Manfaat Insulin Degludec/Insulin Aspart pada Diabetes Mellitus Tipe 2 -Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr.Eduward Thendiono, SpPD,FINASIM

Initiating or Switching to Insulin Degludec/Insulin Aspart in Adults with Type 2 Diabetes: A Real-World, Prospective, Non-interventional Study Across Six Countries

Fulcher GR, Akhtar S, Al-Jaser SJ, et al. Advances in Therapy. 2022; 39(8):3735-3748. doi: 10.1007/s12325-022-02212-3.

Abstrak

Latar Belakang: Insulin degludec/insulin aspart (IDegAsp) merupakan koformulasi rasio tetap dari insulin degludec (insulin basal long-acting) dengan insulin aspart (insulin prandial). Tujuan dari studi ini ialah untuk menginvestigasi luaran klinis pada pasien diabetes mellitus tipe 2 setelah memulai terapi IDegAsp pada kondisi dunia nyata.

Metode: Studi ini berlangsung selama 26 minggu, label terbuka, non-intervensi yang dilaksanakan di Australia, India, Malaysia, Filipina, Arab Saudi, dan Afrika Selatan. Data diperoleh dari 1102 pasien diabetes mellitus tipe 2 dewasa yang memulai atau berpindah ke IDegAsp dari terapi antidiabetik awal yang meliputi obat antidiabetik oral, insulin basal, insulin basal-bolus, insulin premiks, dan agonis reseptor glucagon-like peptide 1 pada praktek klinik lokal.

Hasil: Jika dibandingkan dari kondisi baseline, dijumpai perbaikan signifikan HbA1c pada akhir masa studi. Sejak baseline hingga end of study (EOS), ditemukan penurunan signifikan pada glukosa plasma puasa, berat badan, maupun dosis insulin basal pada pasien yang sudah menggunakan insulin sebelumnya. Angka kejadian hipoglikemia tidak berat (keseluruhan dan nokturnal) maupun hipoglikemia berat berkurang secara signifikan sejak periode sebelum baseline dan EOS.

Kesimpulan: Pada pasien diabetes mellitus tipe 2, baik yang memulai atau yang berpindah menggunakan IDegAsp dari terapi antidiabetik mula-mula, berhubungan dengan perbaikan kontrol glikemik, dosis insulin basal yang lebih rendah (pada pasien pengguna insulin), dan insiden hipoglikemia yang lebih rendah.

Manfaat Insulin DegludecInsulin Aspart pada Diabetes Mellitus Tipe 2-min

Ulasan Alomedika

Penggunaan terapi insulin basal-bolus masih menjadi baku emas pada pasien diabetes mellitus tipe 2 yang gagal mencapai kontrol glikemik dengan terapi antidiabetik oral, insulin basal atau insulin premiks. Akan tetapi, clinical inertia seringkali ditemui di praktik lokal. Salah satu akar masalah ialah inisiasi dan intensifikasi insulin.

Adapun hal yang menjadi barier pada penggunaan insulin ialah kekuatiran akan hipoglikemia dan perlunya multiple daily injection. Untuk mengantisipasi barier tersebut, diperlukan regimen insulin yang dapat menyamai kebutuhan dinamika insulin fisiologis dengan jumlah injeksi yang seminimal mungkin sekaligus fleksibilitas yang lebih baik dari regimen insulin basal-bolus konvensional. Salah satu opsi untuk mengatasinya ialah kofomulasi rasio tetap 70% insulin degludec dengan 30% insulin aspart (IDegAsp).

Ulasan Metode Penelitian

Studi ini menerapkan metode prospektif dunia nyata, label terbuka, non-intervensi selama 26 minggu di 65 pusat kesehatan lokal yang tersebar pada enam negara sejak Agustus 2019 hingga Desember 2020. Populasi studi ialah pasien diabetes mellitus tipe 2, populasi dewasa (usia ≥18 tahun), yang baru memulai atau berpindah ke IDegAsp dari terapi antidiabetik semula termasuk obat antidiabetik oral, insulin basal, insulin premiks, insulin basal-bolus, atau pengguna agonis reseptor GLP-1. Dosis awal maupun frekuensi injeksi IDegAsp termasuk penyesuaian dosisnya diserahkan ke dokter yang menangani pasien yang bersangkutan.

Kriteria eksklusi ialah pasien yang sudah menggunakan IDegAsp sebelumnya, hipersensitivitas terhadap IDegAsp, inkapasitas mental, tidak setuju untuk berpartisipasi, atau pasien dengan barier bahasa yang dapat menyebabkan masalah pada pemahaman atau kerja sama selama masa studi.

Luaran primer studi ini ialah perubahan pada HbA1c sejak baseline hingga EOS. Luaran sekunder meliputi proporsi pasien yang mencapai HbA1c di bawah 7% pada EOS, perubahan glukosa plasma puasa, dosis insulin dan berat badan hingga insiden hipoglikemia.

Ulasan Hasil Penelitian

Dari 1462 pasien diabetes mellitus tipe 2, ada 1102 pasien yang memenuhi syarat inklusi untuk diikutsertakan pada analisis studi. Di antara 1102 partisipan, rerata umur saat baseline ialah 58,6 tahun, dengan rerata HbA1c 9,8%, dan rerata durasi diabetes 13,3 tahun. Sebanyak 35,1% mendapat obat antidiabetik oral saja; 21,9% dengan insulin premiks; 21,8% telah mendapat insulin basal plus oral antidiabetik; 13% sudah mendapat insulin basal-bolus; dan 8,2% menggunakan agonis reseptor GLP-1 dengan insulin.

Luaran primer menemukan bahwa mean HbA1c pada EOS mengalami perbaikan signifikan sebesar -1,4% jka dibandingkan saat baseline pada partisipan yang menggunakan IDegAsp. Penurunan HbA1c konsisten pada semua negara tempat studi dilaksanakan.

Hal serupa ditemukan pula untuk luaran sekunder yang meliputi penurunan signifikan pada glukosa plasma puasa (-2,7 mmol/L), berat badan (- 1 kg), maupun dosis insulin basal pada pasien yang sudah menggunakan insulin sebelumnya (-2,3 unit). Kejadian hipoglikemia tidak berat (keseluruhan dan nokturnal) maupun hipoglikemia berat berkurang secara signifikan (P<0,001) sejak periode sebelum baseline dan EOS.

Kelebihan Penelitian

Kelebihan penelitian ini terletak pada ukuran sampel yang cukup besar dan dilakukan pada banyak pusat layanan kesehatan di berbagai negara. Penelitian ini juga memiliki kriteria inklusi partisipan yang luas, sehingga membuat hasil analisis dapat digeneralisasi pada populasi pasien diabetes mellitus tipe 2 secara umum.

Limitasi Penelitian

Salah satu kelemahan dari studi ini adalah partisipan diseleksi secara empiris dengan harapan bahwa mereka akan mendapat benefit dari perubahan regimen awal ke IDegAsp. Sebagai hasil dari desain prospektif studi, mungkin saja pilihan terapi para dokter yang terlibat dapat dipengaruhi oleh keterlibatan partisipasi pusat kesehatan tempat mereka bekerja (bias seleksi).

Selain itu, karena studi ini merupakan studi non-intervensi, maka tidak dilakukan kontrol terhadap rentang parameter baseline baik dalam hal metode titrasi insulin termasuk frekuensi penggunaan insulin IDegAsp (ketidakseragaman metode). Studi dengan single arm tanpa komparator mengindikasikan pula bahwa kontribusi efek plasebo ataupun confounding factor lain yang dapat mempengaruhi hasil analisis tidak dapat disingkirkan sepenuhnya.

Aplikasi Hasil Penelitian Di Indonesia

Hasil studi ini menegaskan hasil kondisi real world yang konsisten dengan pengujian uji klinis sebelumnya. Populasi pasien diabetes mellitus tipe 2 yang diuji memiliki karakteristik yang serupa dengan negara kita, yakni mayoritas dengan kontrol glikemik yang buruk terlepas dari penggunaan obat oral antidiabetik ataupun yang sudah menggunakan regimen insulin basal-bolus sebelumnya. Selain itu, dengan ketersediaan IDegAsp yang sudah masuk cakupan jaminan kesehatan nasional, maka hasil studi ini dapat diterapkan pada praktik klinis di negara kita.

Referensi