Profilaksis Kejang Demam pada Anak

Oleh dr. Nathania S.

Pencegahan kejang demam pada anak dapat diberikan berupa terapi intermiten maupun rumatan. Antipiretik terbukti tidak bermanfaat untuk mencegah kejang demam.

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 C) karena penyebab ekstrakranium dan paling sering terjadi pada usia 6 bulan sampai 5 tahun. Kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu[1]:

  • Kejang demam sederhana:

    • Durasi < 15 menit, umumnya berhenti sendiri
    • Kejang umum (tonik dan/atau klonik)
    • Maksimal 1 bangkitan kejang dalam 24 jam

  • Kejang demam kompleks, salah satu dari ciri berikut:

    • Durasi > 15 menit, atau berulang lebih dari 2 kali dan ada fase tidak sadar di antara 2 bangkitan kejang
    • Kejang fokal atau parsial, atau kejang umum yang didahului kejang parsial
    • Bangkitan kejang lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

Kejang demam terjadi pada 2-5% anak. Penyakit ini seringkali menyebabkan kecemasan pada orang tua. Sebagian besar dari kejang demam tidak berbahaya tetapi pengobatan anti kejang memiliki efek samping yang cukup serius bila dikonsumsi dalam jangka waktu panjang. Oleh karena itu, penting untuk praktisi memberikan konseling, informasi dan edukasi kepada orang tua pasien tentang penyakit ini serta pencegahannya.

Pemberian Anti Piretik

Pemberian antipiretik ditemukan tidak efektif pada pencegahan kejang demam. Dalam sebuah penelitian meta analisis, 22.7% kelompok yang diberikan antipiretik dan 24.4% pada kelompok plasebo mengalami kejang demam berulang. Perbedaan ini ditemukan tidak berbeda bermakna secara statistik. Obat anti piretik diberikan untuk menurunkan demam pada pasien dengan dosis dan pemberian seperti pada pasien tanpa riwayat kejang demam. Selain itu, pemberian anti piretik juga ditujukan untuk menurunkan kecemasan dari orang tua[2]. Obat anti-piretik yang direkomendasikan oleh IDAI adalah[1]:

  • Paracetamol 10-15 mg/kgBB/kali, sampai 4 kali sehari
  • Ibuprofen 5-10 mg/kgBB/kali, 3 – 4 kali sehari

Pencegahan untuk bangkitan kejang pada kejang demam dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Terapi rumatan yang diberikan setiap hari
  • Terapi intermiten yang diberikan hanya pada waktu demam

Siapa yang Perlu Diberikan Terapi Rumatan?

Terjadinya kejang demam berulang dikaitkan dengan faktor risiko kejang demam. Semakin banyak faktor risikonya, semakin tinggi kemungkinan terjadi kejang demam berulang. Faktor risiko tersebut adalah[3]:

  • Riwayat keluarga dengan kejang demam (derajat pertama)
  • Durasi yang terjadi antara demam dan kejang kurang dari 1 jam
  • Usia < 18 bulan
  • Temperatur yang rendah yang membangkitkan bangkitan kejang

Bila terdapat 1 dari 4 faktor risiko ini, kemungkinan terjadi kejang demam berulang dalam 2 tahun adalah 20%, 2 dari 4 faktor risiko: 30%, 3 dari 4 faktor risiko: 60% dan bila terdapat semua faktor risiko: 70%[4].

Obat Rumatan: Asam Valproat dan Fenobarbital

Obat rumatan dipertimbangkan untuk diberikan kepada grup penderita kejang demam yang memiliki satu atau lebih hal berikut ini[1]:

  • Kejang demam kompleks, atau
  • timbulnya kelainan neurologis sebelum atau sesudah kejang (contoh: paresis Todd, hemiparesis, cerebral palsy, hidrosefalus dan retardasi mental), atau
  • kejang lebih dari 2x dalam 24 jam, atau kurang usia 12 bulan, atau lebih sama dengan 4x kejadian kejang demam dalam 1 tahun.

Obat rumatan yang disarankan oleh IDAI untuk kejang demam pada kriteria di atas dan diberikan hingga 1 tahun periode bebas kejang dengan penurunan dosis perlahan atau tappering off selama 1 – 2 bulan adalah[1,5]:

  • Asam Valproat

    • Dosis: 15-40 mg/kgBB/hari dalam 2-3 dosis
    • Risiko gangguan fungsi hati terutama pada usia di bawah 2 tahun, trombositopenia, gangguan pencernaan dan pankreatitis

  • Fenobarbital

    • Dosis: 3-4 mg/kgBB/hari dalam 1-2 dosis
    • Penggunaan setiap hari meningkatkan risiko terjadinya kesulitan belajar, gangguan perilaku, gangguan tidur dan reaksi hipersensitivitas.

Penggunaan fenobarbital dalam jangka waktu yang lama dipercaya membuat penurunan kualitas intelegensi (IQ)[6], namun dalam sebuah penelitian yang lebih baru, tidak ditemukan perbedaan IQ yang bermakna antara kelompok asam valproat dan fenobarbital pada terapi epilepsi pediatrik sebelum dan setelah masa pengobatan selesai[7].

Obat rumatan tidak direkomendasikan untuk diberikan pada anak dengan kejang demam sederhana karena risiko efek sampingnya lebih besar dari efek terapeutik. Pada kejang demam kompleks, asam valproat lebih menjadi pilihan dibandingkan dengan fenobarbital[8].

Terapi Intermiten: Clobazam Oral dan Diazepam Oral

Pada episode demam dengan riwayat kejang demam sebelumnya, dapat diberikan terapi intermiten yaitu pemberian anti kejang secara oral saat kejang, dengan dosis dan pilihan sebagai berikut[1,9]:

  • Diazepam 0.3 mg/kgBB/kali sebanyak 3x sehari selama 2 hari
  • Clobazam selama 2 hari dengan dosis berdasarkan berat badan:

    • < 5 kg: 5 mg, sekali sehari
    • 6-10 kg: 5 mg, dua kali sehari
    • 11-15 kg: 7.5 mg, dua kali sehari
    • > 15 kg: 10 mg, dua kali sehari

Diazepam dan clobazam merupakan obat anti-kejang golongan benzodiazepin. Efek samping dari pemberian benzodiazepin adalah terjadi efek sedasi, ataksia dan mengantuk. Clobazam memiliki efek samping dari benzodiazepin lebih ringan dibandingkan dengan diazepam[10].

Dalam sebuah meta-analisis, angka kejadian bangkitan kejang pada kelompok diazepam (terapi intermiten) lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok plasebo (p < 0.01)[11]. Obat pilihan kedua, clobazam, secara statistik dapat menurunkan angka bangkitan kejang saat demam bila dibandingkan dengan pemberian plasebo. Dalam penelitian yang melibatkan 110 sampel ini, angka kejadian kejang demam menurun hingga 7 kali lipat pada kelompok clobazam (p = 0.01)[12].

Pemberian clobazam dibandingkan dengan diazepam oral memberikan hasil yang tidak berbeda bermakna untuk kejadian bangkitan kejang pada kejang demam. Pada penelitian Khosroshahi et al, bangkitan kejang pada kelompok clobazam dibandingkan diazepam adalah 1.7% vs 3.1% (p = 0.474)[5]. Sedangkan pada penelitian Gulati S et al ditemukan kejadian kejang pada grup diazepam lebih tinggi dari grup clobazam (odd ratio: 2.3)[13].

Pemberian obat anti kejang intermiten pada riwayat kejang demam sederhana tetap tidak direkomendasikan karena efek sampingnya yang melebihi efek terapeutik. Meskipun demikian, pada beberapa kondisi khusus seperti: seringnya terjadi kejang demam, riwayat bangkitan kejang pada suhu tubuh yang rendah dan kecemasan orang tua bisa menjadi pertimbangan pemberian obat anti kejang intermiten[14].

Terapi Intermiten atau Terapi Rumatan

Sebuah penelitian Randomized Controlled Trial (RCT) di Iran menemukan bahwa pemberian diazepam intermiten tidak berbeda bermakna dengan pemberian fenobarbital sebagai terapi rumatan (kontinu) pada anak yang memiliki indikasi terapi rumatan dalam mencegah terjadinya bangkitan kejang (p = 0.296)[15]. Belum ada penelitian lain ditemukan yang membandingkan terapi intermiten dibandingkan rumatan. Bila terapi intermiten terbukti tidak berbeda bermakna dengan terapi rumatan, maka kemungkinan besar terapi intermiten lebih direkomendasikan karena dapat mengurangi risiko efek samping dari kedua pengobatan tersebut bila dibandingkan.

Kesimpulan

  • Perlu diingat bahwa obat-obatan preventif untuk kejang demam baik terapi rumatan maupun intermiten memiliki efek samping seperti mengantuk, ataksia, dan penurunan kecerdasan.
  • Asam valproat lebih direkomendasikan dibandingkan dengan fenobarbital sebagai terapi rumatan pada kelompok anak kejang demam kompleks yang berisiko tinggi menjadi epilepsi.
  • Dalam beberapa penelitian clobazam oral lebih unggul dibandingkan diazepam oral sebagai terapi intermiten saat demam.
  • Pemberian terapi rumatan dan intermiten disarankan untuk diberikan pada kelompok di luar kejang demam sederhana. Perlu penelitian lebih lanjut untuk menentukan efektivitas dari kedua kelompok terapi ini.
  • Oleh karena itu, perlu tetap diingat prinsip pemberian obat: keuntungan terapeutik melebihi risiko efek samping.

tetap-tenang-menangani-kejang-demam-pada-anak-alodokter

Referensi