Chronic Fatigue Syndrome: Gejala atau Penyakit

Oleh dr. Audric Albertus

Pengertian chronic fatigue syndrome (CFS) sampai sekarang masih dipertanyakan oleh banyak klinisi. Tidak adanya alat diagnosis dan terapi spesifik membuat klinisi mempertanyakan apakah chronic fatigue syndrome merupakan penyakit nyata atau hanya kumpulan gejala.

Chronic fatigue syndrome merupakan suatu keadaan kompleks yang mempengaruhi sekitar 2,5 juta orang dewasa di Amerika. Akan tetapi, sampai sekarang penyebab dan mekanisme dasar dari CFS masih belum diketahui secara pasti. Diagnosis CFS juga masih berdasarkan gejala dan belum ada pemeriksaan penunjang yang dapat menegakkan diagnosis secara pasti. Selain itu, sampai sekarang juga belum terdapat terapi spesifik untuk CFS yang menyebabkan kurangnya kepuasan pasien terhadap terapi. [1-2]

Etiologi dan Patofisiologi Chronic Fatigue Syndrome

Mekanisme terjadinya chronic fatigue syndrome (CFS) masih belum diketahui sepenuhnya. Akibat dari ketidakjelasan mengenai etiologi CFS, banyak klinisi menduga penyakit ini adalah komplikasi dari suatu gangguan psikologis. Akan tetapi, studi-studi terbaru melaporkan adanya temuan gangguan spesifik pada pasien CFS. [3,4]

Pada pasien CFS sering kali ditemukan adanya disfungsi kognitif, dimana terjadi gangguan memori, atensi, perlambatan dalam memproses informasi, dan gangguan fungsi psikomotor. Gangguan kognitif ini dihubungkan dengan adanya masalah pada bagian white matter pada otak. Hasil elektroensefalogram (EEG) pada pasien CFS juga mendukung penemuan ini, dengan ditemukannya adanya peak pada frekuensi alfa, yang diketahui berhubungan dengan keadaan kognitif dan memori pasien. Selain itu, pada pemeriksaan positron emission tomography (PET) scan ditemukan bahwa terdapat neuroinflamasi pada bagian otak pasien CFS dan telah dihubungkan dengan adanya gangguan sinyal neurotransmitter yang menyebabkan gangguan memori pada pasien. Komite Institute of Medicine (IOM) Amerika Serikat menemukan bahwa terdapat gangguan hormon kortisol dan adrenokortikotropik yang diduga disebabkan oleh adanya gangguan pada otak. [5-8]

Gangguan imunologis juga ditemukan pada beberapa studi. Penurunan fungsi sel natural killer ditemukan pada pasien CFS yang signifikan berhubungan dengan rendahnya fungsi kognitif. Ketidakseimbangan regulasi fungsi imun juga ditemukan pada pasien CFS, dimana ditemukan peningkatan sitokin berlebih yang menunjukkan adanya aktivasi imun. Studi lain melaporkan peningkatan sitokin pada pasien CSF berhubungan dengan durasi penyakit dan tidak ditemukan berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit. [9-10] Akan tetapi, IOM berpendapat bahwa abnormalitas imun ini tidak spesifik hanya ditemukan pada penyakit CFS. Rendahnya fungsi sel NK juga ditemukan pada berbagai keadaan lain, seperti kanker, sklerosis multipel, dan gangguan tidur. [8,11]

Etiologi lainnya yang dilaporkan adalah adanya infeksi viral, bakterial, atau parasit pada pasien CFS. Beberapa patogen, seperti virus Epstein Barr (EBV), virus Ross River, Giardia lambia, dan parvovirus B19 sudah ditemukan pada pasien CFS. Pada sebuah studi kohort, ditemukan sekitar 11% pasien yang mengalami infeksi EBV, Coxiella burnetii, dan virus Ross River memenuhi kriteria diagnosis dari CFS. [12-13]

fatigue

Kriteria Diagnosis Chronic Fatigue Syndrome

Selama ini, diagnosis chronic fatigue syndrome (CFS) ditentukan berdasarkan kriteria diagnosis yang menggunakan kumpulan gejala-gejala. Kriteria diagnosis yang paling sering digunakan adalah kriteria dari Institute of Medicine (IOM). Kriteria diagnosis ini diciptakan dengan tujuan memberikan kemudahan para peneliti untuk melakukan studi mengenai kondisi ini lebih lanjut. Oleh karena itu, adanya kriteria diagnosis ini tidak bertujuan untuk menunjukkan bahwa CFS adalah sebuah penyakit, melainkan hanya untuk penelitian semata.

Dengan bantuan kriteria diagnosis ini, studi-studi sudah selangkah lebih maju untuk menemukan etiologi dari keadaan ini. Akan tetapi, sampai sekarang belum terdapat studi yang menemukan pemeriksaan diagnostik pasti untuk diagnosis CFS. Walaupun beberapa studi sudah menemukan adanya gangguan biologis pada pasien CFS yang membedakannya dengan gangguan psikologis, namun parameter diagnostik yang sensitif dan spesifik untuk CFS belum ditemukan.

Diagnosis chronic fatigue syndrome dapat ditegakkan apabila ditemukan 3 gejala wajib ditambah dengan 1 atau 2 gejala klinis tambahan.

Tiga gejala yang harus terpenuhi adalah:

  • Penurunan atau gangguan yang substansial untuk menjalankan aktivitas yang mudah dilakukan sebelum onset sakit (dalam pekerjaan, pendidikan, kehidupan sosial, dan kehidupan pribadi) yang :

    • Terjadi selama 6 bulan
    • Disertai dengan kelelahan yang seringkali berat, new onset, tidak disebabkan oleh aktivitas yang berat, dan tidak membaik dengan istirahat

  • Post-exertional malaise (PEM) : gejala memburuk setelah aktivitas fisik, mental, atau emosional yang berat, yang sebelumnya tidak menyebabkan gangguan.

  • Tidur yang tidak berkualitas : kelelahan tidak membaik atau berkurang dengan tidur yang cukup walaupun tidak terdapat gangguan tidur apapun.

Gejala di atas ditambah dengan 1 atau 2 gejala klinis berikut :

  • Gangguan kognitif : pasien memiliki masalah dalam proses berpikir, memori, fungsi eksekutif, dan pengolahan informasi, serta defisit pemusatan perhatian dan gangguan fungsi motorik. Gejala dapat dipicu oleh aktifitas, postur tegap dalam waktu lama, stres, dan dapat mempengaruhi kemampuan pasien dalam bekerja atau sekolah.
  • Intoleransi ortostatik : gejala pasien memburuk saat diminta mempertahankan posisi tubuh tegap. Hal ini diukur secara objektif dengan peningkatan denyut nadi dan abnormalitas tekanan darah. Gejala ortostatik dapat meliputi rasa melayang, pingsan, nyeri kepala, ataupun mual. Gejala dapat membaik dengan berbaring.

Chronic Fatigue Syndrome, Gejala Atau Penyakit?

Sampai sekarang, banyak klinisi yang masih memperdebatkan mengenai chronic fatigue syndrome (CFS) sebagai penyakit. Banyak klinisi yang berpendapat bahwa sebenarnya CFS hanya kondisi yang lebih berat dari gejala fatigue kronis. Kriteria diagnosis CFS juga hanya menggunakan keluhan-keluhan tanpa adanya pemeriksaan diagnostik pasti. [5-10]

Beberapa studi sudah berhasil mengidentifikasi adanya etiologi dan patofisiologi yang diduga berhubungan dengan CFS. Penemuan ini menunjukkan bahwa terdapat kelainan biologis pada CFS yang membedakan keadaan ini dengan penyakit lainnya, dan memungkinkan CFS dapat dianggap sebagai penyakit kedepannya. Komite IOM juga berpendapat sama dan mengusulkan terminologi baru CFS, yaitu “penyakit intoleransi eksersi sistemik”. [8,18]

Masih banyak sekali aspek yang perlu diteliti untuk mengakhiri kontroversi mengenai CFS. Studi mengenai etiologi utama dan patofisiologi CFS masih perlu lebih dikembangkan. Pengetahuan mengenai mekanisme CFS dapat membuka peluang untuk ditemukannya biomarker CFS dan tatalaksana yang bersifat kuratif. Selain itu, studi mengenai pemeriksaan klinis, laboratorium, dan psikologis pasien CFS juga dibutuhkan untuk menentukan subfenotipe dari sindroma ini. [4,8]

Kesimpulan

Chronic fatigue syndrome (CFS) sampai sekarang masih banyak diperdebatkan oleh klinisi. Sebagian menganggap CFS sebagai suatu penyakit, sebagian lainnya tidak. Perdebatan ini disebabkan oleh kurangnya pemeriksaan penunjang yang dapat mendiagnosis CFS dengan pasti dan belum ditemukan adanya terapi spesifik yang sifatnya kuratif.

Berbagai penelitian terbaru mulai menemukan etiologi dan patofisiologi yang membedakan CFS dari penyakit lainnya, sehingga kedepannya mungkin CFS dapat dianggap sebagai diagnosis tersendiri. Namun, masih banyak aspek lain yang membutuhkan penelitian lebih lanjut sebelum kontroversi terkait CFS dapat berhenti. Misalnya, subfenotipe CFS, biomarker, serta mekanisme dan etiologi yang lebih pasti.

Referensi