Tata laksana leukorrhea rekuren - Diskusi Dokter

general_alomedika

Mohon pendapat sejawat,Perempuan 28 tahun datang ke poliklinik umum dengan keluhan utama keputihan sejak satu hari yang lalu. Keputihan dirasa lebih banyak...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Tata laksana leukorrhea rekuren

    14 Juni 2019, 00:35

    Mohon pendapat sejawat,

    Perempuan 28 tahun datang ke poliklinik umum dengan keluhan utama keputihan sejak satu hari yang lalu. Keputihan dirasa lebih banyak dibanding sebelumnya terasa gatal di dalam vagina. Keputihan agak kental seperti susu kental manis namun di ada juga sebagian uang menggumpal seperti susu basi. Bau normal. Keluhan lain tidak ada. 

    Pasien sedang menggunakan KB AKDR sejak 6 bulan yang lalu. Namunsejak 5 hari yang lalu pasien menggunakan KB suntik 3 bulan karena alasan tidak nyaman sering keputihan hampir setiap hari sejak menggunakan AKDR tersebut, bahkan pernah sekali hingga didiagnosis BV 1x sekitar 5 bulan yang lalu dan sudah diobati dengan metronidazol 2 gram single dose. 

    Riwayat keluhan seperti ini pernah dirasakan seketika sejak menggunakan AKDR 6 bulan yang lalu namun sudah diobati dengan obat anti jamur 1 * 150 mg singgle dose. Dan sekitar 5 tahun yang lalu (diobati dengan metronidazol nistatin vaginal ovula 3 hari). 

    Riwayat obstetri : G2P2A0 anak usia 3 th dan 1 th. Riwayat penyakit sistemik (-). Riwayat IMS (-) Riwayat seksual pada 1 partner. Riwayat seksual pasangan pada 1 partner. Pasien menyusui ( )

    dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan TTV normal. kondisi umum dalam kondisi baik. 

    Status ginekologi: 

    vulva tidak odem. pada inspekulo ditemukan floor kental namun ada juga yang seperti susu basi. Porsi serviks erosi terlihat benang AKDR

    Pemeriksaan penunjang PH vagina 4.5

    Koh tidak dilakukan 

    Diagnosis kerja: suspek kandidiasis vulvovagina

    Terapi : 

    Fluconazole 150 mg singgle dose. 

    KIE kontrol bila tidak membaik dalam 3 hari. 

    Diskusi: 

    1. Mohon pendapat sejawat pada kasus dimana kita tidak dapat melakukan pemeriksaan penunjang apakah diagnosis dapat ditegakkan hanya berdasarkan klinis saja? 

    2. sebagian referensi ada yang mengatakan untuk kasus VVC non komplikata (non rekuren) flukonazol dapat diberikan single dose, dapat pula diberikan dalam 3 dosis dalam satu periode (berselang 2 hari). Pada kasus ini barangkali sejawat memiliki pengalaman, yang mana yang lebih baik menurut sejawat? 

    3. Apakah kondisi ini berhubungan dengan metode kontrasepsi yang dipilih oleh pasien? 

    BTK Coll.

14 Juni 2019, 08:35

Alo dr. Putu,

kasus yang cukup menarik ya dok.

Berdasarkan Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual, untuk keluhan duh tubuh vagina (keputihan) dengan ada atau tidaknya rasa gatal/terbakar sebaiknya diawali dengan anamnesis (tanya faktor resiko) dan pemeriksaan fisik dok. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan inspekulo untuk melihat duh tubuh mukopurulen atau tidak, dan terakhir dilakukan pemeriksaan mikroskop (buat sediaan apus, pewarnaan gram, dan sediaan basah dengan larutan NaCl 0,9%). Namun, jika tidak memungkinkan untuk melakukan pemeriksaan mikroskop, maka untuk keputihan yang tidak mukopurulen bisa diterapi sebagai vaginitis dahulu dok. Jika sudah diterapi selama 7 hari keluhan tidak hilang, diterapi sebagai servisitis gonokokus, klamidiosis, dan trikomoniasis. Jika tidak hilang juga, maka dapat di rujuk dok agar di periksa lebih lanjut.

Untuk pasien tersebut, mungkin bisa ditambahkan edukasi agar berhubungan seksual menggunakan pengaman selama keluhan masih ada. Hal ini untuk menghindari penularan ke pasangan dok. Dan akan lebih baik lagi jika pasangan juga ikut di periksa untuk mencari sebab keluhannya yang berulang.

Terima kasih dok, CMIIW.

15 Juni 2019, 08:24
Alo dr.Friska, 

Terima kasih atas feedbacknya terhadap kasus ini. Riwayat seksual tidak berisiko dok. Setelah 3 hari pasien kontrol mengatakan keputihannya berhenti. Namun gatal dan burning sensation masih dirasakan di area vagina. 

Pasien baru mendapatkan haid pertamanya setelah melahirkan. Sebelumnya (3 tahun yang lalu) pasien pernah merasakan hal yang sama, sering gatal sebelum haid tapi tidak ada keputihan. Pasien mengobati sendiri dengan membasuh vagina menggunakan air rebusan daun sirih merah 2x sehari dan hal ini membantu.


Saat kontrol hasil pemeriksaan fisik kondisi umum normal namun Karena sedang haid inspekulo tidak dilakukan. 

Kecurigaan saya cyclic vaginitis ec susp. cytolytic vaginosis (Sering misdiagnosis dengan candida vaginitis) berdasarkan jurnal berikut

https://www.hindawi.com/journals/idog/2004/839762/abs/

Saya KIE untuk lanjut menggunakan rebusan dauh sirih merah dan kontrol jika tidak membaik. 


15 Juni 2019, 08:49
dr.Utomo Budidarmo, SpOG, M.Kes
dr.Utomo Budidarmo, SpOG, M.Kes
Dokter Spesialis Kandungan
Alo dokter!

Pendekatan empiris utk keputihan dapat dilakukan hanya dengan pendekatan gejala dan tanda saja, misalnya keputihan yg gatal dan berbentuk seperti keju atau susu basi mengarah ke kandidiasis apalagi ditambah pH 4,5 atau sebaliknya bila berbau amis atau gatal dan keputihan menyelimuti dinding vagina, pH> 4,5 Kemungkinan bv dst. Ini boleh dilakukan berdasarkan rekomendasi pada faskes yg terbatas diagnostiknya

Saya pribadi menggunakan yg single dose dan selama ini kecuali ada komorbid yg menyebabkan sulit sembuh seperti DM, kegemukan, imunodefisiensi atau pengguna kortikosteroid, lazimnya akan sembuh dengan baik. 

Kontrasepsi iud pada beberapa penelitian dapat meningkatkan risiko keputihan karena bv, sekitar 2 kali lipat, dan jamur (namun lebih berhubungan dengan panjang benang sisa iudnya) namun penting' juga ditelaah kebiasaan pasien misalnya kebiasaan cebok menggunakan sabun yg dapat membunuh laktobasilus kuman baik vagina, kebiasaan hubungan intim, kegemukan, malnutrisi, dan higienitas kewanitaannya secara umum dst. 
15 Juni 2019, 09:07
dr.Utomo Budidarmo, SpOG, M.Kes
dr.Utomo Budidarmo, SpOG, M.Kes
Dokter Spesialis Kandungan
Koreksi utk bv lazimnya tidak gatal, kecuali ko infeksi dengan kvv
15 Juni 2019, 08:53
dr.Utomo Budidarmo, SpOG, M.Kes
dr.Utomo Budidarmo, SpOG, M.Kes
Dokter Spesialis Kandungan
Lanjutan, utk recurrent vvc dapat mengacu pada guideline dari cdc tahun 2015, dengan pemberian flukonazole awal selang seling hari  1,4,7 utk mycologic remission dilanjutkan dengan mingguan selama 6 

https://www.cdc.gov/std/tg2015/candidiasis.htm
15 Juni 2019, 13:41
dr.Samira
dr.Samira
Dokter Umum
Terimakasih dok atas ilmunya 🙏🙏
15 Juni 2019, 15:05
Selamat sore dr Budi, terimakasi atas masukannya. Iya dok kunjungan yang 3 hari lalu sy diagnosis kerja dengan VVC karena anamnesis dan pemeriksaan fisik trrsebut dan sudah membaik. 

Mohon sharingnya lebih lanjut dok mengenai cyclic vaginitis yg sering mis diagnosis dg vvc, apakah perlu kiranya kita memberi terapi antijamur sbg profilaksis sebelum memasuki periode haid? Atau simtomatis antihistamin saja karena hormon akan kembali stabil setelah haid? 

Terimakasih banyak sebelumnya dok
Terimakasih
15 Juni 2019, 13:37
15 Juni 2019, 08:49
Alo dokter!

Pendekatan empiris utk keputihan dapat dilakukan hanya dengan pendekatan gejala dan tanda saja, misalnya keputihan yg gatal dan berbentuk seperti keju atau susu basi mengarah ke kandidiasis apalagi ditambah pH 4,5 atau sebaliknya bila berbau amis atau gatal dan keputihan menyelimuti dinding vagina, pH> 4,5 Kemungkinan bv dst. Ini boleh dilakukan berdasarkan rekomendasi pada faskes yg terbatas diagnostiknya

Saya pribadi menggunakan yg single dose dan selama ini kecuali ada komorbid yg menyebabkan sulit sembuh seperti DM, kegemukan, imunodefisiensi atau pengguna kortikosteroid, lazimnya akan sembuh dengan baik. 

Kontrasepsi iud pada beberapa penelitian dapat meningkatkan risiko keputihan karena bv, sekitar 2 kali lipat, dan jamur (namun lebih berhubungan dengan panjang benang sisa iudnya) namun penting' juga ditelaah kebiasaan pasien misalnya kebiasaan cebok menggunakan sabun yg dapat membunuh laktobasilus kuman baik vagina, kebiasaan hubungan intim, kegemukan, malnutrisi, dan higienitas kewanitaannya secara umum dst. 
Menyimak Dokter, terima kasih sharingnya
15 Juni 2019, 13:40
dr.Samira
dr.Samira
Dokter Umum
15 Juni 2019, 08:49
Alo dokter!

Pendekatan empiris utk keputihan dapat dilakukan hanya dengan pendekatan gejala dan tanda saja, misalnya keputihan yg gatal dan berbentuk seperti keju atau susu basi mengarah ke kandidiasis apalagi ditambah pH 4,5 atau sebaliknya bila berbau amis atau gatal dan keputihan menyelimuti dinding vagina, pH> 4,5 Kemungkinan bv dst. Ini boleh dilakukan berdasarkan rekomendasi pada faskes yg terbatas diagnostiknya

Saya pribadi menggunakan yg single dose dan selama ini kecuali ada komorbid yg menyebabkan sulit sembuh seperti DM, kegemukan, imunodefisiensi atau pengguna kortikosteroid, lazimnya akan sembuh dengan baik. 

Kontrasepsi iud pada beberapa penelitian dapat meningkatkan risiko keputihan karena bv, sekitar 2 kali lipat, dan jamur (namun lebih berhubungan dengan panjang benang sisa iudnya) namun penting' juga ditelaah kebiasaan pasien misalnya kebiasaan cebok menggunakan sabun yg dapat membunuh laktobasilus kuman baik vagina, kebiasaan hubungan intim, kegemukan, malnutrisi, dan higienitas kewanitaannya secara umum dst. 
Terimakasih dokter atas ilmunya 🙏🙏
16 Juni 2019, 08:35
dr.Utomo Budidarmo, SpOG, M.Kes
dr.Utomo Budidarmo, SpOG, M.Kes
Dokter Spesialis Kandungan
15 Juni 2019, 15:05
Selamat sore dr Budi, terimakasi atas masukannya. Iya dok kunjungan yang 3 hari lalu sy diagnosis kerja dengan VVC karena anamnesis dan pemeriksaan fisik trrsebut dan sudah membaik. 

Mohon sharingnya lebih lanjut dok mengenai cyclic vaginitis yg sering mis diagnosis dg vvc, apakah perlu kiranya kita memberi terapi antijamur sbg profilaksis sebelum memasuki periode haid? Atau simtomatis antihistamin saja karena hormon akan kembali stabil setelah haid? 

Terimakasih banyak sebelumnya dok
Terimakasih
 Menurut hemat saya tidak perlu terapi jamur profilaksis, yg penting edukasi higienitas vagina dan identifikasi faktor2 yg dapat menyebabkan keputihan berulang seperti dijelaskan sebelumnya, dan bila anda mencurigai kada laktobasilus vagina berkurang, beberapa penelitian menyebutkan suplementasi dengan suplemen yg mengandung laktobasilus rhamnosus gr-1 dan laktobasilus reuteri rc-14 baik sediaan oral maupun vagina dapat bermanfaat mencegah rekurensi.