Terapi Inhalasi Nebulizer Vs MDI Spacer Sebagai Terapi Asma Akut pada Anak di Rumah

Oleh :
dr. Nenvy Wantouw, SpA

Terapi inhalasi dengan nebulizer atau dengan MDI (metered dose inhaler) spacer, adalah dua metode yang sering digunakan sebagai terapi asma akut pada anak. Kedua metode pemberian obat secara hirupan ke dalam saluran pernapasan tersebut bertujuan memberikan obat-obatan asma secara langsung ke target organ, sehingga efek untuk mengobati gejala asma segera tercapai. Apabila dibandingkan keuntungan dari penggunaan nebulizer dengan MDI spacer, maka metode manakah yang lebih baik digunakan pasien atau orang tua pasien di rumah?[1,2]

Penggunaan terapi inhalasi sangat luas di bidang pulmonologi. Asma anak merupakan suatu kondisi kronis dan berpotensi mempengaruhi kualitas hidup anak tersebut, maupun keluarganya. Saat serangan asma, jalan napas menjadi sempit sehingga terjadi kesulitan bernapas. Terapi inisial untuk serangan asma adalah terapi inhalasi untuk membuka jalan napas agar pasien dapat kembali bernapas dengan adekuat.[1,2]

Depositphotos_5645560_s-2019-min

Kelebihan dan Kekurangan Terapi Inhalasi

Kelebihan pemberian terapi secara inhalasi di sistem respirasi adalah pemberian obat yang langsung ke organ target, sehingga awitan kerja lebih cepat, dosis yang diperlukan lebih sedikit, dan tidak melewati metabolisme lintas pertama (first pass metabolism).  Namun, terapi inhalasi membutuhkan edukasi kepada orang tua dan anak mengenai cara menggunakannya dengan benar.[2,5]

Pemberian obat asma per inhalasi sebagai pereda serangan yang tersedia saat ini adalah β2 agonis kerja pendek (short acting beta agonist/SABA). Salbutamol yang merupakan obat pilihan pertama pada asma serangan ringan-sedang, dapat digunakan di rumah atau fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Dosis salbutamol yang diberikan melalui nebulizer adalah 2,5 mg untuk anak hingga usia 5 tahun, dan 5 mg untuk anak di atas 5 tahun. Sedangkan dosis salbutamol dalam bentuk MDI spacer (100 mcg/spray) dapat diberikan 2-6 semprot setiap serangan untuk anak sampai usia 5 tahun, dan 4-12 semprot untuk anak di atas 5 tahun. Dapat diberikan salbutamol MDI spacer sebanyak 2 semprot pada 15 menit sebelum atau saat melakukan aktivitas fisik berat, misalnya olahraga, untuk mencegah terjadinya exercise induced asthma/EIA.[1-5,10]

Beberapa Jenis Alat Inhalasi

Agar dapat memberikan terapi per inhalasi, dibutuhkan alat inhalasi yang dapat mengeluarkan aerosol yang mengandung obat sehingga dapat diinhalasi oleh pasien. Beberapa jenis alat inhalasi adalah nebulizer, Metered Dose Inhaler (MDI), atau Dry Powder Inhaler (DPI) .

Alat nebulizer

Prinsip kerja nebulizer yaitu mengubah obat dalam bentuk larutan ataupun suspensi menjadi aerosol. Terdapat 3 jenis nebuliser yaitu nebuliser jet, nebuliser ultrasonik dan nebuliser mesh. Kekurangan dari penggunaan nebulizer ini adalah teknik pemakaian yang tidak mudah, biaya yang lebih besar, dan dosis obat yang terhirup pasien kadang tidak tepat. Beberapa kesalahan dalam penggunaan nebuliser di rumah, yang sering dijumpai, adalah perakitan perangkat yang tidak benar, pemilihan interface yang tidak tepat, fill-volume atau flow yang tidak tepat, tumpahan obat yang disebabkan nebuliser miring, gagal meletakkan mouthpiece di mulut selama proses nebulisasi, serta kebocoran di sekitar muka.[2-4]

Metered Dose Inhaler (MDI)

MDI merupakan alat inhalasi yang paling banyak digunakan di luar klinik saat ini, keuntungannya adalah ukuran kecil, dapat dibawa kemana-mana, harga terjangkau dan penggunaan yang nyaman. Namun, penggunaan MDI membutuhkan koordinasi antara tangan dan kemampuan inspirasi yang memadai, sehingga terapi inhalasi dengan MDI harus diberikan pada anak yang sudah mampu berkoordinasi dengan baik. Kesalahan yang sering terjadi pada penggunaan MDI adalah koordinasi tangan dan napas yang kurang, menahan napas terlalu singkat, menarik napas terlalu cepat, kurang mengocok inhaler, berhenti mendadak saat inhalasi, jumlah semprotan dalam satu kali tarikan napas, dan menyemprot melalui mulut tapi menghirup napas melalui hidung.[3,5]

Sejak awal tahun 1990-an penggunaan MDI dengan spacer mulai digunakan sebagai terapi awal untuk asma eksaserbasi ringan dan sedang pada anak. Penggunaannya dapat menurunkan angka kunjungan anak di unit gawat darurat. MDI spacer disebut aman dan efektif sebagai terapi awal anak dengan asma, karena dapat menghilangkan kesalahan dari penggunaan MDI tanpa spacer.[3,4]

cara mdi spacer

Gambar 1. Penggunaan MDI dengan spacer [7]

Dry Powder Inhaler (DPI)

Prinsip kerja dari DPI adalah mengubah obat dari bentuk serbuk kering menjadi aerosol. Penggunaan DPI memerlukan kekuatan inspirasi yang cukup (30-90 L/min) untuk memastikan dosis yang terinhalasi optimal. Anak usia di bawah 5 tahun sering kesulitan mengatur napas yang cukup sehingga tidak disarankan menggunakan DPI. Kekurangan penggunaan DPI lainnya adalah kesalahan meniup DPI yang bisa menyebabkan bubuk keluar dari chamber, dan menyebabkan bubuk obat menjadi lembab sehingga sukar dipecah menjadi aerosol. Sebelum digunakan, DPI tidak boleh dikocok karena dapat mengurangi kadar obat.[3,6]

Pemilihan Alat Inhalasi untuk Anak

Salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam pemilihan alat inhalasi adalah usia pasien. Pada pasien usia 0-3 tahun, inhalasi sebagai pereda (reliever) maupun pengendali (controller), digunakan MDI spacer dan nebulizer. Pada pasien usia 3-5 tahun, sebagai pereda digunakan MDI spacer dan nebulizer, sedangkan sebagai pengendali sudah bisa digunakan DPI bila anak dapat kooperatif. Untuk anak diatas usia 5 tahun disarankan penggunaan MDI spacer atau DPI sebagai terapi utama baik pereda maupun pengendali.[2,5,6]

Perbandingan Penggunaan Nebulizer dengan MDI Spacer di Rumah

Tatalaksana serangan asma bertujuan untuk mengatasi penyempitan saluran respiratori secepat mungkin. Penggunaan MDI spacer belakangan lebih disukai untuk serangan asma akut yang tidak berat dan tidak mengancam nyawa, dibandingkan nebulizer. Hal ini disebabkan penggunaan nebulizer lebih memakan waktu karena anak perlu duduk diam paling tidak 5 menit, membutuhkan tekanan gas atau sumber listrik untuk mengalirkan obat, meningkatkan resiko infeksi silang, dan membutuhkan perawatan alat yang rutin. Selain itu, nebulizer membutuhkan biaya yang lebih mahal karena membutuhkan masker sekali pakai.[4,5]

Sedangkan penggunaan MDI spacer bisa meningkatkan kepatuhan pasien, lebih praktis karena obat dilepaskan di dalam spacer setelah MDI dikocok dan ditekan, lalu anak bernapas seperti biasa. Keuntungan lain adalah MDI sendiri bisa dibawa oleh anak kemana-mana sehingga bisa menurunkan biaya dan dosis pemakaian. Selain itu, MDI spacer menghasilkan efek samping sistemik lebih rendah dibandingkan nebulizer. Namun, pemilihan penggunaan alat inhalasi harus didasarkan sesuai dengan indikasi dan usia pasien.[4,5,8]

Belum ada penelitian mengenai penggunaan alat inhalasi, baik nebulizer maupun MDI spacer, dengan setting di rumah. Beberapa uji klinik menyebutkan penanganan di klinik dan di unit gawat darurat dapat disamakan dengan keadaan di komunitas. Studi telaah sistematik terhadap 6 uji coba, subjek 491 anak usia <5 tahun dengan asma eksaserbasi akut di unit gawat darurat, membandingkan pemberian beta-agonis per inhalasi menggunakan alat MDI spacer dengan alat nebulizer. Studi ini menunjukkan secara signifikan terjadi penurunan angka rawat pada pasien yang menggunakan MDI spacer daripada nebulizer (OR, 0,42; 95% CI, 0,24-0,72; P=0,002). Penurunan ini bahkan lebih signifikan pada pasien anak dengan eksaserbasi sedang hingga berat (OR, 0,27; 95% CI, 0,13-0,54; P=0.0003). Selain itu, penggunaan MDI spacer lebih efektif dalam meningkatkan skor klinis pasien dibandingkan penggunaan nebulizer.[9]

Studi meta-analisis lainnya oleh Cochrane, 2013, menelaah 39 uji klinik (1897 pasien anak) yang membandingkan efektivitas pemberian beta-agonis per inhalasi menggunakan MDI dengan nebulizer di unit gawat darurat dan di komunitas (33 uji klinik), serta di ruang rawat inap (6 uji klinik). Didapatkan hasil bahwa pada pasien anak yang menggunakan nebulizer tidak lebih baik daripada MDI spacer dalam mencegah rawat inap, luaran fungsi paru sama saja. Akan tetapi, waktu tinggal di unit gawat darurat secara signifikan lebih pendek pada pasien anak yang menggunakan MDI spacer, yaitu rata-rata kurang dari 33 menit, sedangkan yang menggunakan nebulizer membutuhkan waktu tinggal rata-rata 103 menit.[8]

Kesimpulan

Penggunaan MDI spacer dapat digunakan sebagai pilihan utama dalam pemberian obat inhalasi pada anak penderita asma eksaserbasi akut. Walaupun dari segi luaran fungsi paru sama saja, baik pemberian beta-agonis menggunakan nebulizer maupun dengan MDI spacer, tetapi MDI spacer lebih memiliki keunggulan. Beberapa keuntungan menggunakan MDI spacer di rumah, adalah efektifitas penggunaan yang lebih singkat, biaya yang lebih murah, praktis dapat digunakan kapan dan dimana saja, serta efek samping dari alat maupun obat lebih minimal.

Referensi