Terapi Enzim pada Diare Akut Anak

Oleh :
dr. Immanuel Natanael Tarigan

Pada negara berkembang seperti Indonesia, diare pada anak menjadi salah satu penyakit yang paling sering ditemukan pada praktik sehari-hari. Penggunaan terapi enzim sebagai salah satu modalitas terapi marak ditemukan. Namun, tidak banyak yang mengetahui bagaimana dukungan bukti ilmiah pada penggunaan terapi kombinasi enzim pankreas.

Diare menjadi salah satu penyebab kesakitan dan kematian utama pada anak di bawah lima tahun. Diare juga merupakan salah satu kontributor malnutrisi yang signifikan di negara berkembang. Diperkirakan sekitar 1,4 miliar kasus diare terjadi setiap tahun, dengan angka kematian mencapai 2,5 juta orang per tahun. Anak di negara berkembang dilaporkan dapat mengalami diare 6-7 kali per tahun. Di Indonesia, diperkirakan prevalensi diare pada anak balita adalah 11% dengan prevalensi tertinggi pada neonatus mencapai 19,4%.[1]

child stomachache

Penanganan diare akut pada anak didasarkan pada kecurigaan etiologi penyebabnya. Selain itu, penatalaksanaan klinis pasien diare didasarkan pada status hidrasi pasien. Tujuan pengobatan adalah mencegah dehidrasi pada pasien yang datang tanpa gejala dehidrasi, serta rehidrasi oral maupun parenteral pada pasien yang datang dengan gejala dehidrasi. Penatalaksanaan juga bertujuan untuk mengurangi durasi dan keparahan penyakit serta mencegah kekambuhan dengan suplementasi zinc.[2]

Mengetahui etiologi diare menjadi penting untuk menentukan terapi definitif. Etiologi diare akut pada anak yang paling sering adalah infeksi rotavirus.[3]

Pemberian Terapi Enzim Pada Diare Akut

Terapi enzim semakin marak digunakan untuk mengatasi diare akut pada anak. Terapi enzim yang beredar di pasaran terdiri atas campuran lipase, protease, dan amilase. Pada sediaan komersil, terapi enzim juga mengandung mineral dan vitamin lain, serta dipasarkan sebagai sediaan multivitamin dan enzim yang penting untuk tubuh. Obat-obat ini dijual dengan jargon kemampuan mengatasi berbagai gejala saluran cerna.

Panduan WHO untuk terapi diare akut tidak menyebutkan penggunaan terapi enzim sebagai modalitas terapi.[2] Begitu  pula panduan pelayanan medis IDAI yang dikeluarkan tahun 2009 tidak menyebutkan terapi enzim sebagai modalitas terapi diare akut pada anak.[4]

Penggunaan terapi enzim kombinasi diindikasikan pada insufisiensi enzim pankreas eksokrin akibat beberapa penyakt misalnya pankreatitis kronis, kanker pankreas, kistik fibrosis, atau diabetes.[5] Terapi kombinasi enzim tidak diindikasikan untuk mengatasi diare akut pada anak.

Diare Pada Gangguan Pankreas

Pada kasus yang terbatas, suplementasi enzim dapat diberikan pada kasus diare akibat gangguan pada pankreas. Namun, diare akibat pankreatitis biasanya bermanifestasi secara kronis, bukan akut. Diare pada gangguan pankreas tidak muncul sebagai manifestasi klinis utama.

Diare dapat terjadi sebagai manifestasi pada pankreatitis kronis. Pada kasus pankreatitis kronis dapat terjadi perubahan struktur parenkim pankreas akibat inflamasi. Perubahan struktur ini menyebabkan penurunan fungsi organ pankreas. Akibat kekurangan enzim, digesti makanan secara optimal tidak terjadi di duodenum tetapi dan saluran cerna yang lebih distal. Akibatnya terjadi penurunan absorbsi nutrisi akibat percepatan pengosongan gastroduodenum dan usus halus. Pada berbagai kondisi yang menyebabkan insufisiensi lipase dan protease berat pada pasien, terjadi absorbsi mikronutrien yang tidak optimal dan diekskresikan dalam feses. Insufisiensi amilase menyebabkan malabsorbsi karbohidrat. Karbohidrat yang tidak diabsorbsi akan secara cepat dimetabolisme oleh flora normal tubuh. Proses metabolisme ini menghasilkan molekul karbohidrat yang lebih kecil, lebih aktif secara osmotik dan lebih asam. Molekul ini dapat menyebabkan diare pada pasien.[6,7]

Diare pada pankreatitis kronis dinyatakan sebagai steatore. Steatore ditandai dengan dengan feses berbusa, berbau busuk, dan mengambang yang terjadi akibat kandungan lemak yang tinggi. Steatore biasanya disertai dengan manifestasi klinis lain seperti penurunan berat badan, nyeri perut dan distensi abdomen. Steatore biasanya muncul pada pasien yang produksi enzim pankreasnya kurang dari 90% kadar normal.[6,7]

Indikasi untuk Pemberian Terapi Enzim

Satu-satunya indikasi pemberian terapi enzim adalah apabila terjadi insufisiensi enzim pankreas. Pada pasien yang tidak dapat dibuktikan ada tidaknya gangguan insufisiensi enzim, pemberian terapi enzim dapat dibenarkan bila didukung oleh gejala klinis yang khas. Gejala klinis tersebut misalnya meteorismus, diare, steatore, dan/atau penurunan berat badan. Pemberian terapi enzim pankreas juga dapat dibenarkan pada pasien dengan insufiensi pankreas fungsional seperti pada pasien pasca operasi gaster atau pankreas atau enteropati yang sensitif terhadap gluten.[8]

Pemberian terapi enzim pankreas disesuaikan dengan gejala klinis masing-masing penderita. Dosis awal dapat diberikan 25000 hingga 40000 IU lipase per makan utama. Lipase juga diberikan pada makan ringan atau cemilan bergantung porsinya, dengan dosis setidaknya 10000 IU. Pemberian enzim pankreas dilakukan bersamaan dengan makan, agar dapat tercampur dengan baik. Dosis dapat ditingkatkan secara berkala, dengan memperhatikan respons klinis pasien. [8]

Pada pasien anak dengan diare akut, etiologi tersering adalah infeksi rotavirus. Pada keadaan ini, asupan kalori memang dapat berkurang, namun akan kembali normal setelah penyembuhan. Selain itu, pada kebanyakan anak dengan diare akut, aktivitas enzim pencernaan tidak mengalami gangguan, sehingga pemberian terapi enzim pada anak dengan diare akut adalah tidak rasional. [10]

Kesimpulan

Pemberian terapi enzim seperti pemberian kombinasi lipase, amilase, dan protease untuk mengatasi diare akut pada anak merupakan praktik yang marak ditemui. Namun demikian, tidak ditemukan bukti yang mendukung praktik ini.

Pemberian terapi enzim dapat dilakukan pada kasus insufisiensi pankreas, dimana memang salah satu manifestasi klinis yang dapat ditemukan adalah diare steatore. Sedangkan penatalaksanaan diare akut pada anak harus didasarkan kepada etiologinya. Mengingat bahwa etiologi diare anak yang paling banyak adalah virus maka pemberian terapi harus disesuaikan dengan hal tersebut.

Tujuan utama penanganan diare akut pada anak adalah mencegah terjadinya dehidrasi pada pasien yang belum dehidrasi dan mengatasi dehidrasi yang terjadi pada pasien yang datang dalam kondisi dehidrasi. Rehidrasi, baik rehidrasi oral atau intravena, adalah kunci penanganan diare akut pada anak. Terapi lain seperti zinc dapat diberikan guna mengurangi durasi, keparahan, dan risiko diare berulang. Sedangkan pemberian terapi enzim kombinasi saat ini belum didukung oleh bukti-bukti yang kuat dan belum masuk dalam panduan penatalaksanaan diare akut pada anak oleh WHO maupun IDAI.

Referensi