Manfaat Suplementasi Vitamin dan Mineral pada Age-Related Macular Degeneration

Oleh :
dr. Utami Noor Syabaniyah SpM

Suplementasi vitamin dan mineral tertentu dapat diberikan untuk mencegah progresifitas Age-related Macular Degeneration (AMD), selama dapat dibuktikan dengan penelitian evidence base medicine (EBM). Terapi untuk AMD saat ini lebih sering diberikan pada tahap lanjut, yaitu dengan menggunakan sediaan anti-VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor) yang bertujuan untuk mencegah neovaskularisasi. Sedangkan untuk AMD tahap awal dan atrofi geografik belum ditemukan terapi yang efektif. Karena itu, penting sekali untuk mengidentifikasi dan memodifikasi faktor risiko terjadinya AMD. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa merokok dan diet adalah faktor risiko AMD yang paling konsisten yang dapat dimodifikasi.[1,2]

Sekilas tentang Age-related Macular Degeneration (AMD)

Penyakit degenerasi makula terkait usia merupakan penyebab utama kebutaan  pada usia tua. Salah satu gejala dan tanda AMD adalah hilangnya penglihatan sentral yang akan menyebabkan aktivitas pasien sehari-hari menjadi terganggu. Pasien menjadi sulit mengenali wajah kerabat, ataupun membaca tulisan. Prevalensi penyakit ini semakin tinggi mengikuti usia harapan hidup yang semakin lanjut.[3,4]

Manfaat Suplementasi Vitamin dan Mineral pada Age-Related Macular Degeneration-min

Suatu studi yang dilakukan oleh Friedman et al menyatakan bahwa prevalensi AMD pada usia 50-60 tahun sebesar 0,5%, sedangkan pada usia >80 tahun dapat mencapai 12-16%. Studi kohort mengenai AMD di Singapura, dilakukan oleh Cheung et al pada 1809 populasi melayu berumur 40-79 tahun, menemukan insidensi AMD tahap awal sebanyak 6,13% dan AMD tahap lanjut 0,83%. Penelitian ini juga menunjukkan insidensi AMD meningkat setiap pertambahan usia 5 tahun, dengan hazard ratio 1,13 (95% CI ;1.03-1.24).[3,4]

AMD tahap awal adalah munculnya perubahan pigmentasi dan drusen pada daerah makula. Sedangkan pada tahap lanjut, terjadi atrofi geografik atau hilangnya sel reseptor dan  retinal pigment epithelium (RPE) pada daerah yang terlibat. Kondisi ini dapat memicu terbentuknya neovaskularisasi di daerah submakula yang rentan terhadap kebocoran. Apabila sudah terjadi AMD tahap lanjut, maka kerusakan makula sudah irreversible dan akan mengakibatkan kehilangan penglihatan yang progresif hingga terjadi kebutaan.[2,4]

Vitamin dan Mineral yang Bermanfaat untuk AMD

Patogenesis AMD belum diketahui dengan pasti, tetapi stres oksidatif yang terjadi di dalam retina dianggap menjadi salah satu faktor penyebab. Retina dan RPE merupakan area yang mengandung asam lemak tak jenuh yang tinggi, serta mengalami tekanan oksigen dan paparan cahaya yang tinggi. Sehingga retina sangat rentan terhadap stres oksidatif, dan di dalamnya banyak terbentuk radikal bebas. Oleh karena itu, makanan atau suplemen yang mengandung banyak antioksidan dipercaya berperan penting dalam pencegahan atau perlambatan progresifitas AMD.[1,2,5]

Vitamin, mineral, dan nutrisi yang diketahui bermanfaat pada kasus AMD adalah yang berfungsi sebagai antioksidan, seperti vitamin C, vitamin E, beta karoten, zinc, karotenoid (lutein/zeaxanthin), dan asam lemak omega-3. Vitamin dan mineral tersebut banyak diteliti manfaatnya terhadap AMD dengan berbagai macam hasil.[1,2,5]

Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C banyak terdapat di retina dan memiliki efek antioksidan. Suatu studi case control menunjukkan bahwa rendahnya kadar vitamin C pada plasma berkaitan dengan peningkatan risiko AMD, tetapi tingginya konsentrasi vitamin C dalam darah tidak memiliki efek protektif. Vitamin E merupakan salah satu micronutrient yang penting dan salah satu scavenger radikal bebas yang paling efisien. Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan akumulasi lipofuscin, kerusakan retina, dan hilangnya fotoreseptor.[1,2,5-7]

Zinc

Zinc merupakan salah satu kofaktor enzim pada mata, yaitu sebagai superoksida dismutase dan katalase. Zinc dapat menekan reaksi inflamasi kronik pada retina yang menyebabkan AMD.[5,7]

Karoteinoid

Lutein/zeaxanthin merupakan jenis karoteinoid yang banyak terdapat pada makula, berfungsi untuk melindungi makula dari kerusakan oksidatif dengan menangkap reactive oxygen species (ROS), dan mengurangi produk toksik dari visual cycle yang distimulasi oleh paparan blue light. Lutein/zeaxanthin juga mempunyai kemampuan untuk memfilter cahaya gelombang pendek sehingga dapat melindungi outer retina dan RPE dari stres oksidatif dan membantu stabilitas membran retina.[1,2,5-7]

Asam Lemak Omega-3

Docosahexaenoic acid (DHA) merupakan salah satu asam lemak omega-3 yang banyak terdapat di outer segment fotoreseptor di retina. Suplementasi DHA dapat mencegah oksidasi dan inflamasi retina yang terjadi selama pembentukan AMD. Efek anti inflamasi yang dimiliki DHA juga dapat mencegah terbentuknya pembuluh darah koroid baru pada AMD tahap lanjut, yang sering disebut sebagai wet AMD.[1,2,5-7]

Penelitian Manfaat Suplementasi Vitamin dan Mineral untuk AMD

National Eye Institute pada tahun 1990 mencanangkan penelitian Age-Related Eye Disease (AREDS), suatu penelitian uji klinis acak, tertutup ganda pada penderita AMD yang melibatkan 11 rumah sakit. Studi ini bertujuan untuk menilai efek pemberian zinc dan vitamin antioksidan terhadap perkembangan atau progresifitas AMD. Studi ini membagi kelompok terapi menjadi empat, yaitu:

  1. Antioksidan (beta karoten 15 mg, Vitamin C 500 mg, dan Vitamin E 400 IU)
  2. Zinc (80 mg zinc oxide and copper 2 mg)
  3. Kombinasi antioksidan dan zinc
  4. Plasebo

Penelitian ini berlangsung selama 10 tahun dengan 4757 partisipan berusia 55-80 tahun. Ketiga kelompok yang menerima antioksidan, zinc, ataupun kombinasi antioksidan dan zinc memperlihatkan penurunan progresifitas terhadap AMD tahap lanjut. Pada kelompok kombinasi terjadi penurunan 25% progresifitas terhadap AMD tahap lanjut, dibandingkan dengan kelompok plasebo.[6,8]

Bersamaan dengan penelitian AREDS, terdapat 2 penelitian besar randomized controlled trial (RCT) yang menggunakan suplementasi beta karoten dosis tinggi. Penelitian tersebut melaporkan adanya peningkatan risiko kanker paru pada pasien yang menerima beta karoten dosis tinggi (15 mg) dengan riwayat merokok. Hal ini menjadi perhatian peneliti AREDS, karena sebagian besar subjek penelitian AREDS adalah perokok atau memiliki riwayat merokok.[2,6]

Untuk menyempurnakan penelitian AREDS, pada tahun 2006 dibentuk penelitian AREDS-2. Penelitian AREDS-2 menilai efek penambahan lutein/zeaxanthin dan asam lemak omega-3 pada formula AREDS pertama dalam jangka 5 tahun. Studi AREDS-2 melibatkan 4203 partisipan dengan usia ≥ 50 tahun dan memiliki drusen besar bilateral, drusen besar pada satu mata, atau AMD tahap lanjut pada mata sebelahnya. Pembagian kelompok terapi pada AREDS-2 adalah sebagai berikut:

  1. Lutein/zeaxanthin 10 mg/2 mg per hari
  2. Minyak ikan mengandung EPA/DHA 650 mg/350 mg per hari
  3. Kombinasi lutein/zeaxanthin dan EPA/DHA
  4. Plasebo[9-11]

Selain itu, keempat kelompok ini dilakukan randomisasi sekunder untuk menerima 4 perlakuan lanjutan, yaitu:

  • Formulasi AREDS awal
  • Formulasi AREDS rendah zinc (25 mg)
  • Formulasi AREDS tanpa beta karoten
  • Formulasi AREDS tanpa beta karoten dan rendah zinc[9-11]

Tujuan utama penelitian AREDS-2 adalah untuk membandingkan progresifitas terhadap AMD tahap lanjut antara 3 kelompok perlakuan (lutein/zeaxanthin, EPA/DHA, kombinasi) dan plasebo. Hasil yang diperoleh dari penelitian AREDS-2 yaitu tidak terdapat penurunan signifikan dalam hal progresifitas terhadap AMD tahap lanjut antara kelompok perlakuan dan plasebo. Suplementasi lutein/zeaxanthin menurunkan progresifitas AMD tahap lanjut hanya sebanyak 10% dan atrofi geografik sebanyak 11%, dibandingkan dengan suplementasi tanpa lutein/zeaxanthin.[9-11]

Evans JR melakukan sistematik review terhadap lima jurnal RCT mengenai suplementasi antioksidan vitamin dan mineral terhadap populasi sehat. Sebanyak 76.756 partisipan terlibat didalamnya. Tujuan sistematik review tersebut adalah untuk mengetahui apakah pemberian suplementasi antioksidan vitamin dan mineral dapat mencegah terbentuknya AMD. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemberian vitamin E, vitamin C, beta karoten, dan lutein/zeaxanthin pada populasi sehat tidak mencegah terjadinya AMD.[12,13]

Selain itu, Evans JR juga melakukan sistematik review mengenai pemberian vitamin dan mineral terhadap progresifitas AMD. Terdapat 19 studi berasal dari Amerika, Eropa, China, dan Australia yang sesuai dengan kriteria inklusi, termasuk diantaranya penelitian AREDS dan AREDS-2. Studi tersebut membandingkan suplementasi multivitamin, zinc, vitamin E, dan lutein/zeaxanthin dengan plasebo. Tujuan sistematik review ini adalah untuk mengetahui apakah pemberian antioksidan vitamin dan mineral dapat memperlambat progresifitas AMD dan mencegah hilangnya tajam penglihatan. Hasil yang didapat adalah:

  • Pemberian antioksidan vitamin dan zinc pada pasien AMD dapat memperlambat progresifitas menjadi AMD tahap lanjut, dan memperlambat hilangnya tajam penglihatan. Manfaat ini lebih terlihat pada pasien AMD tahap moderat yang diberikan suplementasi vitamin mineral dibandingkan dengan pasien AMD tahap awal
  • Pemberian lutein dengan dan tanpa zeaxanthin pada pasien AMD sedikit mengurangi progresifitas menjadi AMD tahap lanjut
  • Pemberian vitamin E sendiri pada pasien AMD tidak memiliki efek yang jelas terhadap pencegahan progresifitas [12,13]

Kesimpulan

AMD merupakan salah satu penyakit mata yang dapat mengakibatkan kebutaan irreversible bila sudah mencapai tahap lanjut. Prevalensi AMD semakin meningkat seiring dengan angka harapan hidup yang semakin panjang. Terapi AMD pada umumnya ditujukan pada kasus yang sudah lanjut, dan hingga saat ini belum ditemukan terapi definitif. Pemberian suplementasi vitamin dan mineral hanya bermanfaat bagi pasien yang sudah menderita penyakit AMD untuk mengurangi progresifitas menjadi AMD tahap lanjut. Sedangkan pada populasi sehat, pemberian vitamin dan mineral tersebut tidak bermanfaat mencegah terjadinya AMD. Oleh karena itu, diperlukan gaya hidup sehat dengan hindari merokok, berolahraga secara teratur, diet kaya akan sayur dan buah-buahan berwarna untuk mencegah terjadinya AMD.

Referensi