Kesulitan interaksi dengan orang lain - Diskusi Dokter

general_alomedika

Saya sangat sering mendapatkan klien di mana permasalahan yang dialami adalah berhubungan dengan kesulitan dengan orang lain.. biasanya klien berhadapan...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Kesulitan interaksi dengan orang lain

    05 Mei 2021, 19:31

    Saya sangat sering mendapatkan klien di mana permasalahan yang dialami adalah berhubungan dengan kesulitan dengan orang lain.. biasanya klien berhadapan dengan kolega, boss, dosen, teman, pasangan yang susah diajak bicara ataupun orang tua yang keras dan sulit diajak diskusi. Apakah dari rekan-rekan sejawat bisa memberikan contoh usulan saran apa yang biasanya Anda berikan jika anda menemukan kasus-kasus seperti ini?

06 Mei 2021, 03:14
dr. Abi Noya
dr. Abi Noya
Dokter Umum

Alo, 

 

Mungkin sekadar sharing saja, ya. Karena saya juga bukan ahli psikologi maupun psikiatri. Di Alodokter saya cukup sering menemukan user dengan keluhan-keluhan serupa, terlebih ketika merasa merasa tidak berdaya, atau tidak mampu berhadapan dengan orang-orang yang dapat dikategorikan dominan dalam pandangan user. 

 

Biasanya pada kasus-kasus psikologis seperti ini, saya akan lebih banyak mendengar terlebih dahulu, meminta user untuk menceritakan yang dialami, mencaritahu kondisi yang dihadapi, perbincangan yang sulit didiskusikan umumnya dalam konteks apa, kepada siapa saja perbincangan/diskusi dirasa sulit untuk dilakukan, serta menelusuri apa dan bagaimana respons user saat menghadapi kondisi seperti ini. 

 

Dari situ, umumnya saya akan bisa mendapatkan beberapa poin yang saya rasa penting. Seperti bagaimana kepribadian user, bagaimana cara user beradaptasi dan menghadapi masalah, apakah kesulitan ini hanya dialami saat berdiskusi dengan orang tertentu saja, serta adakah kondisi lain yang mempengaruhi terjadinya masalah ini.

 

Setelah itu, barulah saya mengajak user berbicara mengenai kondisi yang dialaminya, kemudian membuatnya seperti sebuah diskusi kasus. Saya akan memberikan contoh kasus serupa dan mengajak user memberikan pandangan serta saran bagi sang "objek khayalan" yang memiliki masalah mirip dengan yang dialami user. Dengan demikian biasanya user mulai bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana harusnya kondisi seperti ini disikapi, meski pada banyak kasus, hal ini sering diawali dengan sikap denial.  Setelah user mulai melunak dan menunjukkan sikap ingin menerima saran, barulah saya memberikan beberapa masukan point of view.

 

Di sini saya mengajak user untuk kembali melihat, apakah yang selalu bermasalah hanya dengan bbrp orang tertentu, atau hampir semua orang. Jika semua orang, mungkin masalahnya ada pada cara user menyampaikan pendapat atau menghadapi suatu pendapat/permasalahan. Hal ini lah yang perlu dibenahi perlahan Saya kemudian akan mengajak user mengenali dirinya lebih dalam dan membantunya untuk menemukan cara lain dalam berdiskusi.

 

Jika masalah ini hanya dialami saat berinteraksi dengan bbrp orang tertentu, saya akan mengajak user berdiskusi untuk menemukan apakah ini hanya merupakan masalah clash antar 2 kepribadian yang bertolak belakang, atau ada hal lain yang mendasari. Sambil mencari tahu lagi, adakah riwayat permasalahan sebelumnya baik yang dialami secara pribadi oleh lawan diskusi, maupun yang dialami bersama lawan diskusi. 

 

Saya juga akan menyarankan untuk tidak selalu mengambil hati setiap ucapan yang dilontarkan lawan diskusi. Dengan begitu saya mengajak user untuk melihat makna di balik ucapan dan tindakan. Bahwa sering kali reaksi lawan diskusi merupakan cuplikan atau gambaran diri mereka sendiri. 

 

Daripada terus menjadi frustrasi karena merasa tidak mampu berdiskusi, saya akan mengajak user agar mencoba lebih terbuka, tetap tenang, hilangkan preokupasi saat berdiskusi, dan hindari bersikap terlalu reaktif. Dengan begini harapan saya user bisa belajar bahwa makna sabar bukan berarti pasrah, melainkan mengenali situasi dan know your fight and when to fight. 

 

Terakhir, yang selalu saya katakan pada user adalah tarik nafas beberapa saat sebelum membalas lawan bicara, beri waktu ekstra sebelum merespons secara gegabah atau situasional & sporadis. Hal ini saya tekankan tujuannya agar user bisa berpikir lebih rasional, serta dalam waktu singkat mampu menentukan, apakah adu pendapat ini layak dilakukan, seberapa besar hasilnya bagi kelangsungan hidup/pekerjaan, is it worth the fight or was it just a burst of ego.

 

Karena pada akhirnya, api yang dilawan dengan api, hanya akan membuat kebakaran. Sedangkan untuk memadamkan api pilihannya tak cuma dengan air. Pada akhirnya pilihan itu ada pada kita. Anda tidak selalu bisa mengendalikan situasi, terlebih orang lain, tapi yang paling mungkin Anda atur adalah diri Anda sendiri. 

 

 

Mungkin seperti itu, sebagai bahan bacaaan tambahan:

https://www.psychologytoday.com/us/blog/living-the-questions/201503/20-expert-tactics-dealing-difficult-people

 

Salam, 

CMIIW