Efek Akut Mengonsumsi Daging Kambing Terhadap Tekanan Darah dan Profil Lipid dalam Darah pada Subjek dengan Hipertensi Ringan: Preliminary Study – Telaah Jurnal

Oleh :
dr.Kurnia Agustina Sitompul, M.Gizi, Sp.GK

Marni S., Mustafa A.M., Zamri C., et al. Preliminary Study On The Acute Effect Of Consuming Goat Meat On Blood Pressure And Blood Lipid Profile In Men And Women With Mild Hypertension.Malaysian. 2016. Journal of Veterinary Research, 7(2): 67-73

Abstrak

Tujuan:

Penelitian bertujuan untuk mengklarifikasi opini di tengah masyarakat yang menyatakan bahwa mengonsumsi daging kambing berkontribusi pada tingginya tekanan darah dan kadar kolesterol dalam darah, sehingga dapat memicu terjadinya penyakit kardiovaskuler.

Metode:

Penelitian adalah penelitian pendahuluan (preliminary) yang mengikutsertakan 10 subjek, terdiri dari 5 perempuan dan 5 laki-laki. Subjek diberikan sejumlah sup daging kambing, dua iris roti, dan satu gelas minuman barley rendah gula. Uji dua sampel berpasangan dilakukan untuk membandingkan perbedaan tekanan darah serta kadar kolesterol dalam darah sebelum dan sesudah mengonsumsi makanan tersebut.

Hasil dan Kesimpulan:

Hasil penelitian menyatakan bahwa mengonsumsi daging kambing tidak meningkatkan tekanan darah maupun kadar kolesterol dalam darah.

daging-kambing-bukan-biang-kerok-kolesterol-tinggi-alodokter

Ulasan Alomedika

Penelitian ini dinyatakan sebagai suatu penelitian pendahuluan (preliminary study), bertujuan melihat efek segera pemberian daging kambing terhadap tekanan darah dan profil lipid dalam darah subjek yang telah didiagnosis hipertensi ringan. Penelitian dilakukan karena masih banyak pandangan bahwa mengonsumsi daging kambing tidak baik untuk masyarakat luas karena dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar kolesterol dalam darah. Sehingga dapat mencetuskan penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi, dislipidemia, bahkan stroke.

Ulasan Subjek Penelitian

Pada artikel tidak dilampirkan mengenai cara penentuan jumlah subjek. Peneliti menggunakan satu kelompok tunggal, terdiri dari sepuluh subjek yang diberi intervensi. Kemudian dilakukan pemeriksaan variabel tekanan darah dan profil lipid dalam darah. Dengan demikian, penelitian ini tidak menggunakan kontrol. Subjek penelitian yang dipilih merupakan penderita hipertensi ringan yang didiagnosis dengan kriteria Joint National Committee (JNC).

Kriteria eksklusi yang dicantumkan cukup banyak, yaitu riwayat alergi daging kambing, ketergantungan obat dan alkohol, merokok >10 batang per hari, atau tidak dapat berhenti merokok selama penelitian. Subjek juga tidak memiliki riwayat  komorbid seperti hipertensi sekunder, diabetes melitus, asma, maupun gangguan pada sistem hematopoiesis, gastrointestinal, renal, hepar, kardiovaskuler, respirasi, saraf pusat, psikosis atau organ lainnya. Hasil skrining hepatitis, HIV, dan sifilis yang positif juga menjadi kriteria eksklusi. Subjek yang dipilih adalah penderita hipertensi ringan, menggunakan tidak lebih dari 2 obat antihipertensi, tidak diet rendah sodium selama 4 minggu sebelum penelitian, dan tidak memiliki riwayat kesulitan donor darah atau kesulitan akses vaskular.

Semua kriteria tersebut dilakukan untuk menghindari subjek dengan hipertensi sekunder. Pada kriteria inklusi tidak terdapat pembatasan indeks massa tubuh (IMT), tetapi seluruh subjek masuk dalam kategori status nutrisi obesitas.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu penelitian pendahuluan. Tidak disebutkan metode penelitian yang digunakan, tetapi berdasarkan subjek dan cara memperoleh luaran utama dapat diperkirakan bahwa metode yang dipakai berupa one group pretest-posttest design. Dimana telah dilakukan pengukuran variabel tekanan darah dan kadar kolesterol darah pada satu kelompok subjek sebelum dan sesudah intervensi dengan mengonsumsi sup daging kambing (Pretest-Posttest). Metode penelitian yang demikian memungkinkan berbagai variabel luar berpengaruh terhadap luaran utama yang dinilai, sehingga dapat menjadi sumber bias.

Intervensi berupa pemberian sup daging kambing (yang mengandung 130 gr kambing muda), dua iris roti, dan satu gelas barley rendah gula. Pengolahan sup daging kambing dilakukan oleh pihak yang telah ditunjuk, tetapi tidak dicantumkan komposisi bahan makanan lain yang digunakan. Waktu makan dibatasi hanya 20 menit tanpa menyertakan alasan yang tepat.

Sebelum intervensi, seluruh subjek diinstruksikan untuk tidak mengonsumsi kafein dan/atau produk xantin, seperti kopi, teh, coklat, dan kafein yang mengandung soda, serta tembakau atau produk yang mengandung tembakau, setidaknya 24 jam sebelum intervensi dan selama proses pengambilan sampel darah. Subjek juga diminta tidak mengonsumsi recreational drug dan alkohol serta produknya, selama 48 jam sebelum intervensi hingga periode pengambilan sampel darah.

Tekanan darah awal diperiksa sesaat sebelum subjek mendapatkan intervensi, tetapi tidak disebutkan kapan tepatnya waktu pengukuran awal tersebut. Tekanan darah setelah mengonsumsi daging kambing dilakukan setelah subjek beristirahat setidaknya 10 menit. Pengukuran dilakukan setelah 15 menit, 30 menit, 45 menit, 1 jam, 1,5 jam, 2 jam, 2,5 jam, 3 jam, 3,5 jam dan 4 jam setelah intervensi.

Pemeriksaan profil lipid dalam darah meliputi kadar trigliserida, kolesterol total, low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C), dan high-density lipoprotein cholesterol (HDL-C). Sampel darah awal dikumpulkan setelah subjek berpuasa 12 jam sebelum intervensi dimulai, sedangkan sampel kedua diambil 4 jam setelah intervensi (tanpa puasa 12 jam). Hal ini dapat memberikan bias hasil pemeriksaan.

Ulasan Hasil penelitian

Berdasarkan karakteristik demografi, ditemukan subjek berusia 34–55 tahun dengan rentang IMT laki-laki adalah 25,2–31,6 kg/m2 dan perempuan 26,9–33,3 kg/m2. Pengukuran tekanan darah awal menunjukkan bahwa seluruh subjek memiliki tekanan darah tinggi dengan rentang sistolik 140–160 mmHg.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada tekanan darah sistolik 4 jam setelah intervensi, yaitu lebih tinggi daripada sebelum intervensi (153 mmHg vs 147 mmHg; p<0,05). Namun, perbedaan tekanan sistolik tidak berbeda bermakna pada 1 jam, 2 jam, dan 3 jam setelah intervensi. Perubahan tekanan diastolik juga dinyatakan berbeda bermakna (p<0,05) pada 1 jam dan 3 jam setelah intervensi, tetapi tidak bermakna pada pemeriksaan 2 jam dan 4 jam setelah intervensi. Sehingga peneliti menulis tidak dapat menyimpulkan hasil tersebut.

Sedangkan hasil pemeriksaan profil lipid darah menunjukkan peningkatan setelah intervensi, tetapi tidak berbeda bermakna secara statistik (p>0,05).

Pada pembahasan, dikutip hasil penelitian Sunagawa et al. sebagai pembanding. Penelitian Sunagawa et al. dilakukan pada tahun 2014, dengan menggunakan tikus sebagai hewan uji coba. Penelitian ini menyatakan bahwa mengonsumsi daging kambing tidak berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, melainkan kadar garam dalam olahan daging kambing yang secara bermakna berpengaruh terhadap tekanan darah. Sedangkan pada preliminary study ini tidak melampirkan jumlah garam yang dipakai untuk mengolah sup daging yang diberikan kepada subjek.

Kelebihan Penelitian

Terdapat persamaan persepsi yang menjadi alasan dilakukannya penelitian ini. Anggapan bahwa daging kambing memiliki efek buruk terhadap tekanan darah dan profil lipid dalam darah juga dianut oleh masyarakat di Indonesia. Pada artikel dipaparkan pula komposisi lemak yang terdapat dalam daging kambing, yaitu mengandung delapan asam lemak jenuh, tujuh asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acids / MUFA), dan tiga jenis asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids / PUFA). Data ini dapat digunakan untuk membandingkan daging kambing dengan jenis daging merah lainnya.

Kandungan lemak menjadi salah satu alasan untuk pembatasan konsumsi daging merah, tetapi hal ini dilakukan tanpa memperhatikan jenis asam lemak yang terkandung di dalam daging. Konsumsi asam lemak jenuh dianjurkan untuk dibatasi karena dianggap sebagai lemak jahat, sebaliknya konsumsi MUFA dan PUFA perlu diperhatikan karena dianggap sebagai lemak baik.

Limitasi Penelitian

Penelitian ini merupakan pra-eksperimental, sehingga membutuhkan penelitian lebih lanjut dengan jumlah subjek lebih banyak. Karena itu, hasil penelitian ini belum dapat dinyatakan bermakna dan bermanfaat. Pada pembahasan secara tersirat peneliti menyadari bahwa patogenesis hipertensi dan dislipidemia adalah proses yang panjang. Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan penelitian ini yang sifatnya jangka pendek untuk melihat efek segera konsumsi daging kambing. Peneliti juga mengakui adanya pengaruh perbedaan hasil pemeriksaan tekanan darah yang lebih tinggi pada pagi hari apabila dibandingkan dengan sore atau malam hari, sedangkan efek intervensi justru dievaluasi setelah pemberian sarapan.

Ketiadaan batasan indeks massa tubuh pada kriteria inklusi mengakibatkan perolehan seluruh subjek masuk dalam status nutrisi obesitas. Obesitas telah lama dinyatakan menjadi salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi, sehingga hal ini merupakan salah satu yang mempengaruhi hasil penelitian. Selain itu, konsumsi obat antihipertensi masih diperbolehkan, tetapi tidak dicantumkan berapa subjek yang masih mengonsumsi obat tersebut dalam 24 jam sebelum pemeriksaan.

Keterbatasan lainnya adalah pengaruh asupan selain daging kambing yang dapat mempengaruhi hasil, sebaiknya diikuti dengan pengisian kuesioner asupan makanan selama 24 jam (24 hour food record). Demikian pula kandungan garam yang terdapat dalam makanan yang diberikan, karena walaupun masih kontroversial mengonsumsi garam telah dikaitkan dengan perubahan tekanan darah. Pada kriteria eksklusi memang telah diminta subjek bukanlah orang yang sedang diet rendah garam, tetapi data tidak menyertakan hasil analisis asupan garam sebelumnya.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Hasil penelitian ini tidak dapat diaplikasikan di Indonesia karena memiliki cukup banyak keterbatasan, di antaranya adalah:

  • Penelitian ini merupakan pra-eksperimental, sehingga subjek masih sedikit
  • Patogenesis hipertensi dan dislipidemia adalah proses yang panjang, termasuk pola makan merupakan faktor risiko jangka panjang, sedangkan penelitian ini bersifat jangka pendek untuk melihat efek akut mengonsumsi daging kambing
  • Tidak terdapat keterangan kandungan garam yang terdapat dalam makanan yang diberikan

Banyak hal yang dapat mempengaruhi perubahan tekanan darah dan profil lipid dalam darah seseorang untuk jangka waktu panjang, seperti pola diet yang dijalani, aktivitas fisik, pola tidur, hingga status psikologis. Karena itu, mengukur tekanan darah dan profil lipid dalam darah segera setelah mengonsumsi makanan tertentu tidak memberikan kesimpulan tentang efek pada faktor risiko yang perlu dipantau selama bertahun-tahun. Metodologi menggunakan buku harian makanan selama beberapa tahun diharapkan dapat memberi kesimpulan yang lebih baik.

Namun, konsep pemikiran mengenai efek pemberian daging kambing terhadap tekanan darah dan profil lipid dalam darah memang perlu dikaji kembali. Terdapat beberapa jenis daging merah, sehingga perlu dilakukan perbandingan kandungan nutrisi pada beberapa jenis daging merah, terutama asam lemak. Untuk melihat apakah daging kambing justru lebih baik atau lebih buruk apabila dibandingkan dengan jenis daging merah lainnya.

 

Referensi