Pedoman Praktis Skrining dan Penanganan Awal Infeksi Virus Corona

Oleh :
dr. Gisheila Ruth Anggitha

Munculnya infeksi 2019 Novel Coronavirus atau virus Corona, yang telah mewabah di Cina dan negara lainnya, mengharuskan dokter di Indonesia memahami cara skrining dan penanganan awal penyakit yang mempunyai gejala menyerupai influenza ini.

Akhir tahun 2019, dunia digemparkan dengan adanya kasus sindrom respirasi akut yang bersumber dari Wuhan, Cina, dengan penyebab utamanya adalah novel coronavirus. Infeksi 2019 n-CoV, coronavirus jenis terbaru, sangat cepat menyebar melalui droplets yang ditularkan antar manusia. Sampai saat ini infeksi virus Corona sudah terdeteksi di beberapa negara di Asia, Amerika, Eropa, dan Australia.[1]

Berdasarkan laporan terakhir dari European Centre for Disease Prevention and Control pada awal Februari, terdapat 24.530 kasus yang terkonfirmasi positif terkena infeksi virus Corona dan ada sebanyak 492 kematian di Cina dan 1 kematian di Filipina yang diakibatkan oleh virus ini.[1]

 nCovcomp

Sekilas tentang Virus Corona

Virus Corona merupakan virus RNA yang berasal dari famili Coronaviridae. Patofisiologi virus ini belum sepenuhnya dimengerti, tetapi sel epitel saluran pernapasan dan pencernaan merupakan target utama virus ini sehingga rute transmisi virus ini dapat berbeda-beda, yaitu dengan kontak langsung, airborne, fecal-oral, dan fomite yang terkontaminasi. Masa inkubasi Coronavirus sekitar 5 hari (4-14 hari).

Virus Corona sebelumnya juga pernah mewabah dalam beberapa tahun terakhir dan menyebabkan infeksi respiratorik pada manusia seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada tahun 2003 dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada tahun 2012. Virus Corona yang menyebabkan wabah kali ini adalah Novel Coronavirus, yang disebut juga dengan NovCoronavirus atau 2019 n-CoV. Sampai saat ini, diduga hewan, terutama kelelawar, merupakan perantara penularan virus Corona.[2-5]

Presentasi Klinis Pasien Terinfeksi Virus Corona

Sama seperti infeksi virus lainnya, infeksi ini bisa saja tidak menimbulkan gejala (asimptomatik), gejala yang ringan seperti pada infeksi saluran napas atas (ISPA), gejala yang berat, bahkan sampai menimbulkan kematian. Terdapat sekitar 17-29% pasien mengalami sindrom distress pernapasan akut dan 10% mengalami infeksi sekunder.[2-4]

Tanda dan gejala yang terjadi adalah demam, batuk, nyeri tenggorokan, dan dispnea. Beberapa gejala lain yang dapat terjadi adalah mialgia/fatigue, nyeri kepala, dan diare.[2-4]

Faktor risiko yang dapat memperberat penyakit infeksi virus Corona adalah kelompok usia tertentu seperti usia lanjut, bayi, anak, serta adanya penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kardiovaskular.[2-4]

Kriteria Pengawasan Pasien Suspek Virus Corona

CDC telah mengeluarkan panduan untuk mengevaluasi pasien dengan suspek virus Corona. Skrining dilakukan berdasarkan gejala klinis dan risiko epidemiologi. Pasien dengan kriteria sebagai berikut harus dievaluasi sebagai pasien suspek virus Corona.

Tabel 1. Kriteria Pengawasan Pasien Suspek Virus Corona

Manifestasi Klinis Risiko Epidemiologi

Demam atau tanda/gejala infeksi saluran napas bawah seperti batuk atau sesak napas dan

 

Siapapun, termasuk petugas layanan kesehatan yang melakukan kontak dekat dengan pasien yang dikonfirmasi terinfeksi virus Corona secara laboratorium dalam waktu 14 hari terakhir

Demam dan tanda/gejala penyakit saluran napas bawah seperti batuk atau sesak napas dengan

 

Riwayat bepergian ke Provinsi Hubei, Cina, dalam waktu 14 hari terakhir

Demam dan tanda/gejala penyakit saluran napas bawah seperti batuk atau sesak napas yang membutuhkan rawat inap dengan

 

Riwayat bepergian ke Cina dalam 14 hari terakhir

Sumber: Centers for Disease Control and Prevention[4]

Dokter harus segera menghubungi petugas pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan dan Dinas Kesehatan atau Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) apabila ada pasien yang sesuai dengan kriteria pengawasan di atas.[6]

Skrining Infeksi Virus Corona

Pada pasien yang asimtomatik dengan riwayat kontak dengan pasien virus Corona harus dilakukan pemeriksaan awal/skrining. Individu terbagi menjadi dua tipe pajanan, pajanan risiko rendah dan pajanan risiko tinggi. Disebut pajanan risiko tinggi apabila seseorang berada kira-kira 2 meter dari kasus virus Corona dalam periode waktu yang cukup lama tanpa menggunakan alat pelindung diri seperti gaun, sarung tangan, masker N95, dan proteksi mata; atau seseorang yang kontak langsung dengan sekret infeksius dari kasus virus Corona seperti terkena batuk atau bersin dari pasien saat tidak menggunakan alat pelindung diri.[2-4]

Apabila individu memiliki pajanan risiko rendah, lakukan pemantauan pribadi selama 14 hari terhadap tanda dan gejala infeksi virus Corona. Apabila dalam waktu 14 hari tidak ada demam atau gejala pernapasan, individu tersebut dapat dinyatakan tidak terdapat risiko infeksi virus Corona.[4,7]

Pada individu yang mengalami pajanan risiko tinggi, petugas kesehatan harus menghubungi Dinas Kesehatan setempat agar dapat dilakukan pemantauan ketat selama 14 hari. Pemantauan ketat meliputi evaluasi tanda dan gejala klinis setiap hari, melakukan karantina (dipisahkan dari kontak sosial), tidak boleh bepergian, dan harus selalu dapat dihubungi untuk pemantauan aktif. Apabila dalam waktu 14 hari tidak ada demam atau keluhan lainnya, individu dapat dinyatakan tidak memiliki risiko infeksi virus Corona.[7]

Pada individu yang dalam waktu pemantauan mengalami demam atau keluhan respirasi, isolasi harus dilakukan dan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk oleh Dinas Kesehatan untuk dilakukan penegakan diagnosis dan perawatan. Apabila tidak terkonfirmasi, dilakukan pemantauan lanjutan sampai 14 hari apakah gejala membaik atau tidak. Apabila infeksi virus Corona telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, lakukan penatalaksanaan segera pada pasien.[6,7]

Penatalaksanaan Awal Pasien Terinfeksi Virus Corona

Belum ada penatalaksaan yang spesifik untuk penyakit ini. Penatalaksanaan dengan antivirus juga belum terbukti efektif menyembuhkan infeksi virus Corona, sehingga penatalaksanaannya adalah dengan mengobati gejala klinis dan terapi suportif seperti suplementasi oksigen, manajemen cairan, dan antibiotik jika diperlukan.[3,8,9]

Pasien dengan presentasi klinis yang ringan tidak membutuhkan rawat inap. Namun, apabila terdapat faktor risiko, yakni kelompok usia tertentu seperti bayi, anak-anak, dan usia tua; memiliki penyakit kronis seperti penyakit paru obstruktif kronis, kanker, gagal jantung, penyakit ginjal kronis, gangguan liver, diabetes, dan penyakit imunokompromais; atau sedang hamil, sebaiknya petugas kesehatan melakukan pemantauan lebih ketat.[3,8,9]

Manajemen klinis infeksi virus Corona berdasarkan WHO terbagi menjadi beberapa langkah, yaitu:

Triase

Mengidentifikasi pasien dengan kriteria pengawasan infeksi virus Corona.

Kontrol Infeksi

Tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi harus segera dilakukan apabila pasien dicurigai atau dikonfirmasi terinfeksi virus Corona. Tindakan kontrol infeksi berupa:

  • Berikan pasien masker bedah
  • Karantina pasien pada ruangan tertutup sehingga tidak terjadi transmisi airborne

  • Pasien yang dirawat di rumah harus diisolasi di ruangan terpisah dengan anggota keluarga lainnya dan menggunakan masker selama kontak dengan anggota keluarga
  • Pasien dan seluruh anggota keluarga harus mengikuti aturan cuci tangan dan etika batuk yang benar

Terapi Suportif dan Pemantauan Ketat

Penanganan awal pasien dengan infeksi virus Corona adalah dengan mengobati gejala klinis dan terapi suportif seperti:

  • Berikan oksigen tambahan pada pasien yang mengalami sesak napas, hipoksemia, atau syok dengan terapi oksigen inisial 5 liter per menit dengan target saturasi oksigen ≥90%
  • Manajemen cairan dengan menggunakan cairan intravena namun dengan pengawasan ketat karena resusitasi cairan yang terlalu agresif dapat memperburuk oksigenasi
  • Berikan antimikroba empiris dalam waktu 1 jam pada pasien yang mengalami sepsis
  • Tidak memberikan kortikosteroid sistemik pada penatalaksanaan pneumonia virus atau sindrom distress pernapasan akut karena berdasarkan studi pada pasien SARS dilaporkan tidak ada manfaat pada survival dan adanya kemungkinan efek samping berupa nekrosis avascular, psikosis, diabetes, dan penundaan pengeluaran virus dalam tubuh
  • Pemantauan ketat pasien apakah terdapat pemburukan, sepsis, atau gagal napas

  • Pertimbangkan adanya kondisi komorbid pada pasien yang dapat memengaruhi prognosis dan komunikasikan sejak awal kepada pasien dan keluarga

Kumpulkan Spesimen untuk Diagnosis

  • Spesimen diambil segera setelah pasien masuk ke dalam kriteria pengawasan
  • Pengambilan 3 jenis spesimen dari saluran napas atas, saluran napas bawah, dan serum
  • Spesimen dapat dikumpulkan melalui pengambilan darah untuk pemeriksaan kultur darah dan RT-PCR untuk tes virus Corona. Dapat dilakukan pemeriksaan serologi apabila tidak terdapat RT-PCR
  • Spesimen dikirim ke laboratorium Balitbangkes
  • Pencegahan dan pengendalian infeksi harus diperhatikan saat pengambilan spesimen[9]

Pentingnya Alat Pelindung Diri bagi Tenaga Kesehatan

Pada kasus wabah SARS tahun 2003 lalu, banyak kasus kematian terjadi pada dokter dan tenaga kesehatan lainnya. CDC mengidentifikasi adanya kelemahan pada pencegahan dan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan saat wabah SARS, padahal tenaga kesehatan memiliki risiko tertinggi untuk terinfeksi virus mematikan seperti SARS dan virus Corona ini.

Belajar dari kesalahan tersebut, CDC megeluarkan rekomendasi pengendalian dan pencegahan infeksi. Beberapa komponen dari rekomendasi tersebut adalah:

  • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau dengan cairan antimkroba dengan ethanol 80%. Cuci tangan harus dilakukan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien

  • Menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan, gaun, masker, dan pelindung mata
  • Pakai masker N95/respirator yang bersertifikat NIOSH (National Institute for Occupational Safety and Health) saat memasuki area perawatan pasien virus Corona. Jika masker N95 atau pelindung pernapasan yang lebih baik tidak tersedia, kenakan masker bedah yang pas untuk mencegah kontak hidung dan mulut dengan droplet yang besar. Buang respirator saat meninggalkan ruang perawatan
  • Pakai pelindung mata dan wajah jika akan berada pada jarak 1 meter dari pasien dan jika ada kemungkinan terciprat sekret pasien. Pelindung wajah harus menutupi seluruh bagian depan dan membungkus kedua sisi wajah. Kacamata korektif atau lensa kontak tidak dianggap sebagai pelindung mata
  • Hindari menyentuh wajah dengan sarung tangan yang terkontaminasi
  • Hindari menyentuh permukaan benda yang tidak perlu dengan sarung tangan yang terkontaminasi
  • Pakai sarung tangan apabila akan bersentuhan dengan peralatan makan ataupun benda yang bersentuhan dengan pasien

Penggunaan alat pelindung diri yang memadai sangatlah penting untuk mengurangi risiko infeksi virus Corona pada tenaga kesehatan.[10]

Kesimpulan

Infeksi virus Corona merupakan penyakit yang dapat menyerang sistem pernapasan. Pasien yang mengalami demam dan batuk atau sesak napas serta terdapat riwayat perjalan dari negara Cina atau terpajan pada pasien yang dicurigai/terkonfirmasi infeksi virus Corona harus dimasukkan ke dalam kriteria pengawasan dan dilakukan pemantauan selama 14 hari. Dokter harus melaporkan ke Dinas Kesehatan apabila ada pasien yang termasuk dalam kriteria pengawasan virus Corona.

Penatalaksanaan awal infeksi virus Corona adalah dengan suplementasi oksigen, manajemen cairan, antibiotik jika diperlukan, dan kontrol infeksi agar infeksi tidak semakin menyebar. Rajin mencuci tangan dan memakai alat pelindung diri yang memadai sangat penting untuk mencegah penularan infeksi virus Corona pada tenaga kesehatan.

Referensi