Metformin Lepas Lambat VS Metformin Lepas Cepat Untuk Diabetes Mellitus Tipe 2 – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Hendra Gunawan SpPD

Metformin Extended release versus metformin immediate-release for adults with type 2 diabetes mellitus: A systematic review and meta-analysis of Randomized Controlled Trials

Abrilla AA, Pajes ANNI, Jimeno CA. Diabetes Research and Clinical Practice Vol. 178 No.108824. https://doi.org/10.1016/j.diabres.2021.108824

Abstrak

Tujuan: Untuk membandingkan efikasi dan keamanan dari metformin lepas lambat (MXR) dan metformin konvensional, yakni metformin lepas cepat (MIR) pada pasien dewasa dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2).

Metode: Pencarian bukti ilmiah dilakukan pada berbagai mesin pencarian seperti PubMed, the Cochrane Library, ClinicalTrials.gov, dan mesin pencarian lain hingga 19 Maret 2021. Pencarian meliputi uji klinis yang membandingkan MXR dan MIR dengan dosis ekuivalen pada pasien DMT2. Penggunaan model random-effects meta-analisis  dilakukan untuk mendapatkan pooled mean difference (MD) dari baseline untuk variabel luaran kontinyu dan risk ratio untuk variabel luaran dikotom. Luaran primer yang diamati adalah HbA1c dan manifestasi gejala gastrointestinal seperti rasa tidak nyaman pada perut, nyeri perut, diare, dispepsia, mual, dan muntah.

Hasil: Didapatkan 9 uji klinis yang merandomisasi total 2609 pasien dewasa dengan DMT2. Didapatkan bahwa MIR secara statistik memiliki asosiasi terhadap penurunan HbA1c lebih baik (MD 0.09% [95%IK 0.01-0.17%]). MXR hanya berhubungan dengan kejadian risiko dispepsia lebih rendah (RR 0,58 [95%IK 0,34-0,98]), tapi terlepas dari itu, kedua jenis metformin memiliki efek samping gastrointestinal lain yang sebanding.

Kesimpulan: MXR dikaitkan dengan penurunan HbA1c yang lebih buruk secara statistik tetapi kemungkinan sebanding secara klinis dan perbaikan minimal intoleransi gastrointestinal dibandingkan dengan MIR.

Metformin Lepas Lambat VS Metformin Lepas Cepat Untuk Diabetes Mellitus Tipe 2-min

Ulasan Alomedika

Berbagai tata laksana telah dikembangkan untuk mengendalikan diabetes mellitus tipe 2 secara komprehensif, meliputi perbaikan gaya hidup, aktivitas fisik, terapi nutrisi medis, dan farmakoterapi. Salah satu farmakoterapi yang masih menjadi terapi lini pertama diabetes mellitus tipe 2 adalah metformin. Walaupun demikian, tidak semua pasien diabetes mellitus tipe 2 dapat mentoleransi metformin akibat efek samping gastrointestinal yang sering timbul. Hal ini menyebabkan kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan. Oleh karena itu dikembangkan suatu formulasi metformin, yaitu metformin lepas lambat (MXR). Metformin lepas lambat akan mengeluarkan zat aktifnya secara perlahan di saluran gastrointestinal bagian atas dan dapat diberikan sekali sehari, sehingga diharapkan dapat memperbaiki efek samping gastrointestinal dan meningkatkan kepatuhan.

Ulasan Metode Penelitian

Studi ini merupakan tinjauan sistematik dan meta-analisis yang dilakukan pada uji klinis yang membandingkan pemberian metformin lepas cepat (MIR) dan lepas lambat (MXR) secara ekuivalen minimum 12 minggu pada pasien dewasa dengan diabetes mellitus tipe 2. Studi yang melibatkan penyakit terminal dieliminasi, namun tidak ada restriksi terkait publikasi, tahun, maupun bahasa.

Terdapat 2 luaran penelitian yang dinilai, yaitu perubahan HbA1c untuk efikasi dan kejadian efek samping gastrointestinal untuk tolerabilitas dari metformin. Luaran sekunder yang dianalisis adalah perubahan kadar glukosa darah puasa, glukosa darah 2 jam post-prandial, dan perubahan profil lipid. Insidensi dari efek samping serius, seperti hipoglikemia atau asidosis laktat, maupun efek samping gastrointestinal juga diamati untuk evaluasi keamanan metformin.

Ulasan Hasil penelitian

Penelitian ini melibatkan 9 uji klinis dengan total subjek 2609 pasien dewasa dengan diabetes mellitus tipe 2. Sebanyak 6 uji klinis merupakan penelitian acak buta ganda, 2 uji klinis merupakan penelitian open-label, dan 1 uji klinis tidak menyebutkan adanya randomisasi. Rerata usia partisipan adalah 54,3 ±10,9 tahun dengan 45,9% adalah perempuan.

Dosis metformin yang diberikan dalam uji klinis yang dianalisis bervariasi. Satu studi menggunakan metformin 500 mg/hari kombinasi dengan sulfonilurea glimepiride; metformin 1000 mg/hari pada 2 studi; metformin 1500 mg/hari pada 2 studi; dan metformin 2000 mg/hari pada 4 studi.

Dalam analisis efikasi, metformin lepas cepat (MIR) secara statistik menurunkan HbA1c lebih tinggi dibandingkan metformin lepas lambat (MXR) tanpa adanya heterogenitas yang bermakna secara statistik. Selain itu, untuk tolerabilitas, MXR menurunkan efek samping dispepsia secara bermakna, tetapi efek samping gastrointestinal lainnya sebanding antara kedua kelompok percobaan.

Untuk luaran sekunder, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna secara statistik antara MIR dan MXR pada perubahan kadar glukosa darah puasa maupun glukosa darah post-prandial. Untuk keamanan, tidak didapatkan kejadian asidosis laktat.

Untuk profil lipid, MIR memperbaiki kadar trigliserida, kolesterol total, dan kadar HDL lebih baik. Sebaliknya, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna secara statistik terhadap penurunan kadar LDL.

Kelebihan Penelitian

Tinjauan sistematik ini menganalisis hasil uji klinis saja dan tidak mengikutkan hasil studi observasional. Uji klinis yang melibatkan pasien dengan penyakit organ tahap lanjut juga dieksklusi untuk menghindari perancu.

Limitasi Penelitian

Meskipun tidak ditemukan heterogenitas bermakna antara studi, uji klinis yang dilakukan memiliki metode yang bervariasi (ada yang menggunakan penyamaran, ada yang tidak, serta ada yang tidak mencantumkan randomisasi), serta dosis metformin yang berbeda-beda (bahkan ada yang dikombinasi dengan sulfonilurea). Hal ini bisa menurunkan kekuatan bukti ilmiah yang didapat.

Selain itu, subjek penelitian ini memiliki rerata usia 54,3±10,9 tahun, sehingga hasil penelitian masih belum dapat diimplementasikan pada pasien dengan kelompok usia yang lebih muda.

Aplikasi Penelitian di Indonesia

Hasil penelitian ini memberikan gambaran dan informasi yang baik mengenai tolerabilitas dan efikasi metformin lepas lambat bila dibandingkan lepas cepat. Studi ini menunjukkan bahwa efikasi kedua bentuk sediaan metformin memiliki efikasi yang sebanding untuk manajemen diabetes mellitus tipe 2. Dalam hal keamanan, dispepsia nampaknya lebih jarang ditemukan pada sediaan lepas lambat, namun efek gastrointestinal lainnya didapatkan sebanding. Selain itu, metformin lepas cepat juga ditemukan memiliki efek yang baik terkait kadar trigliserida, kolesterol total, dan HDL, sehingga mungkin dapat lebih bermanfaat pada pasien dengan komorbiditas dislipidemia. Oleh karenanya, metformin sediaan lepas lambat maupun cepat dapat dipilih pada pasien dengan menyesuaikan kondisi klinis masing-masing pasien, seperti adanya gangguan gastrointestinal, frekuensi optimal pasien dapat mengonsumsi obat, serta profil lipid.

Referensi