Penatalaksanaan Askariasis Intestinal pada Anak Usia Bawah 6 Tahun

Oleh dr. Alexandra Francesca

Penatalaksanaan askariasis pada anak berusia di bawah 6 tahun amat penting agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Askariasis merupakan infeksi cacing yang sering ditemukan dalam praktik klinis pada negara-negara tropis/subtropis, termasuk Indonesia, umumnya pada anak-anak. Infeksi ini umumnya terjadi apabila anak-anak tidak mencuci tangan setelah bermain yang kontak dengan tanah yang terkontaminasi cacing dan kemudian menyentuh mulutnya, baik sengaja ataupun tidak. Selain itu, askariasis juga bisa disebabkan karena memakan sayur/buah yang terkontaminasi cacing serta tidak dicuci bersih. Ada berbagai obat cacing yang dikenal di pasaran (misalnya albendazole, mebendazole, pirantel pamoat, atau ivermectin), tetapi keamanan dari penggunaan obat-obat tersebut pada anak-anak masih belum sepenuhnya dipahami.

Askariasis merupakan penyakit infeksi parasit yang disebabkan cacing gelang (nematoda), Ascaris lumbricoides, yang umumnya menyerang usus halus pada individu yang tinggal di area tropis/subtropis. Askariasis merupakan infeksi nematoda tersering di dunia. Menurut statistik, Ascaris lumbricoides menjangkit sekitar 1.2-1.5 miliar orang yang tinggal di area tropis/subtropis. Di Amerika Serikat, askariasis diestimasi mencapai 4 juta kasus.[1] Di Indonesia sendiri, prevalensi kecacingan berkisar antara 60-90% anak usia sekolah. Penelitian pada tujuh sekolah di lima wilayah DKI Jakarta menunjukkan bahwa kecacingan paling banyak ditemukan di Jakarta Utara (49.02%), di mana 80% diantaranya disebabkan oleh Ascaris lumbricoides.[2]

Agen antihelmintik yang menjadi pilihan di Amerika Serikat sejauh ini adalah albendazole, mebendazole, dan pirantel pamoat, dengan efektivitas secara berturut-turut 95%, 88%, dan 88%.[1]  Menurut rekomendasi World Health Organization (WHO), penanganan medikamentosa untuk askariasis menggunakan albendazole, levamisole, mebendazole, dan pirantel pamoat dinilai efektif dengan rasio kesembuhan >90%.[1] Agen antihelmintik yang dipakai di Indonesia meliputi albendazole, mebendazole, pirantel pamoat, dan prazikuantel.

child play dirt

Penanganan Medikamentosa Askariasis Intestinal pada Anak

Berdasarkan Center for Disease Control and Prevention 2018, pilihan obat untuk askariasis intestinal adalah albendazole, mebendazole, dan ivermectin peroral di mana dosis anak sama dengan dosis dewasa.[3] Namun WHO juga merekomendasikan pirantel pamoat sebagai obat untuk askariasis selain ketiga obat tersebut di atas.

Regimen penatalaksanaan yang digunakan untuk askariasis ini sudah terbukti efektif dalam eradikasi Ascaris lumbricoides. Namun, penelitian yang ada mengenai keamanannya untuk anak usia < 6 tahun, terutama kelompok usia balita, masih sangat terbatas.

Albendazole

Untuk askariasis pada anak, albendazole dapat digunakan dengan dosis 400 mg dosis tunggal, dikonsumsi setelah makan.[3] Obat ini bekerja dengan cara menurunkan produksi energi (ATP) pada cacing, sehingga menyebabkan imobilisasi dan kematian.[1]

Sebuah uji klinis menunjukkan bahwa albendazole efektif untuk digunakan sebagai agen antihelmintik terhadap Ascaris lumbricoides. [4] Namun, keamanan untuk anak <6 tahun masih belum jelas. WHO tidak merekomendasikan penggunaan obat ini secara rutin pada anak dengan askariasis dan berusia < 2 tahun. Tetapi obat ini dapat dijadikan pilihan pada kelompok usia tersebut dalam pengobatan askariasis komunitas dengan sasaran populasi risiko tinggi. [5,6] Kebanyakan kasus kecacingan pada anak <6 tahun diobati dengan albendazole meski seringkali dosisnya dikurangi oleh praktisi klinis.[3]

Mebendazole

Mebendazole dapat digunakan dengan dosis 2 x 100mg/hari selama 3 hari atau 500mg dosis tunggal, dapat langsung ditelan, dikunyah, dihancurkan lebih dulu, atau dicampur makanan. [3,1] Obat ini bekerja dengan cara secara selektif menghambat ambilan glukosa secara irreversibel pada usus yang ditempati cacing sehingga menyebabkan imobilisasi cacing dan kematian. [1]

Keamanan untuk anak berusia ≤2 tahun masih belum jelas, dan pedoman WHO menyatakan bahwa penggunaannya pada anak yang berusia ≤ 1 tahun tidak direkomendasikan dan harus menilik risiko serta manfaat yang ada. Meskipun demikian, mebendazole masih menjadi salah satu obat cacing yang dapat digunakan untuk anak hingga usia 12 tahun menurut WHO.[3,5]

Pirantel Pamoat

Pirantel pamoat dapat digunakan dengan dosis 11mg/kgBB dosis tunggal, maksimal 1g/dosis. Obat ini bekerja dengan cara menghambat hantaran neuromuskular dan menghambat kolinesterase sehingga menyebabkan paralisis spastik pada cacing sehingga cacing dapat dibuang melalui feses. Keamanan untuk anak <2 tahun masih belum jelas.[1]

Ivermectin

Ivermectin belum dipakai secara luas di Indonesia. Obat ini dapat diberikan dalam dosis 50-200 mcg/kgBB dosis tunggal, dikonsumsi saat perut kosong.[3] Obat ini bekerja dengan cara berikatan secara selektif dengan kanal klorida pada sel syaraf dan otot cacing sehingga menyebabkan kematian. [1]

Keamanan ivermectin untuk anak <15kg masih belum jelas. Menurut WHO, ivermectin aman diberikan untuk anak dengan tinggi badan ≥90cm (atau setara usia 28 bulan untuk laki-laki dan 30 bulan untuk perempuan). Menurut CDC, obat ini sudah banyak digunakan pada pengobatan massal untuk anak usia 3 tahun ke atas dengan dosis yang dikurangi.[3] Obat ini belum dipakai di Indonesia sejauh ini karena sediaan obat ivermectin di Indonesia hanya ada untuk kecacingan pada hewan.

Kesimpulan

Pada kasus askariasis, regimen pengobatan untuk anak berusia < 6 tahun adalah sama dengan dewasa. Obat-obat tersebut sudah terbukti efektif untuk penatalaksanaan askariasis. Walaupun begitu, keamanan beberapa regimen ini pada anak yang muda masih belum diketahui pasti, tetapi sampai saat ini obat-obat tersebut masih digunakan dan direkomendasikan oleh CDC maupun WHO.

Berbagai pilihan obat yang dapat digunakan untuk askariasis intestinal pada anak <6 tahun yaitu:

  • Pirantel pamoat11 mg/kgBB dosis tunggal, maksimal 1 g/dosis
  • Albendazole 400mg dosis tunggal
  • Mebendazole 2 x 100 mg/hari selama 3 hari atau 500 mg dosis tunggal

Referensi