Pemberian Lactoferin Oral pada Terapi Acne Vulgaris

Oleh :
dr. Josephine Darmawan

Lactoferin saat ini dianggap sebagai “obat dewa” yang dapat digunakan untuk berbagai penyakit. Pemberian lactoferin oral pada terapi acne vulgaris (jerawat) diiklankan sebagai obat yang akan membuat kulit mulus dan tanpa efek samping.

Acne vulgaris (AV) merupakan masalah kulit yang sangat umum terjadi, sebanyak 80-90% dewasa muda mengalami jerawat menetap. Sebanyak 20% dari kasus AV merupakan kasus sedang hingga berat. Jerawat dapat sangat mengganggu percaya diri hingga dapat menyebabkan ide untuk melakukan bunuh diri.[1,2] Penyakit ini juga dapat sangat mengganggu aktivitas dan memakan biaya yang besar. Oleh karena itu, pengobatan acne vulgaris sangat penting bagi pasien. Namun demikian, meski penyakit ini sangat umum dan sederhana, pengobatanya cukup sulit untuk dilakukan karena sangat bergantung pada karakteristik masing-masing pasien.[2,3]

Obat-obat yang umum digunakan dalam tata laksana AV adalah retinoid topikal, benzoil peroksida, dan antibiotik. Pada kasus-kasus yang lebih berat terapi retinoid oral dapat diberikan.[3,4] Obat-obatan acne ini memiliki efek teratogenik, fotosensitivitas, dan iritatif, sehingga penggunaannya memiliki beberapa kendala. Dalam beberapa tahun terakhir, lactoferin (Lf) juga dikembangkan sebagai terapi acne vulgaris dan dinilai cukup bermanfaat. Walaupun cukup menjanjikan, bukti klinis tentang efektifitas dan keamanan lactoferin oral dalam terapi acne vulgaris masih minim. Hingga saat ini, Food and Drug Administration (FDA) Amerika masih menyatakan Lf sebagai GRAS (Generally Recognized as Safe) dan belum mengklasifikasikannya sebagai obat. [5-7]

acne

Kegunaan dan Farmakologi Lactoferin

Lactoferin (Lf) merupakan glikoprotein pengikat besi (iron-binding) yang dinilai dapat bermanfaat pada berbagai macam penyakit, mulai dari diare, anemia defisiensi besi, sepsis neonatorum, kanker payudara, penyakit gigi, psoriasis, tinea pedis, dan acne vulgaris.[5,8-11] Lactoferin memiliki berbagai efek, yaitu efek antimikroba, antifungal, imunomodulator, antiinflamasi, analgesik, antioksidan, anti kanker, dan meningkatkan metabolisme lemak.

Pemberian lactoferin dapat dilakukan melalui jalur intravena ataupun oral. Melalui jalur intravena, waktu paruh Lf adalah hanya beberapa menit dan dibutuhkan beberapa kali injeksi untuk mencapai efek terapeutik. Hal ini sangat tidak efektif, sehingga pemberian lactoferin lebih disukai melalui jalur per oral. Namun demikian, Lf adalah senyawa protein, sehingga bila dikonsumsi per oral akan mengalami degradasi oleh enzim-enzim proteolitik dalam saluran cerna, sehingga efek terapi juga menjadi tidak maskimal. Lf juga dinilai memiliki efek probiotik dan hingga saat ini belum terdapat laporan mengenai efek samping ataupun toksisitasnya. Bioavailabilitas Lf juga belum diketahui dengan jelas. [12-14]

Rasionalisasi Pemberian Lactoferin pada Acne Vulgaris

Acne vulgaris (AV) terjadi karena berbagai faktor, antara lain adalah infeksi dan proliferasi bakteri Propionibacterium acnes, reaksi inflamasi, dan overproduksi sebum. Sistem imun dan hormon, seperti androgen, sterol regulatory element binding protein-1 (SREBP-1), dan mediator inflamasi lainnya diduga berperan dalam patomekanisme AV.

Lactoferin dinilai dapat menghambat patogenesis acne vulgaris karena memiliki fungsi antimikroba dan antiinflamasi, sehingga dapat menghambat proliferasi bakteri P. acnes dan reaksi inflamasi karenanya. Fungsi imunomodulator Lf juga berperan dalam mengurangi respon imun dan inflamasi. Lactoferin juga mengurangi produksi lemak triasigliserol (triacylglycerols) dan asam lemak bebas (free fatty acids) pada permukaan kulit. Ditambah lagi Lf juga memiliki fungsi sebagai probiotik, sehingga dapat melindungi mukosa usus dari virulensi P. acne yang dapat menyebabkan overproliferasi bakteri di usus, memperpanjang transit bakteri di usus, dan merusak sawar usus/intestinal barrier. Sebanyak 54% pasien acne vulgaris mengalami disposisi mikroflora di usus, sehingga terapi dengan probiotik seperti Lf dinilai dapat bermanfaat. Atas dasar hal-hal ini lah lactoferin dinilai bermanfaat dalam terapi acne (jerawat).[1,5,15,16]

Bukti Klinis Pemberian Lactoferin Oral pada Acne Vulgaris

Studi yang mempelajari pemberian lactoferin oral pada acne vulgaris masih memiliki keterbatasan.  Randomized Controlled Trial (RCT) dari Kim et al pada 36 pasien menunjukkan bahwa pemberian susu fermentasi dengan suplementasi lactoferin 200 mg selama 12 minggu menunjukkan perbaikan dan penurunan lesi acne vulgaris sebanyak lebih dari 20% serta penurunan sebum sebanyak 31.1%. Penurunan lesi dan sebum juga terjadi pada kelompok kontrol (mendapatkan susu fermentasi tanpa lactoferin), hal ini menjadikan kemungkinan adanya bias dalam penelitian ini karena susu fermentasi juga dapat berfungsi sebagai probiotik. Penelitian ini tidak menunjukkan adanya perubahan pH kulit ataupun hidarsi kulit. [5,15]

Hasil serupa juga didapatkan dari RCT lain yang dilakukan pada tahun 2011. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian lactoferin tablet kunyah sebanyak 2 kali sehari selama 8 minggu dapat menurunkan lesi inflamasi hingga 20.2% dan lesi non-inflamasi hingga 23.5% dibandingkan sebelum melakukan terapi Lf. Perbaikan terjadi pada 76.9% (30 dari 39) subjek. Namun demikian, perlu dicatat bahwa studi ini menggunakan metode uncontrolled open label selama hanya 8 minggu dan dibiayai oleh perusahaan farmasi sehingga mungkin terdapat bias. [5,6]

Studi RCT terbaru dari Chan et al tahun 2017 juga menunjukkan hasil serupa. Penelitian dengan 164 subjek ini, menunjukkan bahwa pemberian Lf memberikan penurunan total lesi acne dalam waktu 2 minggu dan hasil maksimal didapatkan pada waktu 10 minggu setelah terapi, dimana terdapat pengurangan komedo sebanyak 32.5% dan lesi inflamasi sebanyak 44%. Dalam penelitian ini juga tidak ditemukan adanya efek samping ataupun adverse event. Subjek penelitian diberikan Lf dengan kombinasi vitamin E dan Zinc, sehingga efek dari masing-masing bahan aktif terhadap jerawat tidak dapat dinilai secara terpisah.[7]

Ketiga studi RCT ini menunjukkan bahwa Lf dapat mengurangi lesi pada acne vulgaris dan aman untuk diberikan. Namun demikian, penelitian ini masih memiliki beberapa kekurangan, yaitu jumlah sampel yang masih sedikit dan kemungkinan adanya bias dengan perlakuan penyerta yang diberikan, seperti susu fermentasi dan juga suplementasi. Susu fermentasi juga dapat berfungsi sebagai probiotik, sehingga dapat memberikan efek masking pada fungsi probiotik dari Lf. Vitamin E juga dapat mencegah peroksidasi lemak karena bakteri dan mengurangi inflamasi.[5,15,17] Studi lebih lanjut mengenai pemberian lactoferin masih perlu dilakukan, namun terapi ini cukup aman untuk diberikan sebagai alternatif.[5-7,15]

Kesimpulan

Lactoferin memiliki berbagai fungsi yang dapat bermanfaat dalam melawan acne vulgaris, seperti fungsi antimikroba, antiinflamasi, probiotik, dan menghambat produksi sebum. Pemberian lactoferin oral sebagai terapi acne vulgaris cukup menjanjikan dan hingga saat ini belum terdapat laporan mengenai efek samping ataupun adverse event. Pemberian lactoferin secara oral juga lebih aman dan tidak invasif dibandingkan jalur intravena, namun demikian pemberian melalui rute oral masih menemukan hambatan karena lactoferin akan mengalami degradasi oleh enzim-enzim proteolitik ketika masuk ke dalam saluran cerna. Meskipun lactoferin cukup aman dan menjanjikan dalam mengurangi gejala acne vulgaris, studi lebih lanjut masih diperlukan. Untuk saat ini, lactoferin dapat dipertimbangkan sebagai alternatif terhadap regimen penatalaksanaan acne yang standar.

Referensi