Risiko Miokarditis, Perikarditis, dan Aritmia terkait Infeksi SARS-CoV-2 atau Vaksinasi COVID-19 - Telaah Jurnal

Oleh :
dr. Hendra Gunawan SpPD

Risks of myocarditis, pericarditis, and cardiac arrhythmias associated with COVID-19 vaccination or SARS-CoV-2 infection

Patone M. Mei XW. Handunnetthi L. Dixon S. et al. Nature Medicine, 2021. https://www.nature.com/articles/s41591-021-01630-0#citeas

Abstrak

Miokarditis dan perikarditis sebagai efek samping vaksinasi COVID-19 masih belum dikaji secara ilmiah. Namun, telah ada laporan kedua kondisi ini setelah pemberian vaksin COVID-19 pada populasi umum.

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Penelitian ini mengumpulkan kasus kontrol pada satu pusat kesehatan di Inggris Raya, dengan subyek berusia ≥16 tahun yang menerima vaksinasi COVID-19 antara 1 Desember 2020 dan 24 Agustus 2021. Subjek diinvestigasi terkait perawatan di rumah sakit atau kematian akibat miokarditis, perikarditis, atau aritmia pada 1–28 hari pasca vaksinasi adenovirus (ChAdOx1, n=20.651.911) atau vaksin berbasis mRNA (BNT162b2, n=16.933.3898; mRNA-1273, n=1.006.191), serta pasca infeksi COVID-19 (n=3.028.867).

Penelitian ini menemukan peningkatan risiko miokarditis setelah dosis pertama vaksin AstraZeneca (ChAdOx1) dan vaksin Pfizer (BNT162b2),  serta setekag dosis pertama dan kedua vaksin Moderna (mRNA-1273) dalam rentang waktu 1–28 hari pasca vaksinasi. Peningkatan kasus juga ditemukan pada pasien pasca COVID-19.

Diperkirakan insidens miokarditis pasca vaksin pertama AstraZeneca sebesar 2:1.000.000 (95% IK 0,3), Pfizer sebesar 1:1.000.000 (95%IK 0,2), dan Moderna 6:1.000.000 (95%IK 2,8). Insidens miokarditis pasca vaksinasi kedua dengan Moderna diperkirakan meningkat hingga 10:1.000.000 (95%IK 7,11).

Sementara itu, insidens miokarditis pasca positif infeksi COVID-19 diperkirakan 40:1.000.000 kasus (95%IK 38,41). Selain itu, didapatkan kasus perikarditis dan aritmia pasca infeksi COVID-19, tetapi tidak didapatkan pada individu pasca vaksinasi. Analisis subgrup melaporkan bahwa peningkatan risiko miokarditis pada vaksin berbasis mRNA meningkat pada kelompok usia <40 tahun.

Risiko Miokarditis Perikarditis dan Aritmia terkait Infeksi SARS-CoV-2 atau Vaksinasi COVID-19-min

Ulasan Alomedika

Di seluruh dunia, program vaksinasi telah gencar dilakukan sejak 2021.[1] Seiring dengan gencarnya program vaksinasi COVID-19 dalam usaha memutus rantai penularan penyakit COVID-19, berbagai laporan mengenai insidens efek samping yang jarang didapatkan pun mulai dilaporkan.

Miokarditis, suatu proses inflamasi pada otot jantung merupakan luaran yang tidak diamati sebagai efek samping pada proses pengembangan vaksin COVID-19. Dalam perkembangannya, berbagai laporan kasus melaporkan adanya peningkatan miokarditis pasca vaksinasi pada populasi umum saat program vaksinasi mulai dijalankan.[2] Hal ini, membuat peneliti melakukan penyelidikan apakah program vaksinasi yang saat ini ada terkait dengan peningkatan terjadinya miokarditis.

Ulasan Metode Penelitian

Desain penelitian ini ada studi kasus kontrol. Penelitian ini menggunakan mahadata dari imunisasi COVID-19 di Inggris Raya yang dilakukan dengan berbagai jenis vaksin dengan tujuan awal mengamati profil keamanan vaksinasi. Analisis yang dilakukan harus dilakukan penyesuaian tergantung dari jenis variabel yang diamati dan adanya potensi variabel perancu. Dalam hal ini, usia dan jenis kelamin merupakan salah yang diduga dapat menjadi perancu dan luaran dari penelitian adalah luaran kardiovaskular yang terkait terhadap infeksi COVID-19 maupun vaksinasi COVID-19.

Ulasan Hasil Penelitian

Hasil penelitian dibagi berdasarkan luaran yang diamati: miokarditis, perikarditis, dan aritmia. Selain itu luaran juga dianalisis berdasarkan usia dan jenis kelamin. Subyek penelitian ini sebagian besar menggunakan vaksin ChAdOx1 (Oxford, AstraZenaca) yang merupakan vaksin yang diproduksi oleh Inggris raya secara lokal sehingga proporsi antara penggunaan vaksin ChAdOx1, BNT162b2(BioNTech, Pfizer), dan mRNA-1273(Moderna) tidak imbang. Sebanyak 7,8% subyek yang telah menjalani minimal satu dosis vaksinasi terinfeksi virus SARS-CoV-2, dengan rincian 1,8% terinfeksi setelah vaksinasi pertama dan 0,6% terinfeksi setelah vaksinasi dosis kedua.

Miocarditis

Sebanyak 0,004% (1.615) dirawat atau meninggal oleh karena miokarditis dalam periode studi dilakukan, dengan proporsi 0,001% terjadi pada rentang hari ke-1 sampai 28 pasca vaksinasi, baik dosis pertama maupun kedua. Sebanyak 359 subyek terinfeksi SARS-CoV-2 dengan 287 subyek terinfeksi sebelum menerima vaksinasi. Kematian oleh karena myocarditis terjadi pada 114 subyek. Peningkatan risiko myocarditis terjadi dalam 1-28 hari pasca vaksinasi ChAdOx1 (IRR 1,29; 95%IK 1,05-1,58), BNT162b2 (IRR 1,31; 95%IK 1,03-1,66), dan mRNA-1273 (IRR 2,97; 95% IK: 1,38-6,58), sedangkan pada pemberian dosis kedua peningkatan risiko yang bermakna secara statistik didapatkan pada mRNA-1273 (IRR: 9,84; 95%IK 2,69-36,03). Risiko myocarditis sendiri juga meningkat dalam 1-28 hari pasca terinfeksi SARS-CoV-2 (IRR 9,76; 95%IK 7,51-12,69).

Perikarditis

Sebanyak 1.574 subyek (0,004%) dirawat atau meninggal oleh karena perikarditis pada periode studi dilakukan. Sebanyak 356 subyek (0,001%) kasus perikarditis terjadi pada hari ke-1 hingga 28 setelah dilakukan vaksinasi. Sebanyak 188 subyek dengan perikarditis memiliki riwayat terinfeksi SARS-CoV-2 dan 154 subyek dengan perikarditis terjadi sebelum vaksinasi. Dari data tersebut didapatkan adanya penurunan perikaarditis setelah pemberian dosis ChAdOx1 pertama (IRR 0,74, 95%IK 0,59-0,92) dan tidak didapatkan temuan yang bermakna secara statistik pada vaksin lainnya.

Aritmia

Dari studi ini didapatkan 385.308 (1,0%) subyek memiliki riwayat dirawat atau meninggal oleh karena aritmia kardiak terlepas dari waktu dilakukannya vaksinasi. Sebanyak 86.754 subyek mengalami aritmia pada hari ke-1 sampai 28 pasca dilakukan vaksinasi dosis pertama atau kedua dan 39.897 subyek memiliki riwayat terinfeksi virus SARS-CoV-2. Dari analisis didapatkan bahwa risiko terjadinya aritmia menurun dengan vaksinasi dosis pertama ChAdOx1 (IRR 0,94; 95%IK 0,93-0,96) dan BNT162b2 (IRR 0,89; 95%IK 0,87-0,90). Namun, risiko aritmia meningkat pada vaksinasi kedua vaksin mRNA-1273 (IRR 1,46; 95%IK 1,08-1,98) dan infeksi SARS-CoV-2 (IRR 5,35; 95%IK 5,21-5,50).

Analisis subgrup

Pada analisis subgrup oleh usia, didapatkan peningkatan risiko miokarditis pada kelompok usia 40 tahun pasca pemberian vaksinasi BNT162b2 pertama (IRR 1,83; 95%IK 1,20-2,79) dan mRNA-1273 pertama (IRR: 3,89; 95%IK 1,60-9,44), dan setelah vaksinasi BNT162b2 kedua (IRR 3,40; 95%IK 1,91-6,04) dan mRNA-1273 kedua (IRR 20,71; 95%IK 4,02-106,68). Hal sebaliknya, pada kelompok usia 40 tahun, peningkatan risiko miokarditis justru dijumpai pada pemberian vaksinasi ChAdOx1 (IRR 1,33; 95%IK: 1,06-1,67).

Bila dianalisis berdasarkan jenis kelamin, perempuan memiliki risiko miokarditis dalam 1-28 hari pasca pemberian vaksinasi ChAdOx1 (IRR 1,40, 95%IK 1,01-1,93) dan BNT162b2 (IRR 1,54, 95%IK 1,08-2,20). Sedangkan pada laki-laki peningkatan risiko miokarditis dalam 1-28 hari pasca pemberian vaksinasi dijumpai pada vaksin mRNA-1273 dosis pertama (IRR 3,79; 95%IK 1,59-9,04) dan kedua (IRR 12,27; 95%IK 2,77-54,37).

Kelebihan penelitian

Penelitian ini merupakan salah satu penelitian yang meneliti efek samping vaksin yang jarang dijumpai dalam skala besar. Hal ini memberikan wacana baru bagi para klinisi maupun vaksinator untuk memperhatikan pasien dan melakukan monitoring secara berkala untuk mendeteksi kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

Kekurangan Penelitian

Pada penelitian ini memiliki beberapa kelemahan seperti jumlah subyek yang menerima vaksin masih belum seimbang tercermin dari lebarnya interval kepercayaan dari hasil penelitian vaksin mRNA-1273. Selain itu, pada penelitian ini menggunakan Real World Data sehingga sampling dan randomisasi tidak dapat dilakukan. Dibutuhkan stratifikasi subgrup lebih banyak pada berbagai komorbid yang mungkin dapat menjadi perancu pada variabel luaran kardiovaskular.

Aplikasi Penelitian di Indonesia

Penelitian ini merupakan salah satu aplikasi dari telaah Real World Data. Aplikasi di Indonesia masih belum dapat dilakukan secara mentah tanpa telaah analisis lebih dalam mengingat di Indonesia sebaran mayoritas vaksinasi mungkin berbeda dengan yang dijumpai di Inggris Raya, selain itu karakteristik masyarakat dan komorbid yang berbeda dapat menyebabkan hasil luaran yang mungkin tidak sama dibandingkan dengan Inggris Raya.

Risiko miokarditis tertinggi dengan vaksin mRNA-1273(Moderna) pada pasien laki-laki berusia kurang dari 40 tahun. Ulasan seperti ini dan penelitian lain mendeteksi efek samping vaksin yang jarang namun serius dan dapat digunakan untuk menginformasikan strategi vaksin COVID-19 dan mencocokkan jenis vaksin dengan demografi pasien. Namun, vaksinasi masih tetap dilakukan mengingat manfaatnya dalam memutus rantai penularan penyakit COVID-19.

Referensi