Hamil namun "masih perawan" - Diskusi Dokter

general_alomedika

Selamat siang docs,Ada pasien wanita yang baru menikah, kemudian ia telat haid. Kemudian ia melakukan test pack berkali2 hasilnya positif dan sudah confirmed...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Hamil namun "masih perawan"

    14 November 2018, 15:15

    Selamat siang docs,

    Ada pasien wanita yang baru menikah, kemudian ia telat haid. Kemudian ia melakukan test pack berkali2 hasilnya positif dan sudah confirmed oleh usg. Saat itu pasien mengaku kalau "masih perawan". Ternyata yg dimaksut adalah, pasien selalu merasa takut dan kesakitan saat berhubungan seksual, sehingga tidak terjadi penetrasi yg dalam, dan mengatakan selaput dara belum robek. Dikatakan sperma hanya dikeluarkan di permukaan vagina saja.

    Yang ingin saya tanyakan, seberapa besar kemungkinan hamil jika tidak ada penetrasi penis ke dalam vagina? Pasien ini juga mengkhawatirkan proses kelahiran, krn sampai saat ini ia mengaku masih takut berhubungan seksual dan selaput daranya belum robek. Ia juga tidak berani berhubungan seksual dalam kondisi hamil.

    Mungkin ada TS yg pernah menemui kasus serupa? Bagaimana penanganannya ya docs?

    Terimakasih banyak.

14 November 2018, 16:14
Halo dok, 
pertama, di dunia medis yang saya tahu tidak mengenal istilah perawan/ tidak perawan. Melainkan itu merupakan sebutan yang masih beredar di masyarakat dalam menyatakan sudah berhubungan seksual sebelumnya atau belum. Di dunia medis sendiri kita mengenal istilah robekan selaput dara, dimana seperti yang diketahui hal ini bisa dialami dengan atau tanpa hubungan seksual sebelumnya. Seperti riwayat trauma, atau riwayat memasukkan benda lain ke dalam vagina itu bisa memicu robekan selaput dara. 
Kemudian bila sudah melakukan penetrasi penis ke dalam vagina walaupun tanpa ejakulasi sperma di dalam, maka kemungkinan hamil tetap ada walaupun lebih kecil dibandingkan dengan penetrasi yang disertai dengan ejakulasi di dalam vagina ya.. hal ini dikarenakan dalam cairan preejakulasi dipercaya juga mengandung sperma walaupun dalam jumlah sedikit. 
Mengenai penetrasi " tidak dalam" bukan merupakan alasan yang tepat dalam mengatakan ada/ tidak adanya robekan pada selaput dara itu sendiri, begitupun dengan keluhan " masih merasa sakit saat hubungan seksual" bukanlah penanda bahwa selaput dara belum mengalami robekan, karena rasa takut berlebihan bisa memicu vaginismus yang bisa memicu rasa nyeri ketika berhubungan.. dan lagi penilaian terhadap " penetrasi yang dalam/ tidak dalam" itu sendiri sangatlah subyektif ya, jadi juga tidak menentukan ada atau tidaknya robekan selaput dara.. 
Maka mengenai hal ini, baik mengenai robekan selaput dara ataupun kehamilan pasien tetap didasarkan melalui pemeriksaan langsung pada kondisi pasiennya.
Semoga membantu ya dok #cmiiw
14 November 2018, 16:53
dr. Andre
dr. Andre
Dokter Umum

Wah, lengkap sekali jawabannya dok. Sedikit menambahkan, bahkan jika tidak terjadi robekan selaput dara, sperma tetap bisa masuk tergantung bentuk hymennya.. Selama bentuknya tidak imperforata ya tetap bisa terjadi kehamilan dok.

14 November 2018, 17:37
14 November 2018, 16:14
Halo dok, 
pertama, di dunia medis yang saya tahu tidak mengenal istilah perawan/ tidak perawan. Melainkan itu merupakan sebutan yang masih beredar di masyarakat dalam menyatakan sudah berhubungan seksual sebelumnya atau belum. Di dunia medis sendiri kita mengenal istilah robekan selaput dara, dimana seperti yang diketahui hal ini bisa dialami dengan atau tanpa hubungan seksual sebelumnya. Seperti riwayat trauma, atau riwayat memasukkan benda lain ke dalam vagina itu bisa memicu robekan selaput dara. 
Kemudian bila sudah melakukan penetrasi penis ke dalam vagina walaupun tanpa ejakulasi sperma di dalam, maka kemungkinan hamil tetap ada walaupun lebih kecil dibandingkan dengan penetrasi yang disertai dengan ejakulasi di dalam vagina ya.. hal ini dikarenakan dalam cairan preejakulasi dipercaya juga mengandung sperma walaupun dalam jumlah sedikit. 
Mengenai penetrasi " tidak dalam" bukan merupakan alasan yang tepat dalam mengatakan ada/ tidak adanya robekan pada selaput dara itu sendiri, begitupun dengan keluhan " masih merasa sakit saat hubungan seksual" bukanlah penanda bahwa selaput dara belum mengalami robekan, karena rasa takut berlebihan bisa memicu vaginismus yang bisa memicu rasa nyeri ketika berhubungan.. dan lagi penilaian terhadap " penetrasi yang dalam/ tidak dalam" itu sendiri sangatlah subyektif ya, jadi juga tidak menentukan ada atau tidaknya robekan selaput dara.. 
Maka mengenai hal ini, baik mengenai robekan selaput dara ataupun kehamilan pasien tetap didasarkan melalui pemeriksaan langsung pada kondisi pasiennya.
Semoga membantu ya dok #cmiiw
Trims banyak tanggapannya, dok. Setuju mengenai tidak ada istilah "masih perawan" dalam medis, maka dari itu saya beri tanda kutip karena begitulah keluhan pasien. Sangat membantu dok, berarti tetap ada kemungkinan robekan ya. Dan betul, sepertinya pasien memang vaginismus, dan timbul permasalahan yang lain, yaitu pada proses persalinan nanti, krn pasien menjadi takut sekali. Mungkin ada ide, dok, mengenai persalinan nantu, selain memberi opsi operasi sesar?
14 November 2018, 18:17
Menurut saya penting juga manajemen gangguan kecemasannya ya dok, diedukasi mengenai cara menenangkan diri, mengalihkan pikiran kepada hal2 positif, dsb.. namun bila juga tidak kunjung teratasi dan malah memberat tentu ada baiknya dikonsultasikan lebih lanjut dengan psikiater atau psikolog ya dok ๐Ÿ˜Š
14 November 2018, 17:39
14 November 2018, 16:53

Wah, lengkap sekali jawabannya dok. Sedikit menambahkan, bahkan jika tidak terjadi robekan selaput dara, sperma tetap bisa masuk tergantung bentuk hymennya.. Selama bentuknya tidak imperforata ya tetap bisa terjadi kehamilan dok.

Make sense sekali, dok. Trims banyak dr. Andre.
14 November 2018, 18:15
14 November 2018, 16:53

Wah, lengkap sekali jawabannya dok. Sedikit menambahkan, bahkan jika tidak terjadi robekan selaput dara, sperma tetap bisa masuk tergantung bentuk hymennya.. Selama bentuknya tidak imperforata ya tetap bisa terjadi kehamilan dok.

Setuju dok, bentuk hymen juga mempengaruhi. Makasi tambahannya
14 November 2018, 18:53
dr. Taufik Rahman SpOG
dr. Taufik Rahman SpOG
Dokter Spesialis Kandungan
Sedikit share pengalaman saja. Saya pernah dapat pasien yang seperti ini. ternyata pasien tersebut memiliki septum vagina.
apakah Dokter sudah melakukan pemeriksaan vagina?
jika belum, Silahkan di lihat saja nanti pasti sudah kelihatan. atau minta pasien untuk periksa kepada dokter kandungan terdekat.
Meskipun ada septum vagina, apabila tidak ada indikasi obstetri, maka belum tentu perlu dilakukan operasi seksio.
pada pasien kami saya lakukan persalinan pervaginam. durante kala 2 saya robek septum vagina nya. kebetulan septumnya adalah septum longitudinal.
pernah juga kami mendapati pasien kami dengan hymen yang lentur. sehingga saat kami akan menolong persalinan agak kaget juga melihat bentuk hymen yang masih utuh.
14 November 2018, 20:26

dr. Taufik Rahman SpOG
Nov 14, 2018 at 18:53 PM

Sedikit share pengalaman saja. Saya pernah dapat pasien yang seperti ini. ternyata pasien tersebut memiliki septum vagina.
apakah Dokter sudah melakukan pemeriksaan vagina?
jika belum, Silahkan di lihat saja nanti pasti sudah kelihatan. atau minta pasien untuk periksa kepada dokter kandungan terdekat.
Meskipun ada septum vagina, apabila tidak ada indikasi obstetri, maka belum tentu perlu dilakukan operasi seksio.
pada pasien kami saya lakukan persalinan pervaginam. durante kala 2 saya robek septum vagina nya. kebetulan septumnya adalah septum longitudinal.
pernah juga kami mendapati pasien kami dengan hymen yang lentur. sehingga saat kami akan menolong persalinan agak kaget juga melihat bentuk hymen yang masih utuh.

wah, bermanfaat sekali infonya dok, terima kasih.

14 November 2018, 20:50
14 November 2018, 18:53
Sedikit share pengalaman saja. Saya pernah dapat pasien yang seperti ini. ternyata pasien tersebut memiliki septum vagina.
apakah Dokter sudah melakukan pemeriksaan vagina?
jika belum, Silahkan di lihat saja nanti pasti sudah kelihatan. atau minta pasien untuk periksa kepada dokter kandungan terdekat.
Meskipun ada septum vagina, apabila tidak ada indikasi obstetri, maka belum tentu perlu dilakukan operasi seksio.
pada pasien kami saya lakukan persalinan pervaginam. durante kala 2 saya robek septum vagina nya. kebetulan septumnya adalah septum longitudinal.
pernah juga kami mendapati pasien kami dengan hymen yang lentur. sehingga saat kami akan menolong persalinan agak kaget juga melihat bentuk hymen yang masih utuh.
Wah terimakasih sekali dr. Taufik, Sp.OG share pengalamannya. Sangat bermanfaat dan memberikan pencerahan.