Aspek Keamanan dan Efektivitas St. John's Wort sebagai Terapi Depresi

Oleh :
dr. Soeklola SpKJ MSi

Profil keamanan, efek samping, penggunaan yang panjang, dan biaya yang tinggi dari obat-obat antidepresan, menjadi salah satu faktor yang mencetuskan penggunaan bahan alam atau terapi alternatif seperti St. John's Wort dalam menangani kasus depresi. [1,2] Simplisia ataupun ekstrak dari St. John’s wort (SJW) merupakan salah satu bahan alam yang telah digunakan lebih dari 100 tahun untuk mengatasi depresi. [2-4] Beberapa penelitian juga telah dilakukan untuk mengamati efektivitas serta keamanan dari SJW, baik sebagai monoterapi maupun terapi ajuvan (kombinasi dengan farmakoterapi dan psikoterapi) pada kasus depresi mayor. [1-4]

Mekanisme Kerja St. John’s Wort sebagai Terapi Depresi

Hipericin, hiperforin dan glikosida flavanol (seperti quercetin dan kaempferol) merupakan kandungan utama SJW yang berperan sebagai inhibitor reuptake dari neurotransmiter khususnya serotonin, dopamin, noradrenalin, glutamate, dan asam gamma-aminobutirat (GABA). [1,2,5,6] Selain itu SJW juga menurunkan densitas reseptor presinaptik membran adrenergik dan mereduksi ikatan neurotransmiter dengan reseptor presinaptik membran adrenergik. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi neurotransmiter di celah sinaptik yang menyerupai kerja dari antidepresan. [2,6]

stjohnwortcomp

Efektivitas St. John’s Wort sebagai Terapi Depresi

Sebuah telaah sistematik terhadap kasus depresi ringan hingga sedang menunjukkan dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan placebo, kelompok SJW menunjukkan lebih banyak yang masuk kategori menunjukkan respons terapi (RR 0.65; CI 0.51,0.84; I2 79%) dan penurunan skor depresi. Respons terapi berarti penurunan 50% dari Hamilton Rating Scale for Depression scores (HAM-D). Sementara perbandingan antara kelompok SJW dengan kelompok yang mendapat antidepresan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna terhadap respons terapi (RR 0.99; CI 0.88, 1.11, I2 53%). [1]

Hasil ini juga didukung oleh telaah sistematik lain yang dilakukan Cui et al. tahun 2006 yang membandingkan efektivitas ekstrak SJW dengan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI). Penelitian tersebut menyebutkan tidak terdapat perbedaan bermakna ekstrak SJW dengan SSRI terhadap respons klinis, remisi dan rerata penurunan skor HAM-D pada kasus depresi ringan hingga sedang. [2]

Jenis ekstrak dan dosis yang digunakan dalam penelitian bervariasi, dengan kisaran 240 - 1800 mg/hari. Perbandingan waktu penggunaannya pun bervariasi dengan kisaran 4 - 12 minggu.[1,2,4] Hal ini menunjukkan belum ada standarisasi jenis ekstrak dan dosis yang dipergunakan.[4] Selain itu belum terdapat penelitian yang membandingkan perubahan efektivitas dengan lama penggunaan ataupun mengenai berapa lama penggunaan SJW menunjukkan efeknya. Dosis dengan rentang variasi yang luas sebenarnya menunjukkan SJW  dapat dikategorikan memiliki jendela keamanan yang luas, namun belum ada penelitian yang mencari dampak penggunaan jangka panjang SJW.

Profil Keamanan St. John’s Wort

Terdapat bukti yang menunjukkan bila dibandingkan plasebo, St. John’s wort lebih tinggi potensi terjadinya adverse events (OR 0.83; CI 0.62, 1.13). Adverse events spesifik yang dapat timbul berupa gangguan sistem saraf dan gangguan sistem organ (mata, telinga, liver, renal, reproduktif). Sementara dibandingkan antidepresan, dikatakan antidepresan lebih tinggi potensinya dalam menimbulkan adverse events (OR 0.67; CI 0.56, 0.81). [1]

Ekstrak SJW jika dibandingkan SSRI lebih jarang menimbulkan adverse events, terutama mulut kering dan konstipasi, serta tidak menyebabkan hendaya memori. Hal ini sering diperkirakan lebih menguntungkan jika dipergunakan pada penderita dengan usia yang lebih tua. Selain adverse events yang lebih rendah, terdapat bukti timbulnya angka kejadian putus zat (antidepresan) yang lebih rendah pada penggunaan ekstrak SJW. [2,4]

Peresepan di Indonesia

Mengacu pada European Pharmacopoeia dan Traditional Herbal Registration (THR) negara-negara di Eropa dan Inggris, SJW telah terdaftar dan disetujui sebagai obat. Penggunaannya sendiri dapat bersifat diresepkan ataupun sebagai obat over the counter (OTC) untuk terapi depresi ringan hingga sedang. Adapun peredaran luas bahan yang tidak standar terutama di internet tidak dapat dikategorikan sebagai obat. [3]

Mengacu pada peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak tahun 2004, SJW masuk ke dalam daftar bahan yang dilarang digunakan dalam suplemen makanan maupun obat tradisional. [7] Hal ini berarti SJW belum disetujui untuk digunakan di Indonesia.

Interaksi St. John’s Wort dengan Antidepresan

Kandungan Hipericin, hiperforin dan glikosida flavanol bersifat mereduksi absorbsi intestinal dan bioavailabilitas obat sehingga mencetuskan terjadinya intestinal multidrug resistance 1 gene expression (MDR1, ABCB1) dan sitokrom CYP3A4 (baik di intestinal dan liver), serta sitokrom isoform lainnya. Hiperforin merupakan zat yang diduga kuat dapat berperan tunggal sebagai induktor CYP3A4, CYP2C9 dan CYP2C19, walaupun interaksi SJW terhadap obat lain belum sepenuhnya dipahami. [5,6,8,9]

Hingga saat ini belum diketahui berapa banyak kandungan zat aktif pada masing-masing obat yang beredar. [4,6] Namun, terdapat data penelitian yang menunjukkan dosis oral 900 mg ekstrak SJW pada orang sehat mengandung 18 mg hiperforin, sedangkan dosis oral 300 mg ekstrak SJW mengandung 14.8 mg hiperforin. Masa paruh kandungan ini diperkirakan mencapai 18 jam. [6] Adapun data lain yang menunjukkan bahwa produk dengan kandungan <1 mg hiperforin dianggap memiliki risiko minimal untuk berinteraksi dengan obat lain dengan substrat p-glikoprotein atau CYP3A4. Selain itu mengingat risiko interaksi yang besar, maka disarankan dosis ekstrak SJW yang dipergunakan tidak mengandung lebih dari 1 mg hiperforin/ hari. [6,8]

Terdapat regulasi yang mengatur bahwa penggunaan ekstrak SJW dibatasi untuk tidak digunakan bersama antidepresan karena risiko terjadinya interaksi obat, walaupun tidak diketahui apakah pembatasan ini juga berlaku untuk ekstrak dengan kandungan hiperforin < 1mg/ hari. [4,6] Interaksi yang diperkirakan berupa pelemahan kerja antidepresan. Penggunaan bersama golongan SSRI juga dianggap berisiko tinggi dalam menimbulkan sindrom serotonin akibat terjadi peningkatan berlebih konsentrasi serotonin di celah sinaptik. Sindrom serotonin dikarakteristikan sebagai perubahan status mental atau agitasi akibat instabilitas hemodinamik, disfungsi otonom termasuk hipertermia dan dapat berakibat fatal bila tidak ditangani. [4]

Kesimpulan

Ekstrak SJW terbukti memiliki efektivitas yang sama dengan antidepresan khususnya SSRI pada kasus depresi ringan sampai sedang. Dibandingkan antidepresan, ekstrak SJW juga memiliki profil keamanan yang lebih baik dengan angka kejadian adverse events yang lebih rendah. Namun, hingga saat ini belum terdapat standarisasi penggunaan jenis ekstrak dan dosis yang digunakan. Selain itu terdapat risiko terjadinya interaksi ekstrak SJW dengan obat antidepresan yang diresepkan  yang dapat menyebabkan sindrom serotonin dan secara potensial membahayakan jiwa. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah belum terdapat regulasi yang menyetujui penggunaannya di Indonesia.

Referensi