Progesteron Oral VS Per Vaginam untuk Tata Laksana Abortus Imminens

Oleh :
dr. Novita

Progesteron sediaan oral maupun per vaginam sering digunakan dalam tata laksana abortus imminens. Menurut WHO, abortus imminens adalah munculnya perdarahan dari jalan lahir dengan atau tanpa nyeri perut yang terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu. Abortus imminens dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti gangguan kromosom pada fetus, infeksi selama kehamilan, penyakit kronik seperti penyakit tiroid atau diabetes, gaya hidup yang tidak sehat, dan rendahnya kadar hormon progesteron pada masa awal kehamilan. [1-3]

Progesteron diberikan sebagai tata laksana abortus imminens karena adanya teori yang menyatakan bahwa kadar progesteron yang kurang dapat menyebabkan abortus. Efikasi pemberian terapi progesteron pada abortus imminens sudah didukung oleh beberapa studi, hanya saja jenis rute pemberian terapi progesteron yang terbaik masih menjadi perdebatan hingga saat ini. [4,5] Walaupun demikian, perlu diketahui bahwa sebuah uji klinis terbaru menunjukkan bahwa progesteron tidak menurunkan risiko keguguran.

progesteron

Abortus Imminens dan Progesteron

Abortus imminens adalah perdarahan per vaginam dengan atau tanpa nyeri perut, serviks masih dalam keadaan tertutup, dan janin masih hidup dan berada dalam uterus (viable). Abortus dapat disebabkan oleh gangguan kromosom pada fetus, infeksi selama kehamilan, penyakit kronik, dan gaya hidup yang tidak sehat. Selain itu, terdapat sebuah teori yang menyatakan bahwa abortus juga dipicu dan dipengaruhi oleh rendahnya kadar progesteron, terutama pada masa awal kehamilan.

Progesteron adalah hormon yang dihasilkan oleh korpus luteum pada masa-masa awal kehamilan, sebelum pada akhirnya diambil alih oleh plasenta pada minggu ke 10 – 12.

Fungsi dari progesteron selama kehamilan adalah mempersiapkan uterus untuk proses implantasi embrio dengan cara mempengaruhi proses sekresi dinding endometrium, menekan kontraksi uterus, serta memodulasi respon imun untuk mencegah terjadinya penolakan janin. Progesteron juga dapat merelaksasi miometrium, menghambat aksi dari oksitosin, dan menginhibisi terbentuknya gap junction agar dapat mempertahankan kehamilan.  Pada sebuah penelitian yang dilakukan pada tikus, kadar progesteron yang cukup selama masa kehamilan dapat memicu limfosit untuk mensintesis mediator yang disebut mediator antiabortus atau Progesterone Induced Blocking Factor (PIBF). [2,5-7]

Progesteron Oral VS Per Vaginam untuk Tata Laksana Abortus Imminens

Rute pemberian progesteron terbagi dalam 3 cara yakni per oral, supositori intravaginal, maupun intramuskular. Di antara ketiganya, rute pemberian melalui per oral dan supositori lebih dianjurkan karena sifatnya noninvasif dan memiliki lebih sedikit efek samping jika dibandingkan dengan rute intramuskular. Namun, perbandingan efikasi antara rute oral dan per vaginam belum banyak diketahui klinisi. [8,9]

Terkait hal ini, sebuah tinjauan sistematik oleh Lee, et al, yang dipublikasikan pada tahun 2017 menganalisis mengenai efikasi progesteron untuk tata laksana abortus imminens. Studi ini menganalisis 9 randomized controlled trial (RCT) dengan total sampel 913 ibu hamil. Hasil studi menunjukkan bahwa terapi progesteron efektif untuk tata laksana abortus imminens. Secara spesifik, studi ini menunjukkan bahwa kejadian keguguran lebih rendah pada pasien yang mendapat progesteron oral (11,7%) dibandingkan progesteron per vaginam (15,4%). [10]

Senada dengan tinjauan sistematik Lee et al, sebuah RCT oleh Wang et al menemukan bahwa progesteron per oral lebih efektif dalam menurunkan risiko abortus. Studi ini juga menemukan bahwa sediaan dydrogesterone lebih baik dibandingkan natural progesterone. [11]

Tinjauan Cochrane yang dipublikasikan pada tahun 2018 juga menemukan hal serupa, yaitu progesteron sediaan oral efektif dalam tata laksana abortus imminens. Selain itu, analisis menunjukkan bahwa progesteron per vaginam memiliki efek yang sangat kecil dalam menurunkan risiko keguguran. [4]

Sayangnya, hasil analisis dalam tiga studi di atas tidak merekomendasikan dosis progesterone yang terbaik untuk tata laksana abortus imminens. [4,10,11]

Kesimpulan

Progesteron sering dipakai untuk tata laksana abortus imminens. Hal ini didasarkan pada teori bahwa salah satu penyebab abortus adalah kadar progesteron yang rendah.

Progesteron mampu mempengaruhi sekresi dinding endometrium, mengurangi kontraksi uterus, memodulasi respon imun untuk mencegah penolakan janin, dan merelaksasi miometrium.

Studi yang ada menunjukkan bahwa progesteron oral memiliki efikasi lebih tinggi dalam mencegah abortus imminens dibandingkan progesteron per vaginam. Selain itu, sebuah uji klinis menemukan bahwa dydrogesterone lebih baik dibandingkan natural progesterone dalam tata laksana abortus imminens.

Referensi