Klorokuin Fosfat dan Remdesivir Sebagai Terapi COVID-19

Oleh :
dr. Nathania S. Sutisna

Klorokuin fosfat, obat antimalaria yang telah lama digunakan, dan Remdesivir ditemukan dapat mengobati penyakit emerging disease COVID-19 yang disebabkan oleh virus Novel Corona-2019 (2019-nCoV). Kedua obat ini telah ditemukan memiliki dampak positif pada kasus infeksi virus Corona lainnya seperti SARS-CoV dan MERS-CoV.

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya wabah di Wuhan, Cina pada awal Februari 2020, sejak itu virus corona telah menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Berdasarkan data yang tersedia sejauh ini, angka kematian virus corona mencapai 2%. Gejala infeksi virus corona menyerupai flu like symptoms. Namun pada beberapa kasus seperti  pasien dengan komorbiditas dan usia lanjut dapat, keluhan ringan tersebut dapat berkembang menjadi pneumonia atau Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)[1]

Klorokuin

Sebagaimana sebuah emerging disease, belum ada tatalaksana spesifik untuk pengobatan COVID-19 ini. Kebanyakan pasien hanya memiliki gejala flu like symtoms yang bersifat ringan. Pasien yang mengalami komplikasi berupa pneumonia atau ARDS,  tatalaksana medis yang diberikan bersifat suportif, antara lain pemberian oksigen suplemental dengan target saturasi oksigen di atas 90%, pemberian cairan secara konservatif bila tidak ada bukti renjatan, dan pemberian antimikrobia empirik yang mengikuti pedoman tatalaksana pneumonia komunitas (Community-acquired pneumonia).[2]

Penelitian-penelitian yang ada saat ini banyak ditemukan pada obat-obatan yang diteliti untuk penyakit virus sejenis, seperti SARS-CoV (Severe Acute Respiratory Syndrome-related Coronavirus) dan MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus). Obat-obatan baru telah dicoba sebagai terapi untuk COVID-19 antara lain klorokuin fosfat dan beberapa antivirus seperti salah satunya adalah Remdesivir.

Klorokuin Fosfat sebagai Terapi COVID-19

Klorokuin fosfat dikenal luas sebagai agen antimalaria. Aktivitas antivirus dari klorokuin ditemukan untuk virus Human Immunodeficiency (HIV) dan SARS-CoV. Penelitian klorokuin sebagai antiretorivus secara in vitro ditemukan bahwa klorokuin bekerja dengan menghambat glikosilasi dari partikel-partikel virus dan bersifat spesifik terhadap replikasi dari HIV.

Mekanisme Kerja Klorokuin Fosfat

Peningkatan pH endosomal dan penghambatan glikosilasi juga ditemukan sebagai mekanisme kerja klorokuin dalam menghambat replikasi dari SARS-CoV secara in vitro. Lebih dalam lagi, dengan adanya penghambatan glikosilasi, kemungkinan terjadi adanya interaksi spesifik antara klorokuin dengan glukosiltransferase.[3] ACE2 merupakan komponen dari permukaan SARS-CoV yang memediasi masuknya virus ke sel melalui ikatan dengan protein S (spike). Penghambatan ACE2 merupakan target kerja dari klorokuin.[4]

Asam sialat merupakan salah satu komponen virus yang terkait dengan glikoprotein dan gangliosida. Komponen ini digunakan untuk virus sebagai reseptor untuk masuk ke dalam sel. Virus yang menggunakan komponen ini antara lain virus corona, influenza, parainfluenza, mumps, rota, noro dan virus DNA-tumor.[5] Penghambatan dari biosintesis dari asam sialat merupakan salah satu target kerja klorokuin sebagai antivirus.[3] Secara in vivo, klorokuin juga memiliki dampak untuk memodulasi imun yang bersifat sinergis dengan aksi antivirusnya.[6]

Klorokuin pada penghambatan SARS-CoV pada kultur yang dibuktikan dengan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) ditemukan pada fase sebelum infeksi, setelah inisiasi dan infeksi, sehingga memiliki keuntungan klinis sebagai obat profilaktik dan terapeutik.[7] Sampai pada saat ini, masih berjalan uji klinis pemberian klorokuin untuk COVID-19 dari berbagai kota di Cina.[8] Nilai konsentrasi efektif 90% dari klorokuin untuk 2019-nCoV pada sel Vero E6 adalah 6.90 μM yang ditemukan pada pemberian klorokuin 500 mg pada penderita artritis rheumatoid.[6]

Antiviral Sebagai Terapi COVID-19

Antivirus yang pernah diteliti untuk penatalaksanaan virus Corona antara lain Ribavirin (RBV), Lopinavir (LPV)-Ritonavir (RTV), Remdesivir (RDV), Nelfinavir, Arbidol, dan gas nitrit oksida (NO). Antivirus seperti Arbidol, Nelfinavir dan RBV yang dikombinasi dengan interferon beta ditemukan dapat bekerja secara sinergis untuk menghambat replikasi virus SARS-CoV. Kombinasi LPV-RTV bersama dengan RBV ditemukan dapat memperbaiki hasil luaran dari SARS. Gas NO yang dapat menghambat sintesis protein virus dan RNA (Ribonucleic Acid) ditemukan juga dapat menghambat replikasi dari SARS-CoV.[4]

Remdesivir

Remdesivir, merupakan salah satu antivirus yang telah diberikan dan menghasilkan luaran yang baik yang dicoba pada 2019-nCoV. Remdesivir merupakan antivirus spektrum luas dan merupakan sebuah analog dari adenosin dapat mengintervensi rantai RNA dari virus Corona. Antivirus ini kemungkinan bekerja dengan membuat mutagenesis letal, terminasi rantai obligat atau nonobligat, dan menghambat biosintesis nukleotida. Hasil dari penghambatan replikasi RNA virus ini terjadi secara dose-dependent.[9] RDV ditemukan dapat membuat terminasi prematur dari transkripsi RNA pada MERS-CoV, virus Ebola, virus Nipah, dan RSV (Respiratory Syncytial Virus). Kombinasi RDV dengan interferon-beta ditemukan memiliki efek lebih superior dibandingkan kombinasi LPV dan RTV, dengan lebih banyak menekan aktivitas replikasi dari MERS-CoV.[10] Penelitian Warren menemukan bahwa pemberian remdesivir pada dosis 10 mg per kilogram berat badan ditemukan proteksi 100% terhadap virus Ebola yang merupakan virus RNA sama seperti virus Corona.[11]

Pada sebuah laporan kasus COVID-19 dari Amerika, RDV digunakan pada hari ke-11 dalam perjalanan penyakitnya dimana kondisi pasien saat itu memburuk. Dilaporkan terdapat perbaikan dari luaran klinis yang ditemukan setelahnya (hari ke-12 dan seterusnya). Tidak disebutkan dosis yang diberikan pada laporan kasus ini.[12]

Nilai konsentrasi efektif 90% pada Remdesivir terhadap 2019-nCoV di sel Vero E6 adalah 1.76 μM, sesuai dengan nilai yang ditemukan pada primata non manusia.[6] Uji klinis RDV untuk efektivitasnya terhadap COVID-19 saat ini sedang berlangsung di Amerika dan Cina. Pada uji klinis di Amerika, Remdesivir yang digunakan adalah 200 mg redemsivir intravena pada hari pertama dan dilanjutkan dengan dosis harian 100 mg hingga hari ke-10 (nomor uji klinis ClinicalTrial.gov : NCT04280705)[13]. Efektivitas yang berdasarkan kedokteran berbasis bukti masih perlu ditelusuri lebih lanjut.

Kesimpulan

Dua obat yang sedang diteliti untuk pengobatan COVID-19 adalah klorokuin fosfat dan Remdesivir. Klorokuin fosfat merupakan obat yang dikenal luas sebagai obat antimalaria dan telah ditemukan dapat menghambat replikasi dari SARS-CoV pada kultur sel. Mengingat COVID-19 merupakan emerging illness sampai saat ini belum ada uji klinis yang sudah selesai melaporkan efikasi dari klorokuin, namun dari beberapa studi sebelumnya klorokuin mungkin mampu memiliki efek profilaktik maupun  terapeutik. 

Redemsivir merupakan obat antivirus spektrum luas yang bekerja sebagai analog dari adenosin dapat mengintervensi rantai RNA dari virus Corona. Kedua obat ini masih dalam tahap uji klinis untuk menguji efektivitasnya terhadap penyakit COVID-19.

Referensi