Dampak Negatif Rontgen Gigi – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
drg.Dewi Hestiara Safitri

Negative Health Effects of Dental X-rays: A Systematic Review

Wiklander L, Cederlund A, Kadesjö N, Näsman P, Tranaeus S, Naimi-Akbar A. Negative health effects of dental X-rays: A systematic review. PLoS One. 2025 May 29;20(5):e0323808. PMID: 40440627.

studilayak

Abstrak

Latar Belakang: Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah paparan sinar-X saat melakukan pemeriksaan radiografi gigi pada anak dan remaja memberikan dampak negatif terhadap kesehatan di kemudian hari.

Metode: Studi ini menelaah baik penelitian primer maupun systematic review (tinjauan sistematis) yang tersedia di beberapa pusat data jurnal, yaitu Medline, Embase, dan Web of Science. Enam orang penelaah membaca naskah lengkap dari studi yang terpilih setelah melewati proses screening.

Hasil: Pencarian literatur menghasilkan 10.949 publikasi di ketiga pusat data. Setelah dilakukan screening judul dan abstrak, sebanyak 55 publikasi dipilih untuk pembacaan naskah lengkap. Dari proses ini, disaring hingga menghasilkan 18 laporan, yang terdiri dari 11 penelitian primer dan 7 tinjauan sistematis, untuk dilakukan penilaian kualitas.

Kesimpulan: Tidak ada satu pun studi yang terpilih berhasil lolos dari penilaian kualitas karena memiliki risiko bias yang tinggi atau bahkan sangat tinggi. Ada kesenjangan pengetahuan terkait efek negatif paparan rontgen gigi dan kebutuhan akan penelitian yang lebih akurat dan terkini. 

Dampak Negatif Rontgen Gigi

Ulasan Alomedika

Rontgen gigi merupakan prosedur yang umum dilakukan untuk menunjang perawatan gigi (seperti diagnosis karies dan penyakit periodontal) dan mengevaluasi gangguan perkembangan serta pertumbuhan gigi. Akan tetapi, rontgen gigi tidak terlepas dari efek samping terhadap kesehatan pasien.

Antara tahun 2008–2022, tercatat ada kenaikan pemeriksaan rontgen gigi tahunan, dari 480 juta menjadi 1,1 milyar. Meskipun radiasi rontgen gigi lebih rendah daripada radiasi medis lainnya, risiko kanker akibat rontgen gigi masih ada, khususnya apabila diikuti dengan pemeriksaan sinar X berulang.

Dengan tingginya angka pemanfaatan rontgen gigi tahunan, maka diperlukan penelitian terhadap efek samping yang ditimbulkan rontgen gigi. Studi ini mengevaluasi apakah rontgen gigi yang dilakukan pada anak dan remaja menghasilkan dampak negatif pada kesehatan di kemudian hari.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain tinjauan sistematis yang mencakup studi primer dan telaah sistematik yang telah dipublikasikan sebelumnya. Penelusuran dilakukan pada tiga pusat data besar, yaitu Medline, Embase, dan Web of Science.

Penyertaan telaah sistematik memberikan dampak positif karena dapat menangkap hasil penelitian secara lebih luas. Penelusuran pada tiga pusat data besar juga sudah cukup adekuat. Namun, studi ini tidak mengikutsertakan pusat data Scopus. Padahal, penggunaan Scopus bersama tiga pusat data lainnya dapat meningkatkan kelengkapan hingga 97,5–98,3%. Meskipun Scopus mencakup sebagian besar konten dari Medline dan Embase, Scopus juga menyertakan artikel konferensi dan jurnal multidisiplin yang tidak ada di pusat data lainnya.

Ditinjau dari prosedur pelaksanaan dan penulisan tinjauan sistematis, studi ini sudah baik, karena protokol didaftarkan terlebih dahulu ke Prospero untuk memeriksa apakah tinjauan sistematis yang sama sudah pernah dilakukan. Selain itu, penulisan studi ini sudah mengikuti protokol PRISMA.

Pemilihan studi yang akan dianalisis juga sudah menggunakan kerangka Population, Exposure, Control, Outcome (PECO) dan kriteria inklusi-eksklusi untuk masing-masing jenis penelitian primer dan tinjauan sistematis. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pemilihan artikel sudah dilakukan secara prosedural dan sistematis.

Penilaian kualitas dilakukan menggunakan protokol risiko bias terstandar (ROBINS-E untuk studi primer dan ROBIS untuk tinjauan sistematis), sehingga fokus utama studi bukan pada besarnya efek semata, melainkan pada validitas internal studi-studi yang tersedia. Namun, pelaku studi tidak menjalankan meta analisis karena heterogenitas desain studi dan kualitas data yang rendah dari studi-studi yang dipilih.

Ulasan Hasil Penelitian

Dari hampir 11.000 artikel yang teridentifikasi melalui search string di tiga pusat data, hanya 18 artikel (11 studi primer dan 7 tinjauan sistematis) yang memenuhi PECO dan kriteria inklusi untuk dilakukan penilaian kualitas. Bahkan, setelah dilakukan penilaian kualitas, tidak satu pun studi lolos karena tingginya risiko bias.

Dengan demikian, bukti yang ada dinilai tidak cukup kuat untuk menarik kesimpulan yang valid mengenai dampak negatif rontgen gigi pada anak dan remaja, termasuk risiko meningioma dan berbagai kanker (kanker payudara, kanker tiroid, kanker kelenjar parotis). Dengan demikian, hasil studi ini lebih menegaskan ketiadaan bukti berkualitas tinggi, bukan ketiadaan risiko itu sendiri.

Kelebihan Penelitian

Kekuatan utama studi ini terletak pada pendekatan kritis terhadap kualitas studi-studi yang teridentifikasi. Penilaian kualitas juga dilakukan secara detail dan ketat, bukan sekadar mengulang kesimpulan penelitian sebelumnya.

Prosedur yang dijalankan pada setiap proses pun sudah mengacu kepada panduan yang tepat serta dilaporkan secara transparan, sehingga meningkatkan kredibilitas dan reliabilitas studi ini.

Penulis juga telah secara eksplisit menyoroti masalah metodologis klasik seperti recall bias, penggunaan data historis dengan dosis radiasi yang sudah tidak relevan, dan ketergantungan pada studi primer yang sama dalam berbagai tinjauan sistematis. Pendekatan ini penting untuk mencegah kesimpulan yang menyesatkan dalam isu sensitif seperti radiasi dan kanker yang terkait dengan paparan radiasi. 

Limitasi Penelitian

Keterbatasan utama penelitian ini adalah ketergantungannya pada kualitas studi yang tersedia, sehingga tidak mampu memberikan estimasi kuantitatif risiko atau effect size yang jelas.

Selain itu, sebagian besar studi yang ditelaah berasal dari konteks negara maju dan dalam periode yang lama, sehingga relevansinya terhadap praktik dokter gigi modern dengan teknologi paparan radiasi yang rendah masih terbatas.

Studi ini juga tidak menghasilkan rekomendasi klinis yang spesifik, karena fokusnya adalah kritik evidensial.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Dalam konteks Indonesia, hasil studi ini sangat relevan sebagai peringatan akademik dan kebijakan. Praktik radiologi dental (seperti periapikal, panoramik, dan penggunaan cone beam computed tomography) semakin meningkat dan sering kali dilakukan tanpa pedoman berbasis risiko individual yang ketat, khususnya pada anak dan remaja.

Studi ini juga makin menegaskan pentingnya penerapan prinsip As Low As Reasonably Achievable (ALARA) dalam praktik radiologi dental, penguatan regulasi, dan edukasi dokter gigi mengenai indikasi berbasis bukti. Selain itu, ditinjau dari sisi akademik dan celah penelitian, Indonesia memiliki peluang untuk berkontribusi pada kesenjangan pengetahuan global melalui studi epidemiologi prospektif dengan desain yang lebih kuat dan data dosis aktual.

Referensi