Skrining Rutin Vitamin D: Apakah Perlu?

Oleh :
dr.Krisandryka

Beberapa tahun terakhir, skrining rutin kadar vitamin D pada populasi umum semakin sering dilakukan karena adanya kekhawatiran bahwa kadar serum vitamin D yang rendah dapat menyebabkan bermacam masalah kesehatan. Namun, skrining rutin ini ternyata juga menimbulkan masalah medis dan finansial tersendiri.

Secara umum, vitamin D berperan dalam metabolisme tulang dan mineral serta dalam menjaga imunitas. Defisiensi vitamin D dapat mengakibatkan rakitis, osteomalasia, dan beberapa penyakit nonskeletal seperti infeksi saluran pernapasan. Peran penting vitamin D dalam berbagai aspek kesehatan ini lalu menarik perhatian publik, sehingga jumlah pemeriksaan vitamin D melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir.[1-3]

shutterstock_1060710359-min

Lonjakan angka skrining vitamin D rutin ini dikhawatirkan dapat meningkatkan biaya medis yang sebenarnya tidak perlu dan juga meningkatkan penggunaan suplementasi vitamin D dosis tinggi yang justru dapat berdampak negatif pada kesehatan.[1-3]

Populasi yang Berisiko Mengalami Defisiensi Vitamin D

Data dari UK National Diet and Nutrition Survey menunjukkan bahwa 1 dari 5 orang dewasa dan 1 dari 6 anak-anak mungkin mengalami defisiensi vitamin D. Risiko ini terutama dilaporkan lebih tinggi pada anak-anak yang berusia <5 tahun, pada wanita hamil atau menyusui, pada orang yang berusia >65 tahun, dan pada orang yang tidak menerima paparan sinar matahari dalam waktu lama.[4]

Orang yang tidak menerima paparan sinar matahari yang adekuat umumnya adalah orang yang selalu mengenakan pakaian tertutup karena alasan kultural dan orang yang tidak bisa meninggalkan rumah. Selain itu, orang dengan warna kulit lebih gelap seperti orang dengan etnis Afrika dan Asia Tenggara juga memiliki risiko lebih tinggi.[4]

Rekomendasi Skrining Vitamin D

Secara umum, skrining kadar vitamin D rutin pada populasi berisiko yang asimtomatik sebenarnya tidak dianjurkan. Literatur yang ada melaporkan bahwa skrining vitamin D rutin pada orang dewasa (termasuk ibu hamil/menyusui) yang berisiko maupun pada anak yang berisiko defisiensi karena intake lewat diet yang rendah atau karena paparan sinar matahari musiman yang kurang sebenarnya tidak bermanfaat secara klinis.[4,5]

Populasi tersebut disarankan untuk diberikan suplementasi vitamin D tanpa skrining karena rekomendasi vitamin D untuk orang berisiko sebesar 400 IU atau 10 mcg/hari sebenarnya masih jauh lebih rendah daripada level toksik vitamin D (10000 IU atau 250 mcg/hari). National Institute for Health and Care Excellence (NICE) juga melakukan analisis ekonomi-kesehatan dan melaporkan bahwa praktik ini lebih efisien secara biaya daripada melakukan skrining rutin vitamin D.[4,5]

Orang yang Mungkin Membutuhkan Skrining Vitamin D

Skrining vitamin D mungkin bermanfaat pada pasien dengan kondisi klinis tertentu. National Osteoporosis Society (NOS) merekomendasikan skrining vitamin D pada pasien dengan gejala klinis yang mengarah ke osteomalasia, yakni:

  • Nyeri otot atau tulang yang bersifat generalisata
  • Miopati proksimal
  • Hipokalsemia
  • Hipofosfatemia
  • Peningkatan kadar alkali fosfatase
  • Peningkatan kadar hormon paratiroid
  • Memiliki looser zone pada X-ray, yakni suatu area hipodens (lucencies) dengan tepi sklerotik yang melewati sebagian tulang dan umumnya membentuk sudut 90 derajat dengan korteks [1,3]

NOS juga merekomendasikan skrining vitamin D pada pasien yang hendak menjalani terapi menggunakan agen antiresorptif poten seperti zoledronate atau denosumab.[3]

Pasien yang menerima obat-obatan yang mengganggu metabolisme vitamin D seperti phenobarbital, carbamazepine, phenytoin, dan valproat juga dapat menjalani skrining. Selain itu, skrining juga mungkin bermanfaat pada pasien yang menerima obat yang mengganggu absorbsi vitamin D, contohnya kolestiramin.[5]

Kontroversi Seputar Rekomendasi Skrining Kadar Vitamin D

Meskipun saat ini terdapat konsensus bahwa skrining rutin kadar vitamin D pada pasien asimtomatik dengan risiko defisiensi sebenarnya tidak bermanfaat, konsensus tentang indikasi skrining vitamin D sebenarnya masih diperdebatkan. Berbagai rekomendasi indikasi pemeriksaan vitamin D yang beredar memiliki basis bukti yang relatif lemah dan berasal dari opini ahli.[1,2]

Masih terdapat perdebatan apakah pemeriksaan vitamin D perlu dilakukan pada pasien dengan hipoparatiroidisme, hiperparatiroidisme, dan gagal ginjal kronik. Selain itu, terdapat pula kontroversi tentang perlu atau tidaknya pemeriksaan pada semua pasien osteoporosis karena kelompok ini umumnya sudah mendapat suplementasi vitamin D secara rutin.[1,6]

Klinisi juga perlu menyadari bahwa pemeriksaan kadar 25-hydroxyvitamin D serum bisa menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan antar assay dan antar laboratorium. Standarisasi lebih lanjut masih diperlukan.[1]

Kerugian Skrining Vitamin D Secara Rutin

Rekomendasi Public Health England juga menyatakan bahwa pemberian suplementasi vitamin D sebanyak 400 IU (10 mcg/hari) pada populasi berisiko (orang yang berkulit gelap, orang yang jarang terekspos sinar matahari, bayi berusia <1 tahun yang mendapat ASI, dan semua anak berusia 1–4 tahun) umumnya tidak berbahaya, sehingga skrining vitamin D rutin pada mayoritas populasi tidak diperlukan. Skrining yang tidak perlu dapat meningkatkan beban finansial dan risiko medis.[1,6]

Peningkatan Beban Finansial dan Risiko Kesehatan

Bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa pemeriksaan kadar vitamin D serum yang tidak kritis dapat meningkatkan biaya perawatan kesehatan secara signifikan. Ditambah lagi, ketika ditemukan konsentrasi vitamin D yang rendah, klinisi umumnya meresepkan suplementasi dosis tinggi untuk segera menormalkan angka tersebut.

Sebuah studi pada wanita lanjut usia menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D dosis tinggi (500000 IU kolekalsiferol per tahun) mengakibatkan angka kejadian jatuh dan fraktur lebih tinggi daripada plasebo serta berpotensi menimbulkan polifarmasi.[1,3]

Studi di Inggris mencatat kurang dari 100 pemeriksaan vitamin D per tahun dalam Northumbria Healthcare NHS Foundation Trust pada tahun 2002–2007. Angka ini lalu meningkat secara signifikan pada 2008–2016 menjadi 22871 pemeriksaan per tahun. Hal ini diiringi dengan peningkatan biaya pembelian kolekalsiferol dosis tinggi (20000 IU), dari £1,000 per tahun pada 2012 menjadi £22,000 per tahun pada 2016.[3]

Studi lain di Inggris juga menunjukkan peningkatan biaya >15 kali lipat antara 2008 dan 2013 untuk pemeriksaan dan suplementasi vitamin D pada anak-anak di pelayanan kesehatan primer. Studi tersebut menyatakan bahwa skrining status vitamin D pada anak-anak tanpa faktor risiko atau gejala klinis spesifik menambah pengeluaran biaya yang sebenarnya bisa dihindari.[7]

Kesimpulan

Jumlah skrining rutin vitamin D meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, sehingga terjadi juga peningkatan peresepan suplementasi vitamin D dosis tinggi. Namun, sebagian besar skrining ini tidak memiliki justifikasi klinis, sehingga skrining rutin vitamin D justru menambah beban biaya yang tidak perlu.

Saat ini masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan indikasi skrining vitamin D. Namun, literatur yang ada menunjukkan bahwa pemberian suplementasi vitamin D pada populasi berisiko yang asimtomatik tanpa didahului skrining bersifat lebih ekonomis dan tidak menimbulkan dampak negatif secara medis. Skrining vitamin D hanya dianjurkan bagi pasien yang simtomatik defisiensi dan bagi pasien dengan kondisi medis tertentu seperti osteomalasia.

Referensi