Penggunaan Antibiotik Secara Rutin Tidak Bermanfaat untuk Penanganan Divertikulitis Akut

Oleh :
dr. Alexandra Francesca Chandra

Antibiotik sering kali digunakan secara rutin sebagai bagian dari penanganan divertikulitis akut. Walau demikian, bukti ilmiah menunjukkan penggunaan antibiotik secara rutin tidak bermanfaat untuk penanganan divertikulitis akut.

Divertikulitis akut merupakan kondisi inflamasi pada divertikulum yang jelas terlihat secara makroskopis dan klinis (simtomatik).[1] Divertikulitis akut adalah diagnosis saluran pencernaan ketiga tersering pada rawat inap di Amerika Serikat. Selain itu, penyakit ini juga banyak ditemukan pada IGD atau poli rawat jalan.[1]

Divertikulitis akut terjadi pada 4% pasien yang mengalami divertikulosis.[2] Delapan puluh lima persen kasus divertikulitis akut tidak menyebabkan komplikasi, 15% sisanya dapat mengalami komplikasi seperti: abses, obstruksi usus besar, perforasi urus, maupun formasi fistula. Kasus rekurensi terjadi sekitar 15-30%, walau pasien sudah ditangani sesuai prosedur standar.[3]

Depositphotos_60338567_s-2019_compressed

Rekomendasi Terkini Penggunaan Antibiotik pada Divertikulitis Akut

Penanganan terkini divertikulitis akut didasarkan pada pedoman yang dipublikasikan American Gastroenterological Association (AGA). Salah satu yang menjadi fokus dalam pedoman terbaru adalah rekomendasi penggunaan antibiotik pada penanganan kasus divertikulitis akut.[1]  Selain itu, Vennix, et al. dan komite penelitian European Society of Coloproctocology (ESCP) dalam sebuah meta analisis membandingkan beberapa pedoman internasional mengenai divertikulitis akut, antara lain: pedoman American Society of Colon and Rectal Surgeons (ASCRS) tahun 2006, pedoman Association of Coloproctology of Great Britain and Ireland (ACPGBI) tahun 2011, pedoman Association of Surgeons of The Netherlands (ASN) tahun 2012, dan pedoman Danish Surgical Society tahun 2011. Sebagian besar pedoman tersebut tidak merekomendasikan penggunaan antibiotik rutin pada divertikulitis akut. [10]

Beberapa antibiotik yang paling banyak digunakan pada saat ini, antara lain: metronidazol yang dikombinasikan dengan ciprofloxacin, amoxiclav, atau sefalosporin seperti cefpodoxime.[4]

Bukti Ilmiah yang Mendukung Penggunaan Antibiotik untuk Divertikulitis Akut

Satu studi oleh Alonso, et al. mengemukakan bahwa protokol pemberian antibiotik selama 7 hari per oral menghasilkan luaran 68 dari 70 pasien sembuh tanpa komplikasi, dan 2 pasien memerlukan perawatan di rumah sakit.[5] Studi lain oleh Park, et al. membandingkan grup pasien yang dirawat dengan antibiotik per oral selama 4 hari tanpa restriksi diet dengan antibiotik intravena selama 7-10 hari namun dengan puasa, didapatkan hasil bahwa pada kedua grup tidak ada kegagalan terapi dan seluruh pasien sembuh.

Dapat disimpulkan bahwa protokol pemberian antibiotik pada kasus divertikulitis akut memberikan luaran yang baik meski dengan protokol pemberian yang bervariasi.[6]

Bukti Ilmiah yang Menentang Penggunaan Antibiotik untuk Divertikulitis Akut

Dua studi randomized trial menunjukkan tidak adanya keuntungan dari penggunaan antibiotik pada sejumlah pasien dengan divertikulitis tanpa komplikasi.[7,8] Chabok, et al. melaporkan bahwa penggunaan antibiotik pada divertikulitis akut tanpa komplikasi tidak menunjukkan adanya perbedaan luaran secara signifikan dan merekomendasikan bahwa penggunaan antibiotik sebaiknya dilakukan hanya pada kasus dengan komplikasi.[7]

Isacson, et al. melakukan studi retrospektif berbasis populasi dengan memperhatikan penerapan aturan "pengobatan tanpa antibiotik" pada kasus divertikulitis akut tanpa komplikasi, dan didapati bahwa metode tersebut terbukti aman dan tidak ditemukan adanya angka rekurensi dan komplikasi yang signifikan.[8] Selain itu, studi oleh Daniels, et al. juga tidak menemukan adanya perbedaan signifikan antara pasien yang ditangani dengan antibiotik dan tanpa antibiotik dalam hal waktu penyembuhan.

Penelitian yang sama juga tidak menemukan perbedaan signfikan dalam hal kejadian komplikasi, rekurensi, angka reseksi sigmoid, angka masuk rumah sakit berulang, serta mortalitas pada pasien yang ditangani dengan dan tanpa antibiotik.[9]

Pedoman AGA juga mengkaji penggunaan antibiotik Rifaximin pada pencegahan rekurensi kasus divertikulitis akut. Disimpulkan bahwa penggunaan Rifaximin tidak direkomendasikan, karena bukti yang tidak signifikan dan efek penggunaan Rifaximin yang masih belum jelas.[1]

Vennix, et al. serta komite penelitian ESCP juga tidak merekomendasikan penggunaan antibiotik baik per oral, maupun intravena, untuk kasus divertikulitis akut tanpa komplikasi, namun dapat dipertimbangkan untuk mencegah sepsis.[1]

Penggunaan Antibiotik untuk Divertikulitis Akut secara Selektif

Berbagai studi di atas merekomendasikan penggunaan antibiotik secara selektif pada kasus divertikulitis akut. Hal ini didasarkan pada konsep divertikulitis yang lebih condong sebagai suatu penyakit inflamasi, bukan infeksi, sehingga penggunaan antibiotik sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Antibiotik sebaiknya diberikan pada pasien divertikulitis akut dengan kondisi:

  • Immunocompromised
  • Memiliki komorbiditas signifikan
  • Sedang hamil
  • Adanya tanda-tanda systemic inflamamtory response syndrome (SIRS) atau sepsis[1,3,10]

Pada kasus lain tanpa kondisi-kondisi di atas, maka penggunaan antibiotik untuk penanganan divertikulitis akut dilakukan secara selektif (tidak rutin). Pertimbangan pemberian antibiotik dilakukan per individu.[1]

Kesimpulan

Menurut rekomendasi American Gastroenterological Association (AGA), European Society of Coloproctology (ESCP), dan berbagai studi randomized controlled trial, penggunaan antiobiotik pada penanganan divertikulitis akut sebaiknya tidak dilakukan pada kasus akut tanpa komplikasi karena tidak terbukti menguntungkan, dan sebaiknya digunakan hanya untuk kasus-kasus spesifik seperti kasus dengan pasien immunocompromised, adanya komorbiditas signifikan, sedang hamil, serta terdapat tanda-tanda systemic inflammatory response syndrome (SIRS) atau sepsis. Pada pasien tanpa komplikasi atau komorbid, pemberian antibiotik tidak memiliki manfaat, malah meningkatkan risiko resistensi antibiotik dan menambah biaya yang tidak perlu.

Referensi