Kafein sebagai Tambahan Analgesik untuk Nyeri Akut pada Pasien Dewasa – Telaah Jurnal

Oleh :
dr. Bob Irsan

Caffeine As an Analgesic Adjuvant for Acute Pain in Adults

Derry CJ, Derry S, Moore RA. et al. Cochrane Database Syst Rev. 2014 Dec 11;(12):CD009281. doi: 10.1002/14651858.CD009281.pub3.

Abstrak

Latar Belakang: Kafein adalah methylxanthine yang dikenal sebagai stimulan sistem saraf sentral. Kafein saat ini sudah ditambahkan dalam beberapa analgesik seperti paracetamol, ibuprofen, dan aspirin karena dapat meningkatkan efikasi dari analgesik. Bukti yang mendukung kafein bermanfaat sebagai tambahan analgesik masih sangat terbatas, dan seringkali berdasarkan pada perbandingan yang tidak valid.

Tujuan: Menilai efikasi relatif dari dosis tunggal analgesik yang ditambahkan kafein dibandingkan analgesik saja dengan dosis yang sama. Tidak ada pembatasan analgesik yang digunakan, maupun pembatasan kondisi nyeri yang diteliti. Penelitian juga menilai efek samping serius yang terjadi.

Metode: Studi metaanalisis atau sistemik review di CENTRAL, MEDLINE, dan EMBASE sejak awal (Januari 2012) sampai tanggal 28 Agustus 2014, melalui Oxford Pain Relief Database, pencarian internet, serta menghubungi perusahaan-perusahaan farmasi yang diketahui telah melakukan uji coba yang belum dipublikasikan. Kriteria seleksi studi ini adalah mengikutsertakan penelitian-penelitian uji klinis acak tersamar ganda yang membandingkan analgesik dosis tunggal yang ditambahkan kafein dengan analgesik saja dengan dosis yang sama pada terapi nyeri akut. Populasi pada studi ini adalah orang dewasa dengan nyeri akut, yang diberikan intervensi analgesik yang ditambahkan kafein dibandingkan dengan analgesik saja dengan dosis yang sama. Luaran yang dinilai dari studi ini adalah pengurangan rasa nyeri yang efektif dan efek samping serius yang ditimbulkan.

Dua penulis studi secara independen akan menilai kelayakan dan kualitas penelitian, dan mengekstraksi data. Ketidaksepakatan atau ketidakpastian diselesaikan dengan diskusi dengan penulis studi ketiga. Ukuran efikasi analgesik yang divalidasi adalah   peserta mengalami setidaknya 50% pengurangan rasa sakit selama 4-6 jam, peserta memberikan evaluasi hasil terapi sangat baik atau sempurna, atau peserta merasa hilang rasa nyeri kepala setelah 2 jam. Data yang dikumpulkan adalah perbandingan dengan perbedaan yang signifikan secara statistik, numbers needed to treat (NTT) sebagai manfaat pemberian kafein, serta informasi tentang efek samping serius.

Hasil: Jumlah jurnal yang dianalisis tidak bertambah sejak studi sebelumnya pada tahun 2012, yaitu meliputi 20 studi (7.238 peserta) yang memiliki perbandingan yang valid. Namun, karena luaran yang digunakan berbeda pada beberapa studi nyeri kepala, maka jumlah peserta dalam analisis efek kafein menjadi 4.262 dimana sebelumnya adalah 5.243. Semua penelitian secara umum memiliki kualitas metodologi yang baik, dan sebagian besar menggunakan standard scales of pain measurement, meskipun banyak dari mereka yang mengobati rasa sakit setelah operasi kecil.

Kebanyakan penelitian menggunakan paracetamol atau ibuprofen, ditambah 100 mg sampai 130 mg kafein, dan kondisi nyeri yang paling sering dipelajari adalah nyeri setelah operasi gigi, nyeri postpartum, dan nyeri kepala. Secara statistik, walaupun kecil, pemberian kafein dosis 100 mg atau lebih bersamaan dengan jenis analgesik apapun, signifikan memberi manfaat pada kondisi nyeri. Sekitar 5-10% lebih banyak peserta mencapai tingkat pengurangan nyeri yang baik dengan penambahan kafein (RR 1.2, CI 95%) , memberikan NNT sebesar 14 (high quality evidence). Sebagian besar perbandingan secara individual, menunjukkan keunggulan numerik dengan kafein, tetapi bukan keunggulan statistik. Terdapat satu efek samping serius yang dilaporkan akibat pemberian kafein, tetapi dianggap tidak berhubungan dengan studi obat.

Kesimpulan: Penambahan kafein (>100 mg) pada pemberian analgesik dosis standar memberikan peningkatan kecil tetapi penting dalam pengurangan rasa nyeri.

shutterstock_1648952509-min

Ulasan Alomedika

Kafein termasuk dalam golongan methylxanthine yang berfungsi sebagai stimulan pada sistem saraf sentral. Kafein dapat memberikan berbagai efek fisiologis pada tubuh manusia, seperti meningkatkan kewaspadaan, daya tahan tubuh, detak jantung, tekanan darah, mood, psikostimulan, serta dapat mencegah kelelahan dalam waktu singkat. Kafein termasuk senyawa alami yang dapat kita temukan pada biji-bijian, daun, atau buah dari banyak tanaman, seperti teh, kopi, dan coklat. Kafein juga bisa didapat dari minuman bersoda atau minuman berenergi.

Kadar kafein dalam kopi 100-150 mg /gelas, teh 75 mg/gelas, coklat 50 mg/batang, soda >40 mg setiap minum, sedangkan minuman berenergi sekitar 85 mg setiap minum. Beberapa minuman berenergi memiliki kandungan kafein setara dengan 5-6 gelas kopi. Setiap hari, kebiasaan mengonsumsi kafein pada individu berbeda-beda. Konsumsi kafein dapat dikategorikan menjadi tiga golongan, yaitu rendah <100 mg/hari, sedang 100-400 mg/hari dan tinggi >400 mg/hari. Kebanyakan individu mengonsumsi kafein dalam kategori sedang. Konsumsi kafein kurang dari 500 mg setiap hari tidak menimbulkan efek yang serius bagi kesehatan.

Peran Kafein sebagai Tambahan Analgesik

Kafein dapat berperan mandiri atau sebagai tambahan pada obat analgesik dasar untuk membantu meredakan rasa nyeri, seperti sakit kepala, nyeri setelah melahirkan, nyeri setelah operasi. Pemberian kafein akan meningkatkan kerja obat analgesik karena berperan sebagai antagonis kompetitif reseptor adenosin,  sehingga reseptor adenosin akan diregulasi untuk memberikan efek vasokonstriksi. Kafein juga dapat menghambat sintesis leukotrien dan prostaglandin yang terlibat dalam patofisiologi nyeri.

Dalam sistematik review ini terdapat tiga penelitian dengan kelompok subjek besar, yaitu:

  • Paracetamol 1000 mg+kafein 130 mg dibandingkan dengan paracetamol 1000 mg tunggal (Laska 1983; 159 peserta)
  • Asam tolfenamik 200 mg+kafein 100 mg dibandingkan dengan tolfenamik 100 mg tunggal (Tokola 1984;164 peserta)
  • Paracetamol 1000 mg+kafein 130 mg dibandingkan dengan paracetamol 1000 mg tunggal (Winter 1983; 81 peserta)

Kelebihan dari penelitian ini adalah memiliki kualitas metodologi yang baik yaitu metaanalisis, dengan jumlah studi yang besar, desain penelitian yang standar, serta menggunakan skala penilaian nyeri yang sudah umum dipakai. Untuk menilai risiko bias, studi ini menggunakan beberapa perangkat seperti Oxford Quality Score dan Cochrane Handbook for Systematic Reviews of Interventions. Penelitian ini mendukung beberapa penelitian kecil sebelumnya, yang bermakna mengenai penambahan kafein pada paracetamol dan ibuprofen. Adapun kekurangan studi ini adalah menggunakan studi-studi yang sudah terlalu lama.

Dosis Kafein sebagai Tambahan Analgesik

Dosis kafein yang setara dengan cangkir kopi (>100 mg) ditambahkan ke dosis standar analgesik akan memberikan efek pereda nyeri yang lebih baik. Analgesik yang ditambahkan kafein juga meningkatkan jumlah subjek yang mengalami penurunan rasa nyeri sebesar 5-10% (bukti kualitas tinggi). Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan terkait pemberian analgesik dan kafein dalam penelitian ini (bukti kualitas rendah), hal ini karena efek samping tidak akan timbul jika penambahan kafein tidak melampaui dosis yang disarankan.

Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kafein dapat digunakan sebagai tambahan analgesik pada kasus nyeri akut, terutama dengan dosis kafein berkisar 100 mg atau lebih. Namun, masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk mengeksplorasi  mengenai respon dosis analgesik dan dampaknya terhadap penambahan kafein.

 

Referensi