Mengenali Neonatal Abstinence Syndrome : Morbiditas dan Mortilitas

Oleh :
dr. Irwan PhD SpKJ

Bayi yang dilahirkan dari ibu yang menyalah gunakan zat selama kehamilan, akan mengalami tanda dan gejala putus zat, dikenal sebagai Neonatal abstinence syndrome (NAS).

Opioid adalah zat yang paling sering menimbulkan NAS, meskipun keadaan ini juga bisa diakibatkan oleh amfetamin, antidepresan, benzodiazepine, dan zat psikotropik lainnya. Selain opioid illegal, terapi dengan menggunakan obat-obatan turunan opioid juga berisiko menimbulkan NAS. [1]

Gejala NAS melibatkan sistem saraf pusat dan otonom, serta sistem gastrointestinal. Umumnya NAS ditandai dengan adanya iritabilitas, menangis terus, tremor, gangguan nafsu makan, muntah, diare, banyak berkeringat, gangguan siklus tidur, dan kadang disertai kejang pada neonatus. [1-3]

NAS perlu mendapatkan perhatian serius seiring meningkatnya angka penyalahgunaan zat di Indonesia, termasuk penyalahgunaan zat oleh ibu hamil. Prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada tahun 2017 adalah 2,9 % atau hampir 3,5 juta orang dimana 28% di antaranya adalah wanita. [9]

sick newborn

Mekanisme Terjadinya Neonatal Abstinence Syndrome

Tidak semua bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menyalahgunakan opiat mengalami Neonatal abstinence syndrome (NAS) dan sampai saat ini patofisiologinya masih belum diketahui pasti.

Opiat mempunyai berat molekul rendah, larut air, dan bersifat lipofilik sehingga dapat dengan mudah melewati plasenta. Proses metabolisme yang belum matang pada fetus menyebabkan waktu paruh zat menjadi lebih lama. Terputusnya paparan opiat setelah bayi dilahirkan akan menyebabkan hiperaktivitas adenil siklase yang akan memicu pelepasan berbagai neurotransmiter (Gambar 1).

NAS pada ibu yang mengkonsumsi antidepresan diakibatkan oleh peningkatan serotonin dan noradrenalin. Penggunaan benzodiazepin akan menyebabkan peningkatan GABA yang bisa menimbulkan gejala putus zat. Sementara gejala putus zat amfetamin merupakan akibat sekunder dari penurunan dopamin, serotonin, dan monoamine lainnya.

Keparahan gejala NAS yang muncul dipengaruhi oleh zat yang digunakan, faktor ibu (nutrisi atau stressor), metabolisme oleh plasenta, faktor genetik, faktor bayi (prematur atau infeksi), dan faktor lingkungan (termasuk penanganan awal). [3]

neonatal abstinence

Gambar 1. Ilustrasi mekanisme terjadinya gejala putus zat pada neonatus akibat opiat (diadaptasi dari Kocherlakota, Pediatrics, 2014)

Morbiditas dan Mortalitas Neonatal Abstinence Syndrome (NAS)

Secara global jumlah ibu hamil yang menyalahgunakan zat meningkat sehingga angka insidensi Neonatal abstinence syndrome (NAS) pun ikut meningkat, terutama di negara-negara berkembang. Di Amerika Serikat, terjadi peningkatan insidensi NAS beberapa kali lipat antara tahun 2004-2013. [4,5] Insidensi ini setara dengan Inggris, Kanada, dan Australia Barat, serta menunjukkan insidensi secara global. [3] Namun laporan mengenai insidensi NAS pada populasi Asia masih belum ada.

Selain berisiko mengalami NAS, bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menyalahgunakan zat umumnya terlahir prematur dan mengalami gangguan pertumbuhan. Namun derajat keparahan NAS biasanya lebih rendah pada bayi prematur dibandingkan pada bayi aterm karena paparan zat yang lebih singkat. Disamping itu metabolism yang belum matur menyebabkan clearance zat tidak sempurna sehingga konsentrasi zat dalam darah masih relatif tinggi ketika bayi dilahirkan dan berkurang pelan-pelan seiring maturasi.[1]

Meskipun NAS umumnya tidak bersifat fatal, namun bisa menimbulkan gangguan yang serius dan menyebabkan perawatan yang panjang. Bayi dengan NAS dapat mengalami gangguan irama jantung, respirasi, tonus otot, suhu, dan berbagai respon fisiologis lainnya karena disregulasi dan instabilitas saraf otonom. Hal ini bisa bertahan sampai beberapa hari atau bahkan beberapa bulan.[1] Bayi dengan NAS juga lebih sering mengalami gangguan nafas, sepsis, dan gangguan makan pasca dilahirkan.[6]

Tabel 1. Onset, frekuensi, dan durasi NAS berdasarkan zat yang digunakan

Zat yang digunakan Onset (jam) Probabilitas (%) Durasi (hari)

Opioid

Heroin

Metadon

Buprenorfin

Obat-obat opioid


24-48

48-72

36-60

36-72


40-80

13-94

22-67

5-20

8-10

Sampai 30

atau lebih

Sampai 30

atau lebih 

10-30

Non opioid

SSRI

Antidepresan trisiklik

Metamfetamin

Inhalan


24-48

24-48

24

24-48

20-30

20-50

2-4

9

48


2-6

2-6

7-10

2-7

Sebuah penelitian kohort melaporkan bahwa mortalitas sebelum usia 5 tahun pada bayi dengan Neonatal abstinence syndrome (NAS) adalah tiga kali lipat mortalitas bayi tanpa NAS. Proporsi bayi dengan NAS yang mengalami rehospitalisasi dalam 5 tahun pertama kehidupan juga lebih tinggi, terutama pada tahun pertama dan kedua. Alasan untuk hospitalisasi diantaranya adalah penyakit infeksi, infestasi parasit, gangguan sistem saraf, gangguan sistem respirasi, gangguan saluran pencernaan, penyakit kulit, gangguan pada masa perinatal, kecelakaan, dan keracunan. Bahkan bayi dengan NAS dilaporkan 2,5 kali lebih berisiko mengalami rehospitalisasi dalam 30 hari postnatal. [7]

Selain daripada itu, ibu yang menyalahgunakan obat memiliki mortalitas dan morbiditas yang lebih tinggi, sehingga secara tidak langsung berisiko menimbulkan gangguan pada bayi yang dilahirkan.[8]

Penatalaksanaan  Neonatal Abstinence Syndrome (NAS)

Untuk pencegahan, ibu-ibu yang teridentifikasi berisiko tinggi menyalahgunakan zat perlu mendapatkan skrining, intervensi, dan penanganan. [2] Konfirmasi Neonatal abstinence syndrome (NAS) pada bayi bisa dilakukan dengan pemeriksaan urin atau mekonium untuk mengidentifikasi zat penyebabnya. Ibu hamil yang mengalami kecanduan zat bisa diterapi subsitusi dengan metadon atau buprenorfin. Terapi subsitusi selama kehamilan bisa mengurangi penggunaan zat dan memperbaiki outcome bayi yang dilahirkan, meskipun tidak menurunkan insidensi NAS.[1]

Manajemen nonfarmakologis meliputi berbagai upaya suportif untuk menenangkan bayi (terapi musik dan pijat bayi), mengurangi stimulasi, dan pemberian makan lebih sering dengan formula kalori tinggi.[1,3]

Manajemen farmakologis diberikan apabila :

  • Terapi suportif gagal mengatasi gejala
  • Skor Finnegan masih tinggi. Skor Finnegan terdiri dari 3 komponen penilaian, yaitu gangguan sistem saraf pusat, gangguan metabolik/vasomotor/respirasi, dan gangguan gastrointestinal. Skor dinilai setiap 2 -4 jam. Indikasi farmakoterapi jika terdapat skor ≥ 8 sebanyak tiga kali berturut-turut, atau skor ≥ 12 sebanyak 2 kali berturut-turut.
  • Muncul tanda kegawatdaruratan seperti kejang, atau
  • Timbul dehidrasi akibat muntah atau diare.

Sampai saat ini belum ada panduan standar untuk terapi farmakologis NAS. Terapi farmakologis yang bisa dilakukan adalah dengan terapi subsitusi menggunakan morfin, metadon, atau buprenorfin. Benzodiazepin atau agonis reseptor α-adrenergik juga bisa diberikan untuk mengendalikan gejala. [1,3] Terapi farmakologis yang diberikan lebih bersifat suportif dan simtomatik. Bila terapi subsitusi diberikan, maka perlu dipikirkan penurunan dosis untuk memastikan bayi tidak lagi mengalami gejala putus zat.

Bayi dengan NAS membutuhkan monitoring perkembangan dan perilaku. Monitoring mencakup pemberian makan, berat badan, dan pola tidur Skoring dengan instrumen Finnegan scoring system bisa menjadi panduan untuk memulai, monitoring, dan mengakhiri tatalaksana NAS. Bila bayi telah mempunyai pola tidur yang baik, asupan nutrisi yang cukup, berat badan meningkat, dan skor Finnegan stabil dengan intervensi minimal, maka bayi bisa dipulangkan. NAS bukanlah kontraindikasi untuk menyusui, kecuali bila ibu menggunakan obat-obat jalanan, menggunakan obat multipel, atau terinfeksi HIV, sehingga disarankan agar ibu menyusui bayinya pasca dipulangkan. [1]

Kesimpulan

Ibu hamil yang menyalahgunakan zat selama kehamilan menyebabkan bayinya mengalami paparan kronis zat tersebut. Bayi yang dilahirkan akan mengalami tanda dan gejala putus zat, dikenal sebagai Neonatal abstinence syndrome (NAS). Tidak banyak dokter di Indonesia mengetahui mengenai keadaan ini. Meskipun NAS umumnya tidak bersifat fatal, namun bisa menimbulkan gangguan yang serius dan menyebabkan perawatan yang panjang. Bayi dengan NAS dapat mengalami gangguan irama jantung, respirasi, tonus otot, suhu, dan berbagai respon fisiologis lainnya karena disregulasi dan instabilitas saraf otonom.

Sampai saat ini belum ada panduan standar untuk terapi farmakologis NAS. Terapi farmakologis yang bisa dilakukan adalah dengan terapi subsitusi menggunakan morfin, metadon, atau buprenorfin. Bayi dengan NAS membutuhkan monitoring perkembangan dan perilaku. Monitoring mencakup pemberian makan, berat badan, dan pola tidur Skoring dengan instrumen Finnegan scoring system bisa menjadi panduan untuk memulai, monitoring, dan mengakhiri tatalaksana NAS.

Referensi