Pasien saya, bayi laki-laki berusia 5 bulan, muntah dan diare selama 2 hari, demam 38 C, komposmentis. Kakak kandungnya memiliki gejala serupa. Tidak ada...
NGT tidak dipasang pada bayi diare saat pemasangan infus gagal - Diskusi Dokter
general_alomedikaDiskusi Dokter
- Kembali ke komunitas
NGT tidak dipasang pada bayi diare saat pemasangan infus gagal
Pasien saya, bayi laki-laki berusia 5 bulan, muntah dan diare selama 2 hari, demam 38 C, komposmentis. Kakak kandungnya memiliki gejala serupa. Tidak ada darah dalam muntah atau feses. Perut lunak. Popok tidak basah selama 12 jam terakhir. Pasien ini saya rujuk ke IGD.
Keesokan harinya, pasien kembali dibawa ke klinik saja dalam keadaan dehidrasi sedang. Orang tua melaporkan bahwa bayi dipulangkan dari IGD setelah tidak menerima resusitasi cairan, karena infus tidak dapat dipasang. Disuruh mencoba di rumah sakit lain keesokan harinya. Tidak ada ORS yang diberikan di rumah sakit atau diberikan saat pulang.
Mengapa NGT atau selang nasogastrik tidak dipasang untuk memberikan rehidrasi cairan oral, ya? Padahal, ini adalah standar perawatan dan lebih baik untuk hidrasi pada pasien anak menurut WHO dan pedoman pediatrik lainnya? Apakah ini karena kurangnya keterampilan prosedural oleh tenaga kesehatan? Kurangnya praktik EBM atau mengikuti praktik standar?
Ini bukan pertama kalinya saya bertemu orang tua di mana fokusnya adalah pada pemasangan infus, dan ketika tidak dapat dilakukan, mereka disuruh mencoba di rumah sakit lain atau dipulangkan - bagaimana ini bisa dianggap praktik yang aman?
Setuju Dok, terlalu banyak fokus pada prosedur spesifik dan bukan pada keselamatan pasien, terutama untuk pasien berisiko tinggi seperti bayi/anak kecil. Di Indonesia, diare yang menyebabkan dehidrasi adalah penyebab kematian kedua terbanyak setelah pneumonia pada bayi (0-12 bulan) dan penyebab kematian paling umum pada balita (12-26 bulan). Ada lebih dari 1 pilihan untuk rehidrasi - WHO menjabarkan dalam rencana A, B, dan C.
Pilihan Tata laksana:
Rencana A: Terapi di Rumah (Tanpa Dehidrasi)
Tujuan terapi : mencegah dehidrasi dengan Terapi Rehidrasi Oral
- Cairan: Berikan cairan ekstra (Oral Rehydration Solution atau oralit, air beras asin atau sup). Hindari memberikan soda yang bergula atau hanya air biasa
- Jumlah (setelah setiap buang air besar encer):
- Dibawah 2 tahun: 50-100 mL
- 2 tahun keatas: 100-200 mL
- Pemberian makan: lanjutkan ASI atau makanan yang sesuai usia
- Zinc: Berikan zinc 20 mg zinc sebagai suplementasi harian selama 10–14 hari (10 mg jika pasien <6 bulan)
Rencana B: Rehidrasi Oral (Dehidrasi Ringan-Sedang)
Ini biasanya dilakukan di setting klinik selama 4 jam.
Cairan: Gunakan ORS Osmolaritas Rendah standar WHO.
Perhitungan volume: Berikan sekitar 75 mL/kg selama 4 jam.
Metode: Berikan sedikit demi sedikit dengan cangkir atau sendok.
Muntah: Jika anak muntah, tunggu 10 menit, lalu lanjutkan lebih perlahan (misalnya, 1 sendok penuh setiap 2–3 menit).
Rehidrasi Selang Nasogastrik (NGT)
WHO merekomendasikan rehidrasi NGT dalam skenario "jembatan" tertentu:
- Kapan digunakan: Jika ORT (Rencana B) gagal karena anak terlalu lelah untuk minum, muntah terus-menerus, atau jika infus tidak dapat dipasang untuk anak yang mengalami dehidrasi berat.
- Kecepatan: Biasanya 20 mL/kg/jam selama 6 jam (total 120 mL/kg).
- Keuntungan: Lebih aman daripada infus di lingkungan dengan sumber daya terbatas karena menghindari risiko kelebihan cairan atau infeksi dari jarum.
Rencana C: Cairan Infus (Dehidrasi Berat)
Ini adalah keadaan darurat medis untuk anak-anak yang mengalami syok atau dehidrasi berat.
- Cairan: Ringer Laktat (lebih disukai) atau Saline Normal (0,9% NaCl).
- Volume: Total 100 ml/kg, dibagi menjadi dua tahap:
- Usia <12 bulan berikan 30 mL/kg pertama selama 1 jam, kemudian berikan 70 mL/kg selama 5 jam.
- Anak yang lebih besar 1-5 tahun berikan 30 mL/kg pertama selama 30 menit dan kemudian berikan 70 mL/kg selama 2,5 jam
Jadi, jika infus intravena bukan pilihan, maka berikan selang nasogastrik (NGT) atau upaya rehidrasi oral sehingga pemantauan mudah dilakukan. Tetapi memulangkan pasien tanpa mencoba salah satu rencana di atas itu tidak aman dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius bahkan kematian.