Inisiasi Tatalaksana Depresi di Layanan Primer

Oleh dr. Alexandra Francesca

Idealnya, inisiasi tatalaksana depresi dilakukan oleh dokter umum di layanan primer, namun hal ini masih dihalangi berbagai kendala.

Pasien yang datang ke layanan kesehatan primer dapat memiliki gangguan kesehatan mental, selain gangguan kesehatan secara fisik. Berbagai publikasi mencatat bahwa 5-13% pasien yang berobat di pelayanan primer menderita depresi. [1-4] Sayangnya, depresi ini kurang digali di layanan primer sehingga tercatat 4 dari 5 pasien depresi tidak mendapat tatalaksana yang adekuat.[4]

Depresi merupakan salah satu dari masalah kesehatan psikiatri yang sering ditemukan, yang berperan besar dalam menyebabkan disabilitas dan penurunan produktivitas penderitanya.[5] Meski berbagai terapi telah terbukti efektif mengatasi depresi, publikasi di luar negeri mencatat bahwa hanya 25% dari kasus depresi ditangani secara efektif. [4, 5] Angka cakupan depresi di layanan primer ini bisa jadi jauh lebih rendah di Indonesia, namun data pasti mengenai hal ini belum ada.

Sayangnya, setting layanan primer sebenarnya merupakan layanan kesehatan utama yang cenderung dipilih oleh penderita depresi, baik karena faktor lokasi, kemudahan, kenyamanan, ataupun karena sudah familiar terhadap tenaga kesehatannya.[5] Proses penanganan depresi sendiri pada dasarnya merupakan suatu proses 3 tahap: intention (niat), kemudian initiation (inisiasi), dan akhirnya retention (retensi). Studi menemukan bahwa inisiasi berhubungan bermakna dengan ketuntasan berobat. Sebanyak 40-60% pasien depresi yang sampai pada tahap inisiasi akan menerima tatalaksana yang cukup atau bahkan tuntas.[6, 7] Oleh karena itu, inisiasi tatalaksana depresi di layanan primer sangatlah penting.

depression

Penghalang Penanganan Depresi pada Setting Pelayanan Primer

Beberapa faktor penghalang penanganan depresi pada pelayanan primer antara lain :

  • Stigma di masyarakat menyebabkan enggannya pasien depresi untuk berobat, bahkan tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah gangguan mental
  • Kurang keyakinan dari tenaga kesehatan itu sendiri untuk mulai melakukan penatalaksanaan depresi di layanan primer sehingga memilih untuk segera merujuk
  • Menumpuknya pasien di layanan kesehatan primer juga membuat pasien depresi lebih enggan menunggu karena harus menunggu antri dalam waktu lama [4]

Beberapa studi telah berusaha menemukan penanganan terbaik untuk depresi dengan target penghalang di atas. Ditemukan bahwa penanganan kolaboratif merupakan metode terbaik dalam penanganan depresi pada setting pelayanan primer.[4]

Penanganan Kolaboratif Depresi di Layanan Primer

Penanganan kolaboratif merupakan metode yang mengintegrasikan pelayanan farmakologis dan perilaku yang diimplementasikan melalui tiga proses:

  • Koordinasi penanganan dan manajemen antara dokter umum, perawat / staf terlatih, dan psikiater. Hal ini paling baik dilakukan bila di layanan primer terdapat fasilitas layanan kesehatan mental.
  • Monitoring pasien secara teratur dan proaktif menggunakan skala klinis yang tervalidasi
  • Penilaian kondisi psikiatri pasien secara berkala dan konsultasi ke spesialis bagi pasien yang tidak membaik secara psikologis [5]

Dalam model penanganan kolaboratif, tenaga kesehatan layanan primer berperan vital untuk penatalaksanaan depresi. Penatalaksanaan depresi di layanan primer seharusnya mencakup:

  • Identifikasi pasien depresi
  • Inisiasi penatalaksanaan depresi (termasuk pemberian pengobatan)
  • Penilaian klinis dengan skala tervalidasi [5]

Inisiasi Penatalaksanaan Depresi di Layanan Primer

Inisiasi penatalaksanaan depresi di layanan primer dapat dibagi 3 menurut derajat beratnya depresi berdasarkan PPDGJ III, seperti digambarkan di Tabel 1. [8]

Tabel 1. Inisiasi Penatalaksanaan Depresi di Layanan Primer Berdasarkat Derajat Depresi

Depresi Ringan Depresi Sedang Depresi Berat

Farmakoterapi

 

dan/atau

 

Non-farmakoterapi:

·         Mendengarkan aktif dan empatis

·         Dukungan komunitas/perkumpulan

·         Terapi latihan

Farmakoterapi

 

dan/atau

 

Non-farmakoterapi:

·         Psikoterapi (misalnya cognitive behavioral therapy / CBT)

·         Terapi latihan

 

Pertimbangkan rujuk bila tidak respons terhadap terapi atau memerlukan psikoterapi suportif yang hanya ada layanan kesehatan lanjutan

Rujuk ke psikiater

 

Hospitalisasi segera bila sudah ada upaya bunuh diri yang nyata

Inisiasi penatalaksanaan depresi secara medikamentosa di layanan primer dapat menggunakan antidepresan selama 2-4 minggu, kemudian dievaluasi kembali apakah ada kemajuan atau tidak. Antidepresan yang dapat digunakan di layanan primer misalnya:

Lini Pertama: Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI)

Golongan ini paling umum diberikan karena relatif aman dan tolerable. Contoh golongan ini adalah sertraline, fluoxetine, paroxetine, fluvoxamine. Sertraline dan fluoxetine merupakan SSRI yang cukup sering dipakai di Indonesia. Sertraline lebih baik digunakan pada pasien yang mengonsumsi beberapa obat karena efek interaksi obatnya lebih sedikit dibandingkan dengan fluoxetine.

  • Dosis rawat jalan: fluoxetine 20 mg/hari, sertraline 25 mg/hari [9]

Lini Kedua: Tricyclic Antidepressants (TCA)

Golongan obat ini lebih jarang tersedia di layanan primer. Contoh yang sering digunakan adalah amitriptilin.

  • Dosis rawat jalan: Amitriptilin 75 mg/hari [9]

Indikasi Merujuk ke Fasilitas Kesehatan Lanjutan

Berikut adalah kondisi kapan pasien depresi perlu dirujuk ke spesialis:

  • Kesulitan diagnosis
  • Tidak ada perbaikan setelah 1-2 percobaan tatalaksana medikamentosa adekuat selama 2-4 minggu
  • Adanya komorbid medis lainnya yang berpotensi menimbulkan interaksi obat
  • Adanya penyalahgunaan zat
  • Gejala psikotik
  • Risiko bunuh diri [8]

Kesimpulan

Idealnya, inisiasi tatalaksana depresi dilakukan oleh dokter umum di layanan primer, namun hal ini masih dihalangi berbagai kendala. Padahal studi yang ada menemukan bahwa inisiasi berhubungan bermakna dengan ketuntasan berobat. Sebanyak 40-60% pasien depresi yang sampai pada tahap inisiasi akan menerima tatalaksana yang cukup atau bahkan tuntas.

Penanganan kolaboratif dapat menjadi pilihan untuk mengatasi masalah-masalah inisiasi tatalaksana depresi di layanan primer. Dokter umum juga harus memberikan tatalaksana sesuai dengan derajat berat-ringannya depresi. Pilihan medikamentosa lini pertama adalah selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI). Indikasi merujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan di antaranya adalah kesulitan menegakkan diagnosis, tidak ada perbaikan setelah tatalaksana farmakologis, adanya komorbid, adanya penyalahgunaan zat, gejala psikotik, dan risiko bunuh diri.

Referensi