diagnosis dan tata laksana ankyloglossia (tounge tie) harus dilakukan oleh dokter anak yang terlatih.[3,8]

Bukti Klinis Tata Laksana Ankyloglossia dengan Frenotomi

Frenotomi merupakan salah satu pilihan dalam terapi ankyloglossia (tounge tie) yang dapat dilakukan. Namun perlu diingat bahwa tidak semua tounge tie tepat diterapi dengan frenotomi. Frenotomi dapat dipertimbangkan untuk dilakukan apabila terdapat ankyloglossia simtomatik, tidak terjadi perbaikan dengan terapi konservatif 2-3 minggu, dan skor ATLFF <11. [3,8]

Studi literatur sistematik dari Cochrane pada 5 buah Randomized Control Trial (RCT) menunjukkan bahwa frenotomi tidak memberikan hasil yang konsisten dalam perbaikan proses menyusui, terdapat 2 buah studi yang menyimpulkan bahwa frenotomi tidak efektif dalam memperbaiki proses menyusui. Namun demikian, melakukan frenotomi dapat mengurangi nyeri payudara saat menyusui. Studi ini juga menunjukkan bahwa tidak terdapat efek samping yang signifikan akibat frenotomi, namun sampel yang diuji masih cukup kecil.[9]

Studi RCT dari Edmond pada 107 bayi menunjukkan bahwa frenotomi memperbaiki pergerakan lidah dan mengurangi nyeri payudara. Namun demikian, sebanyak 7.5% bayi yang menjalani frenotomi juga tetap menyusui dengan botol susu. Dalam waktu 8 minggu, tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pertambahan berat badan ataupun proses menyusui bayi yang menjalani frenotomi ataupun tidak. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa frenotommi tidak efektif dalam memperbaiki proses menyusui.[10] Seluruh studi yang ada tentang frenotomi tidak menunjukkan efek samping yang cukup berat akibat frenotomi. Komplikasi yang paling sering adalah perdarahan minor dan risiko infeksi yang terjadi pada 1:10.000 kasus.[3,4,9,10] Rekurensi ankyloglossia (tounge tie) juga tetap dapat terjadi setelah frenotomi sebanyak 13% kasus.[4]

Tidak terdapat data yang cukup untuk dapat menentukan efektifitas frenotomi dalam proses menyusui jangka panjang. Rekurensi dapat terjadi dan proses menyusui juga dapat berjalan baik meskipun frenotomi tidak dilakukan. Hal ini dikarenakan frenulum memiliki kemampuan untuk mengalami pelenturan seiring waktu dan  dengan pelatihan proses menyusui dengan bimbingan yang baik bayi tetap bisa menyusu. 50%-75% bayi tidak memerlukan frenotomi. Frenotomi sebaiknya dilakukan hanya bila terdapat indikasi. [3,4,6,11]

Kesimpulan

Ankyloglossia (tounge tie) merupakan salah satu penyebab gangguan proses laktasi yang umumnya ditandai dengan gangguan pergerakan lidah karena frenulum yang pendek, tebal, dan/atau tidak elastis. Namun demikian, tidak semua masalah dalam laktasi disebabkan oleh ankyloglossia (tounge tie).

Diagnosis dan klasifikasi yang tepat sangat dibutuhkan agar tata laksana yang diberikan juga tepat. Tidak semua kasus tounge tie tepat diobati dengan frenotomi. Sekitar 50-75% bayi dengan tounge tie dapat membaik dengan tata laksana konservatif. Frenotomi hanya dibenarkan dilakukan apabila terapi konservatif gagal dan hasil skor HATLFF <11.

Meskipun belum ada data yang memadai mengenai efek samping berbahaya akibat frenotomi, melakukan frenotomi pada bayi ankyloglossia asimtomatik tidak dapat dibenarkan. Frenotomi juga bukan terapi definitif untuk masalah menyusui pada tounge tie, rekurensi tetap dapat terjadi pada 13% kasus. Studi lebih lanjut tentang efektifitas frenotomi dan dampaknya terhadap proses menyusui dalam jangka panjang masih diperlukan.

Referensi